Pemanasan Global Picu Ledakan Populasi Lalat

Oleh Giovani Dio Prasasti pada 22 Feb 2019, 17:00 WIB
Diperbarui 23 Feb 2019, 08:15 WIB
ilustrasi pemanasan global (AP/J David)

Liputan6.com, Jakarta Secara tidak disadari, pemanasan global bakal memengaruhi kesehatan kita. Beberapa peneliti menemukan adanya kemungkinan ledakan populasi lalat yang bakal meningkatkan keracunan makanan di masyarakat. 

Mengutip The Independent pada Jumat (22/2/2019), para ilmuwan memprediksi bakal ada ledakan populasi lalat. Hewan ini sangat sensitif terhadap perubahan cuaca dan berkembang di suhu yang lebih hangat.

"Ketika suhunya lebih hangat, telur-telur menetas jauh lebih cepat yang berarti populasinya bisa meningkat dengan cepat" tulis Melanie Cousins, mahasiswa pascasarjana yang melakukan studi tersebut sebagai bagian dari tesisnya di University of Guelph, Kanada.

Cousins mengatkaan, proyeksi peningkatan suhu dan meningkatnya durasi musim yang lebih hangat bisa bermanfaat bagi lalat. Akibat tingkat emisi gas rumah kaca yang tinggi, peningkatan populasi hewan tersebut pun bisa mengalami kenaikan.

Jika hal itu terjadi, kasus keracunan makanan akibat Campylobacter bisa meningkat di tahun 2080.

Saksikan juga video menarik berikut ini:

 

2 dari 2 halaman

Meningkatnya populasi lalat

Cara Mengusir Lalat Secara Alami
Populasi lalat meningkat akibat pemanasan globali (sumber: istockphoto)

 

Cousins dan rekan-rekannya sendiri menggunakan data dari wilayah Ontario, Kanada. Mereka membuat model dan data tentang tingkat penyakit dari 12 tahun terakhir untuk memastikan akurasinya. Temuan mereka ini dipublikasikan di jurnal Royal Society Open Science.

Dalam sebuah studi lain yang dipublikasikan di jurnal Biological Conservation menemukan, spesies seperti lalat rumah cenderung tumbuh subur akibat suhu yang semakin panas dan kebalnya mereka dari pestisida. Selain itu, hal tersebut bisa terjadi karena banyaknya pesaing dan predator mereka banyak yang musnah karena pertanian intensif dan penggunaan racun.

"Kecuali kita mengubah cara memproduksi makanan, serangga secara keseluruhan akan mengalami kepunahan dalam beberapa dekade," kata Francisco Sanchez-Bayo dari University of Sydney’s School of Life and Environmental Sciences.

Lanjutkan Membaca ↓