Tak Mengapa Kalau Kamu Sebal Hari Valentine, Ini Alasannya

Oleh Fitri Syarifah pada 14 Feb 2019, 21:00 WIB
Diperbarui 16 Feb 2019, 17:13 WIB
Cokelat jadi kado Valentine (iStockPhoto)

Liputan6.com, Jakarta Semua orang tahu, setiap 14 Februari kerap dimaknai sebagai hari kasih sayang atau Hari Valentine. Namun siapa sangka, ada yang menganggap romantis (43%), tapi tak sedikit juga yang menilai berlebihan (57), berdasarkan survei yang dilakukan orang Amerika pada 2017.

Dalam beberapa literatur ilmiah, Hari Valentine bahkan hanya dicap sebagai ajang lomba bisnis yang bisa "meracuni" konsumen. Laman Livescience bahkan melaporkan beberapa hal yang mungkin bisa menggugah Anda untuk tidak berlebihan merayakan Valentine.

1. Strategi pemasaran

Beberapa studi mengisyaratkan, Valentine hanyalah gagasan yang disebut "teori resistensi" yang membuat seseorang tidak memiliki pilihan dan harus mematuhi aturan yang sudah ada.

Dalam studi 2008 yang diterbitkan Journal of Business Research, Hari Valentine dianggap sebagai waktu yang tepat bagi pebisnis untuk mengeruk keuntungan dari konsumen. Hal ini terbukti dengan survei yang dikumpulkan antara tahun 2000-2006, seseorang seperti wajib memberi sesuatu pada pasangannya. Padahal hal ini bisa membunuh makna dari hadiah tertentu.

Dalam survei tersebut, 88 persen pria dan 75 persen wanita masih memberikan sesuatu meskipun hadiah itu adalah barang buatan tangan atau sekadar makan malam buatan rumah. Mereka menganggap itu bukti cinta.

Valentine juga sepertinya membuat orang untuk segera menjalin hubungan baru. Sebanyak 81 persen pria dan 50 persen wanita juga melaporkan merasa wajib untuk memberikan hadiah. Sementara itu, beberapa single menjadi tersingkirkan di Hari Valentine

 

Saksikan juga video berikut ini:

 

2 of 2

Tidak membuat perubahan pada hubungan

Valentine
Ilustrasi Foto Hari Kasih Sayang (Valentine Day). (iStockphoto)

2. Tidak membuat perubahan pada hubungan

Terlepas dari status hubungan, Hari Valentine mungkin dianggap bisa meningkatkan keintiman. Namun sebuah studi tahun 2014 mensurvei individu yang terhubung secara online tentang bagaimana Hari Valentine memengaruhi penilaian mereka terhadap pasangannya.

Hasilnya, pasangan yang memiliki masalah diminta mengingat kembali romansa dalam hubungannya. Tapi ternyata hubungannya tidak juga membaik.

"Salah satu pesan utama dari makalah ini adalah Hari Valentine sebenarnya tidak membuat perbedaan bagi kebanyakan orang," tutur penulis studi William Chopik, seorang ilmuwan sosial di Michigan State University.

3. Anda menjadi sedikit melodramatik

Sebuah studi 2010 pernah meminta peserta untuk melaporkan bagaimana perasaan mereka tentang Hari Valentine pada pertengahan Januari. Pada 16 Februari, peserta yang sama kembali ditanya tentang Hari Valentine.

Para peneliti menemukan, ekstrovert cenderung melihat emosi masa depan mereka melalui cahaya yang lebih cerah, sementara orang-orang dengan kecenderungan neurotik cemas cenderung merasa sangat buruk tentang Valentine (terutama jika mereka masih lajang). Ternyata benar bahwa ekstrovert merasa lebih baik tentang Hari Valentine. Tapi kenyatannya, kedua kelompok tersebut dinilai melebih-lebihkan respons emosional mereka.

 

Lanjutkan Membaca ↓