Awas, Orang yang Malas Sarapan Berisiko Kena Penyakit Ini

Oleh Fitri Syarifah pada 11 Jan 2019, 07:00 WIB
Diperbarui 25 Sep 2019, 19:09 WIB
Sarapan Pagi Breakfast

Liputan6.com, Jakarta Ahli gizi, dokter, dan orangtua telah memberi tahu bahwa sarapan merupakan hal penting tapi banyak yang melewataknnya. Padahal, jika melewatkan sarapan bisa memiliki dampak negatif bagi kesehatan.

Belum lama ini, pada November 2018 dalam The Journal of Nutrition dari American Society for Nutrition disebutkan bukti efek tidak sarapan. Studi ini menunjukkan bahwa melewatkan sarapan hanya satu hari dalam seminggu dapat meningkatkan risiko terkena diabetes tipe 2 sebesar 6 persen.

Menghindari makan pagi empat hingga lima hari seminggu bahkan meningkatkan risiko itu hingga 55 persen.

Kepala kelompok penelitian junior Systematic Review di German Diabetes-Center di Düsseldorf, Sabrina Schlesinger dan rekan-rekannya menganalisis informasi kesehatan dari enam studi pengamatan berbeda yang mewakili lebih dari 90.000 orang. Dari jumlah tersebut, 4.935 orang menderita diabetes.

Para ilmuwan menemukan, risiko diabetes meningkat setiap hari dalam seminggu. Kemungkinan terkena diabetes tipe 2 secara keseluruhan 32 persen lebih tinggi bagi mereka yang pernah melewatkan sarapan dibandingkan dengan mereka yang tidak pernah melewatkan sarapan.

Peneliti melihat risiko diabetes yang lebih tinggi terlepas dari berat badan orang tersebut.

"Bahkan setelah memperhitungkan (Indeks Massa Tubuh) atau BMI, melewatkan sarapan berkaitan dengan peningkatan risiko diabetes," kata Dr Schlesinger.

 

2 of 4

Orang kurus dan gemuk sama-sama berisiko diabetes

Hasil studi menunjukkan bahwa orang dengan berat badan berapa pun yang tidak makan pagi hari masih memiliki kemungkinan lebih tinggi terkena diabetes.

"Ini penting karena kebanyakan orang berpikir bahwa sarapan selalu identik dengan kelebihan berat badan atau obesitas, dan ini bisa menjadi penyebab peningkatan risiko diabetes tipe 2," kata Osama Hamdy, MD, PhD , direktur medis Program Obesity Clinical di Harvard Medical, seperti dimuat EverydayHealth.

Penulis penelitian juga menunjukkan, peningkatan risiko diabetes juga terjadi pada mereka yang akhirnya merokok, kurang berolahraga dan minum lebih banyak alkohol.

"Orang yang melewatkan sarapan juga akhirnya makan lebih banyak kalori total sepanjang hari, yang telah ditunjukkan dalam banyak penelitian," kata Jan Rystrom, RD, pakar diabetes di Swedish Medical Center di Seattle.

Rystrom merekomendasikan bahwa penderita diabetes makan tiga hingga lima kali sehari, dengan interval tiga hingga lima jam sepanjang hari. Makan teratur membantu menjaga kontrol gula darah.

 

 

3 of 4

Cara mengurangi risiko

Investigasi ilmiah lain menunjukkan manfaat tambahan dari sarapan sehat. Sebuah artikel yang diterbitkan pada November 2012 di American Journal of Lifestyle Medicine menyarankan orang-orang muda yang makan sarapan secara teratur cenderung memilih makanan yang lebih sehat sepanjang hari dan memiliki kontrol berat badan yang lebih baik daripada mereka yang tidak, sehingga mengurangi risiko diabetes.

Selain itu, American Heart Association mengatakan bahwa makan pagi menurunkan risiko penyakit jantung, penyakit pembuluh darah dan stroke .

Di sisi lain, beberapa penelitian, seperti dalam sebuah artikel yang diterbitkan pada Mei 2015 di International Journal of Obesity menyarankan bahwa melewatkan sarapan dapat memiliki manfaat kesehatan sebagai bagian dari program puasa intermiten.

 

 

4 of 4

Sarapan bagi diabetesi

Sarapan Pagi Makan Pagi Breakfast
Ilustrasi Foto Sarapan (iStockphoto)

Rystrom mengatakan, sarapan sehat bagi diabetesi mencakup; karbohidrat yang dikombinasikan dengan protein tanpa lemak dan sayuran, seperti sayuran dengan telur dan roti gandum, atau yoghurt Yunani biasa dengan blueberry, kacang dan biji chia.

Dia mengatakan diabetesi perlu menghindari sarapan seperti sereal yang terbuat dari biji-bijian, susu, jus, dan roti putih.

"Itu adalah sarapan yang dapat meningkatkan lonjakan gula darah," katanya.

Lanjutkan Membaca ↓