Jatuh Cinta Bisa Bikin Kecanduan

Oleh Giovani Dio Prasasti pada 17 Feb 2019, 11:00 WIB
Diperbarui 17 Feb 2019, 11:00 WIB
Wanita yang membuat pria jatuh cinta
Perbesar
Jatuh cinta ternyata bekerja seperti kecanduan. (iStockphoto)

Liputan6.com, Jakarta Jatuh cinta membuat orang merasakan sensasi yang sama seperti ketika dia kecanduan obat-obatan. Beberapa penelitian telah membuktikan tentang bagaimana mekanisme neurobiologis seperti ini bekerja.

Mengutip Medical News Today pada Sabtu (15/2/2019), efek jatuh cinta pada otak manusia mirip dengan kecanduan kokain. Penelitian mengungkapkan bahwa cinta memicu pelepasan dopamin, neurotransmitter yang dijuluki hormon "seks, obat-obatan, dan rock'n'roll." Tubuh melepaskannya ketika seseorang melepaskan kegiatan yang menyenangkan.

Secara menyeluruh, dilihat dari sudut pandang neurologis, cinta mengaktifkan sirkuit otak dan mekanisme penghargaan yang sama ketika seseorang terkena kecanduan. Sebuah eksperimen yang dilakukan antropolog biologi dari Kinsey Institute, University of Indiana, Helen Fisher menggambarkan hal ini.

Dalam studi itu, Fisher dan rekan-rekannya bertanya pada 15 peserta yang mengatakan bahwa mereka merasakan cinta ketika melihat gambar pujaan hati yang menolaknya. Saat itu dilakukan, para ilmuwan memindai otak peserta dengan mesin MRI.

Simak juga video menarik berikut ini:

 

2 dari 2 halaman

Kecanduan cinta

5 Hal yang Harus Anda Tahu Sebelum Jatuh Cinta Pada Si Anak Mama
Perbesar
Jatuh cinta ternyata bekerja seperti kecanduan. (iStockphoto)

Ditemukan tingginya aktivitas otak di bagian yang terkait kecanduan kokain, "untung dan rugi", keinginan, motivasi, dan regulasi emosi. Daerah tersebut termasuk tegmental ventral, ventral striatum, medial dan lateral orbitofrontal / korteks prefrontal, dan cingulate gyrus.

"Aktivasi area yang terlibat dalam kecanduan kokain membantu menjelaskan perilaku obsesif terkait dengan penolakan dalam percintaan," tulis Fisher.

Beberapa perilaku ini termasuk perubahan suasana hati, keinginan, obsesi, distorsi realitas, ketergantungan emosional, perubahan kepribadian, pengambilan risiko, dan hilangnya kontrol diri.

Sementara itu, dalam sebuah artikel berjudul "Addicted to love: What is love addiction and when should it be treated?" Brian Earl dan timnya dari Oxford Centre for Neuroethics di Inggris menuliskan bahwa orang yang jatuh cinta berada dalam spektrum dari kondisi adiktif.

"Kecanduan pada orang lain bukanlah penyakit, tapi hanya hasil dari kapasitas manusia yang mendasar yang terkadang bisa dilakukan secara berlebihan," tulis para peneliti.

"Sekarang ada banyak perilaku, neurokimia, dan bukti neuroimaging untuk mendukung klaim bahwa cinta adalah (atau setidaknya bisa menjadi) kecanduan, dalam banyak cara yang sama seperti perilaku mencari obat kronis yang disebut kecanduan."

Lanjutkan Membaca ↓