Dianggap Flu Biasa, Bocah Ini Malah Idap Penyakit Langka Berakhir Lumpuh

Oleh Fitri Haryanti Harsono pada 04 Jan 2019, 09:00 WIB
Diperbarui 05 Jan 2019, 19:13 WIB
Ilustrasi anak sakit

Liputan6.com, Amerika Serikat Pada awalnya flu biasa, lalu dengan cepat berubah menjadi penyakit langka, yang menyebabkan lumpuh pada lengan kanan Easton Vrieze (4). Penyakit langka diderita Easton tersebut diduga Acute flaccid myelitis (AFM).

Penyakit langka AFM telah ada 10 kasus yang dikonfirmasi, yang menyebabkan kelumpuhan pada anak kecil di negara bagian Washington, Amerika Serikat. Sebagian besar pasien mengalami infeksi pernapasan ringan atau demam sebelum terserang penyakit.

Pada tahun 2017, ada satu anak yang meninggal. Bagi ibu Easton, Lesley Vrieze, anaknya memgembangkan penyakit secara mengejutkan. Easton adalah anak yang aktif dan hobi bersepeda atau bermain olahraga. Sehat, divaksinasi, dan tidak punya alergi.

Namun, beberapa hari, flu Easton berubah menjadi diagnosis AFM pada 21 Oktober 2018.

"Kami memang tidak mengira pada 19 Oktober 2018 (hari kelima sakit) saat dia bangun pagi dan tidak bisa menggerakkan lengan kanan. Dia juga mengalami gejala seperti flu," kata Lesley, dikutip dari Komonews, Kamis (3/1/2019).

Para dokter di Mary Bridge Children’s Hospital, Tacoma, melakukan serangkaian tes, dari pemeriksaan darah hingga rontgen. Awalnya, dokter tidak mengenalinya sebagai AFM. Dokter mengira, bocah lelaki menderita flu.

Sayangnya, keesokan hari Easton mengalami sakit punggung dan leher. Gejala tersebut baru dideteksi kalau bocah itu kena penyakit langka AFM. Easton segera mendapatkan perawatan berupa rehabilitasi. Menurut CDC Incident Manager untuk AFM Response, Tom Clark, rehabilitasi seperti terapi fisik dan latihan terapi okupasi dapat mengembalikan fungsi otot.

 

 

Saksikan video menarik berikut ini:

2 dari 3 halaman

Rehabilitasi efektif

Anak Sakit
Rehabilitasi efektif dilakukan dan perlahan-lahan fungsi otot kembali. copyright shutterstock.com

Terapi fisik untuk Easton sejauh ini efektif. Rehabilitasi mengembalikan fungsi dari siku ke ujung jari, tetapi dari siku ke bahu masih belum maksimal.

"Banyak dokter di rumah sakit memberikan skenario kasus yang lebih buruk dan banyak dari mereka mengatakan, kondisi ini bisa menjadi kerusakan permanen," kata Lesley. "Anak-anak lain terkena dampak AFM lebih parah, mereka lumpuh dari leher ke bawah."

Namun, Easton sangat beruntung. Ia menjadi salah satu yang lebih beruntung. Hingga saat ini, penyebab, virus, dan bakteri yang mengakibatkan AFM belum ditemukan.

"Aku harap dapat tahu cara apa yang menyebabkannya dan bagaimana mencegahnya. Setidaknya, kita punya kesadaran yang cukup untuk melihat tanda-tanda. Itulah yang aku inginkan," ujar Lesley.

3 dari 3 halaman

Merebak 2014

Ilustrasi Sahur, Bangun Sahur, Tidur, Anak (iStockphoto)
Penyakit AFM merebak di AS sejak tahun 2014. (Ilustrasi/iStockphoto)

Penyakit AFM mulai merebak di AS sejak tahun 2014. Dalam laporan CDC, anak-anak terlihat lumpuh, tanpa alasan dan tidak ada indikasi penyebabnya.

Sejak ditemukan kasus pada tahun 2014, ada 508 kasus yang dikonfirmasi hingga saat ini. Setiap dua tahun sekali, jumlah kasus meningkat.

Sebagai tindak penanganan, CDC membentuk tim khusus pada November 2018 lalu untuk mencari dan menganalisis soal penyakit AFM. Hal ini juga menjadi pemikiran tim khusus dalam mengobati penyakit langka.

Lanjutkan Membaca ↓