Sapi Sumbang Pemanasan Global, Begini Inovasi Cerdik Atasinya

Oleh Fitri Haryanti Harsono pada 03 Jan 2019, 16:00 WIB
Diperbarui 03 Jan 2019, 16:00 WIB
Sapi

Liputan6.com, Jakarta Jika pemanasan global terjadi dipicu dari bahan bakar fosil dan pabrik industri, sapi juga ikut menyebabkan gas efek rumah kaca. Berdasarkan jurnal berjudul, Beef Consumption Reduction and Climate Change Mitigation, yang ditulis Elham Darbandi dan Sayed Saghaian dari University of Kentucky, Amerika Serikat, para peneliti percaya, emisi gas rumah kaca dari sektor peternakan sapi ikut menyumbang 65 persen.

Dalam hal sapi, gas metana ikut meningkatkan efek rumah kaca. Ternak berkaki empat atau istilahnya ruminansia (sapi, kambing, domba) menghasilkan gas metana yang keluar dari sendawa, kentut, dan kotoran hewan ternak. Sebagaimana dikutip dari tulisan berjudul Animal Agriculture’s Impact on Climate Change, gas metana menyumbang 16 persen dari total efek pemanasan global. Potensi pemanasan global mencapai 28 hingga 36 kali lipat, yang berujung menghasilkan karbon dioksida.

Jika gas metana tidak ditekan dari sapi, maka pemanasan global yang ada pada peternakan sapi bisa meningkat. Apalagi di Indonesia, tingkat konsumsi daging sapi digencarkan terus menerus. Hal ini bertujuan demi ketercukupan nasional terhadap kebutuhan protein hewani dari daging sapi. Kementerian Pertanian mencatat, produksi daging sapi nasional pada tahun 2018 sebesar 403.668 ton.  

Peneliti ternak Lies Mira Yusiaiti menjelaskan, ada inovasi kreatif yang bisa dilakukan peternak untuk mengurangi gas metana pada hewan ruminansia. Penggunaan teknologi Natural Methane Reducing (NMR) dari dedauan yang mengandung kandungan tannin. Tannin dapat menekan gas metana yang keluar dari sapi. Dedaunan yang digunakan meliputi daun jati (Tectona grandis), kaliandra (Calliandra calothyrsus), dan mahoni (Swietenia mahagoni).

“Tannin dalam suatu tanaman atau dedauan memiliki jenis berbeda dan tingkat kandungannya pun berbeda. Kombinasi dari berbagai jenis daun punya potensi lebih tinggi dalam menurunkan metan dibandingkan hanya memilih salah satu. Hal ini didasari jenis tannin yang punya mekanisme ikatan yang berbeda beda, tergantung dari jenis daun,” kata Lies kepada Health Liputan6.com melalui surat elektronik, ditulis Rabu (2/1/2019).

Dedaunan banyak ditemukan di sekitar lingkungan peternak, terutama di daerah pedesaan. Di pedesaan kekayaan biodiversity yang tinggi. Teknologi Natural Methane Reducing diterapkan Lies dan tim melalui program Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat (PKM) di Desa Banyusoco, Playen, Gunung Kidul dan Desa Bercak, Berbah, Sleman. Peternak sebelumnya sudah memberikan dedaunan, kearifan lokal yang ada di sekitarnya. Namun, peternak belum memahami manfaat dari daun yang diberikan.

“Peternakan sapi, misalnya, di daerah urban (dekat perkotaan) yang sering memiliki kendala dalam mendapatkan daun. Sehingga dikembangkan tanaman yang mudah tubuh dan memiliki kandungan tannin yang tinggi.  Kami mencoba memberikan bibit tanaman yang potensial menghasilkan tannin, mengidentifikasi tanaman yang sudah ada, dan memiliki kandungan tannin tinggi,” papar Lies, peneliti ternak dari Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada (UGM).

 

 

Saksikan video menarik berikut ini:

2 dari 4 halaman

Penurunan gas metana

ilustrasi pemanasan global (AP/J David)
Ada penurunan gas metana. (AP/J David)

Lies menambahkan, ia dan tim sudah melakukan penelitian menggunakan berbagai jenis tanaman. Ada lebih dari 20 jenis tanaman yang mengandung tannin dan berpotensi untuk menurunkan gas metana. Penelitian berkaitan dengan tannin dari tanaman tanaman telah meluluskan puluhan mahasiswa baik mahasiswa ditingkat sarjana maupun pascasarjana. Untuk penggunaan dedaunan dari teknologi Natural Methane Reducing, belum dikombinasikan dengan suplemen lain, baik vitamin atau mineral.

Hanya campuran dari dedaunan daun jati, kaliandra, dan mahoni saja. Teknologi NMR diteliti sudah sejak lama, hanya saja pemanfaatan secara langsung terhadap ternak belum lama dimulai. Di skala laboratorium, hasil penelitian teknologi NMR mampu menurunkan produksi metan dan meningkatkan pemanfaatan nutrien pakan.

