Saran KPAI agar Edukasi Bencana Tidak Membebani Anak

Oleh Giovani Dio Prasasti pada 09 Jan 2019, 12:00 WIB
Diperbarui 09 Jan 2019, 12:00 WIB
Simulasi Tsunami
Perbesar
Para murid menggunakan tas untuk pelindung dalam latihan tsunami di Meulaboh (5/9). Sebanyak 24 negara yang berbatasan dengan Samudra Hindia, dari Australia hingga Yaman, mengambil bagian dalam latihan kesiapsiagaan bencana dua tahunan. (AFP Photo/Januar)

Liputan6.com, Jakarta Baru-baru ini Presiden Joko Widodo menginstruksikan agar edukasi kebencanaan untuk mulai dilakukan di sekolah-sekolah hingga perguruan tinggi. Sehingga, masyarakat lebih tanggap dan sadar dalam menghadapi bencana yang sewaktu-waktu terjadi.

Terkait ini, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menyatakan apresiasi dan persetujuannya. Dalam pernyataan resminya, KPAI juga mengusulkan beberapa cara agar pendidikan kebencanaan tidak membebani mata pelajaran yang sudah ada.

"Agar lebih terstruktur dan sistematis, maka materi pendidikan kebencanaan bisa dimasukkan dalam mata pelajaran yang sudah ada seperti IPS/IPA (SD), IPS/IPA terpadu (SMP) dan fisika dan geografi (SMA/SMK)," kata Komisioner Bidang Pendidikan KPAI Retno Listyarti dalam rilis yang diterima Health Liputan6.com pada Rabu (9/1/19).

Retno mengatakan dalam beberapa pelajaran tersebut, ada materi yang berkaitan dengan bumi, gempa tektonik, gempa vulkanik, tsunami dan lain-lain. Maka dari itu, pengetahuan dan informasi tentang kebencanaan dan upaya menghadapinya bisa ditambahkan saat pembahasan materi-materi tersebut.

 

Saksikan juga video menarik berikut ini:

 

Dilakukan secara rutin

Simulasi tanggap darurat bencana rutin dilakukan BPBD dan kementerian terkait untuk melatih warga di desa-desa yang berisiko tinggi bencana. (Foto: Liputan6.com/Muhamad Ridlo)
Perbesar
Simulasi tanggap darurat bencana rutin dilakukan BPBD dan kementerian terkait untuk melatih warga di desa-desa yang berisiko tinggi bencana. (Foto: Liputan6.com/Muhamad Ridlo)

Retno juga menambahkan, terkait simulasi soal apa yang harus dilakukan saat terjadi bencana, pemerintah wajib melatih para guru dan kepala sekolah agar bisa mempraktekkan di sekolahnya secara rutin. Misalnya sebulan sekali.

"Tujuannya agar anak-anak sejak dini sudah dididik untuk siap menghadapi bencana," kata Retno.

Selain itu, KPAI meminta pemerintah daerah memastikan jalur evakuasi dan titik kumpul ada di semua sekolah. Apabila jalur ini tidak ada, sulit untuk melakukan simulasi bencana. Retno menambahkan, simulasi semacam ini juga penting untuk meminimalisasi korban.

 

Jokowi: Kita tinggal di cincin api

Mengutip laman Kementerian Sosial Republik Indonesia kemsos.go.id, dalam pengantar rapat kabinet paripurna di Istana Negara pada Senin lalu, Jokowi mengatakan bahwa sebagai sebuah negara yang tinggal di cincin api, masyarakat Indonesia harus sigap dan tangguh dalam menghadapi kemungkinan bencana alam.

Jokowi juga meminta agar jajaran terkait mulai memperkenalkan dan memberikan edukasi terkait mitigasi bencana sejak dini.

"Saya juga minta agar edukasi kebencanaan ini betul-betul dikerjakan secara baik dan konsisten, dilakukan sejak dini, dan masuk dalam muatan yang diajarkan dalam sistem pendidikan kita sehingga betul-betul kita siap dalam menghadapi setiap bencana yang ada," kata Jokowi.

Jokowi Pimpin Rapat Terbatas Penanganan Korban Gempa Sulawesi Tengah
Perbesar
Presiden Joko Widodo atau Jokowi (kiri). (Liputan6.com/Angga Yuniar)
Lanjutkan Membaca ↓