Jangan Abai, Alergi Makanan Bisa Mengancam Nyawa

Oleh Fitri Haryanti Harsono pada 17 Jan 2019, 12:00 WIB
Ilustrasi alergi (iStock)

Liputan6.com, Jakarta Hasil tes alergi makanan bisa saja membuat seseorang tidak percaya dan mengabaikan diagnosis dokter. Namun, cara tersebut terbilang keliru. Alergi makanan bisa berujung serius.

Pendiri Nutrition to Fit Lindsey Janeiro mengatakan, alergi makanan apalagi yang amat serius bisa mengancam jiwa.

"Mengabaikan keseriusan alergi makanan berarti Anda bisa masuk ruang gawat darurat. Alergi makanan merupakan respons terhadap sistem kekebalan," kata Janeiro, dilansir dari Well and Good, Kamis, (17 /1/2019).

Alergi makanan terkait dengan sistem kekebalan tubuh. Makanan yang menyebabkan seseorang alergi sedikit diantaranya adalah gluten, susu, kacang tanah, atau yang lainnya.

Ketika masuk ke dalam tubuh orang yang alergi terhadap makanan tersebut bisa timbulkan efek. Saat Anda menelan makanan yang membuat alergi, tubuh menciptakan antibodi untuk melindungi dirinya dari sesuatu yang dianggap berbahaya.

"Reaksi alergi inilah yang terjadi ketika tubuh melindungi diri dari sesuatu yang dianggap berbahaya," jelas Janeiro.

Beberapa reaksi alergi dialami berbeda-beda dengan orang. Ada yang mengalami ruam dan bibir bengkak. Pada kasus yang parah, reaksi alergi dapat menyebabkan gagal jantung.

 

 

Saksikan video menarik berikut ini:

2 of 2

Beda dengan sensitivitas makanan

Ilustrasi diare (iStockphoto)
Gejala sensitivitas makanan bisa terjadi beberapa hari berikutnya. (iStockphoto)

Adakalanya seseorang tidak bisa membedakan antara alergi dan sensitivitas makanan. Sensitivitas makanan atau yang dikenal dengan sensitivtias makanan adalah respons makanan pada pencernaan.

"Secara umum, gejalanya tidak separah reaksi alergi," lanjut Janeiro.

"Orang-orang yang tidak toleran laktosa, misalnya, tubuhnya tidak membuat cukup laktase, enzim pencernaan yang diperlukan untuk memecah laktosa."

Beberapa kondisi sensitivitas makanan bisa menyebabkan peradangan pada usus, yang menembus lapisan usus. Kondisi ini menimbulkan irritable bowel syndrome (IBS)--penyakit pencernaan yang memengaruhi kerja usus besar.

Janeiro mencatat, sensitivitas makanan menimbulkan penyakit celiac--penyakit autoimun yang terjadi akibat mengonsumsi gluten. Walaupun mirip dengan alergi makanan karena melibatkan sistem autoimun, penyakit celiac juga memengaruhi sistem kekebalan.

Kondisi itu akan merusak usus halus setelah mengonsumsi gluten dalam jumlah kecil. Seseorang akan mengalami diare, mulas, ruam kulit, kelelahan, dan kekurangan gizi.

Bila seseorang alergi makanan maka reaksi alergi langsung seketika terjadi. Sementara, reaksi sensitivitas makanan bisa terjadi segera atau mungkin terjadi hingga beberapa hari berikutnya.

Lanjutkan Membaca ↓