Ilmuwan Ini Klaim Bisa Temukan Obat Kanker di 2020

Oleh Giovani Dio Prasasti pada 31 Jan 2019, 13:00 WIB
Diperbarui 01 Feb 2019, 23:13 WIB
20160205-Kanker Paru Paru-iStockphoto

Liputan6.com, Jakarta Tim ilmuwan Israel mengklaim bahwa kemungkinan mereka bisa mengembangkan sebuah pengobatan kanker di 2020. Dilaporkan Jerusalem Post, perawatan ini dikembangkan oleh Accelerated Evolution Biotechnologies di bawah CEO Dr Ilan Morad.

"Kami percaya akan mengembangkan pengobatan lengkap untuk kanker dalam setahun ke depan," ujar Kepala Dewan Perusahaan Dan Aridor seperti dilansir dari New York Post pada Rabu (30/1/2019).

Aridor mengklaim, penyembuhan yang mereka tawarkan efektif sejak hari pertama. Pengobatan ini akan berlangsung selama beberapa minggu dan tidak memiliki efek samping yang besar. Selain itu, biayanya juga jauh lebih rendah daripada perawatan lainnya.

Para ilmuwan menamakan pengobatan ini dengan MuTaTo atau Multi Target Toksin. Mereka mengklaim, konsep yang digunakan sama dengan obat yang membantu mengubah AIDS menjadi penyakit yang bisa ditangani.

Perawatan ini menggunakan kombinasi peptida (senyawa dua atau lebih asam amino yang dihubungkan dalam sebuah rantai) yang menargetkan kanker dan racun yang membunuh sel kanker. Dengan cara itu, Morad memastikan pengobatan tidak akan terpengaruh oleh mutasi.

"Sel kanker dapat bermutasi sedemikian rupa sehingga reseptor yang ditargetkan dijatuhkan oleh kanker," ungkapnya.

Selain itu, mereka mengatakan bahwa pasien kemungkinan bisa menghentikan pengobatan setelah beberapa minggu dan tidak perlu melanjutkannya sepanjang hidup mereka.

 

2 of 3

Kritikan pihak lain

Ilustrasi Pasien Kanker, Kanker, Pasien (iStockphoto)
Pasien kanker (Ilustrasi/iStockphoto)

Namun, penelitian ini mendapatkan kritik dari ilmuwan lain. Kepala Perlmutter Cander Center di NYU Langone Health, Amerika Serikat, Dr. Ben Neel mengatakan, kanker merupakan penyakit yang kompleks.

Sehingga, sangat kecil bahwa perusahaan ini telah menemukan obat kanker yang bisa menyembuhkan lebih dari satu infeksi.

"Lebih mungkin, klaim ini adalah satu lagi dari garis panjang janji palsu, tidak bertanggung jawab, dan kejam untuk pasien kanker," ujar Neel kepada The Post.

Kepala petugas medis American Cancer Society, Len Lichtenfeld mengatakan, harapan memang harus dibagikan, namun pengobatan efektif bagi kanker masih jauh. Apalagi untuk benar-benar menyembuhkan.

Selain itu, Lichtenfeld mengatakan bahwa para ilmuwan tersebut belum mempublikasikannya dalam literatur ilmiah.

"Jika kelompok ini baru memulai uji klinis, mereka mungkin memiliki beberapa eksperimen sulit ke depannya," tambah Lichtenfeld dalam sebuah blog.

3 of 3

Saksikan juga video menarik berikut ini:

Lanjutkan Membaca ↓

Live Streaming

Powered by