Jika peternak sapi ingin menambahkan suplemen pada pakan dari dedaunan tersebut, maka tergantung jenis suplemen dan level pemberian. Setiap suplemen, lanjut Lies, memiliki mekanisme berbeda dalam menurunkan gas metana. Selain itu, suplemen punya batasan tertentu. Jika diberikan dalam jumlah berlebih akan menyebabkan ternak mengalami keracunan. Hasil ternak sapi yang dipantau setelah mengonsumsi dedaunan yang  mengandung tannin itu positif.

 “Terjadi penurunan produksi gas metana, yang dapat ditolerasi mencapai 50 persen. Ya, dengan catatan, tidak berpengaruh terhadap asupan fermentasi pakan ternak lainnya,” ujar Lies.

Setiap jenis ternak memiliki presentase yang berbeda. Karena setiap jenis ternak mengahasilkan metan yang berbeda, ternak sapi perah menghasilkan 151-497 g/ hari, ternak perah laktasi 354 g/ hari, ternak sapi dara 223 g/ hari, sapi potong 161-323 g/hari.

Selain teknologi NMR, ada juga cara mengurangi gas metana pada ternak ruminansia, yaity pemberian pakan fermentasi completed feed. Pakan dibuat dengan bahan dasar sumber karbohidrat, serat, dan protein. Ditambah dengan sumber mineral dan mikrobia sebagai starter (dorongan) untuk fermentasi. Bahan utama fermentasi completed feed adalah jerami yang dicacah lembut, Kemudian dicampur konsentrat dan tambahan tepung gaplek (singkong).

Kadar air campuran bahan pakan untuk fermentasi dibuat mencapai 35 sampai 45  persen. Setelah itu campuran diratakan. Campuran dimasukkan dalam tong plastic sampai padat, kemudian ditutup rapat dan didiamkan selama 14-21 hari.

 “Pakan yang jadi setelah ferementasi akan punya bau yang harum sehingga disukai ternak. Pemberian pakan fermentasi completed feed dilakukan secara bertahap terhadap ternak. Ini agar ternak dapat beradaptasi,” ungkap Lies.

3 dari 4 halaman

Sapi jadi lebih sehat

Sapi
Teknologi NMR membuat sapi jadi lebih sehat. (iStockPhoto)

Teknologi NMR dan fermentasi completed feed membuat pemanfaatan nutrient pakan dapat meningkat serta kebutuhan ternak terpenuhi secara optimal. Pemenuhan kebutuhan ternak akan membuat ternak sehat. Teknologi NMR dan fermentasi completed feed juga meningkatkan efisiensi pemanfaatan nutrien dalam saluran cerna. Perkembangan saluran cerna dapat optimal dan meningkatkan kesehatan ternak.

“Bahan pakan yang berasal dari daun untuk sumber tannin juga berperan sebagai suplemen nutrien lain, seperti protein. Pakan yang mendapat tambahan NMR akan punya kandungan nutrien lebih tinggi sehingga meningkatkan asupan nutrien bagi ternak. Yang pasti juga mampu menurunkan gas metana,” kata Lies.

Lebih dari itu, penambahan NMR akan membuat pemanfaatan nutrien pakan lebih tinggi dibandingkan tanpa NMR. Hal ini berpengaruh terhadap efisiensi penggunaan pakan sehingga akan menigkatkan produktivitas ternak. Lain halnya dengan pemberian pakan tanpa NMR. Kandungan serat terlalu tinggi dan rendah nutrien akan meningkatkan produksi gas metana.

Serat yang terlalu tinggi meningkatkan produksi hidrogen dalam ternak meningkat. Hidrogen merupakan bahan pembentuk gas metana. Kebanyakan peternak hewan berkaki empat hanya memberikan limbah pertanian, seperti jerami untuk ternak. Padahal, jerami padi mengandung serat yang tinggi. Hal inilah yang membuat produksi gas metana tinggi.

4 dari 4 halaman

Ramah lingkungan

Sapi
Teknologi NMR dan fermentasi completed feed termasuk ramah lingkungan. (iStockPhoto)

Penerapan teknologi NMR dan fermentasi completed feed termasuk ramah lingkungan. Pengembangan teknologi yang mendukung peternakan ramah lingkungan harus menjadi prioritas. Ini karena peternakan di Indonesia masih dikembangkan secara tradisional dan belum memperhatikan lingkungan. Kondisi tersebut memungkinkan peternakan juga punya andil dalam pencemaran lingkungan.

Diseminasi (penyebaran inovasi) teknologi kepada peternak memiliki peran penting untuk mendukung pembentukan peternakan ramah lingkungan. Hal ini diperlukan untuk menyiapkan peternak tradisional yang suatu saat berkembang menjadi peternak dengan skala usaha perusahaan (peternakan besar). Walaupun begitu, ada beberapa kendala penerapan teknologi NMR.

“Ya, tidak semua peternak punya mesin untuk menghasilkan teknologi NMR. Akan tetapi, keterbatasan tersebut dapat diatasi dengan pemberian pakan daun secara langsung. Hanya saja butuh jumlah yang lebih tinggi. Terkadang adaptasi ternak terhadap jenis pakan yang mengandung tannin butuh waktu bila daun diberikan dalam kondisi segar,” ungkap Lies yang juga bekerja di Laboratorium Biokimia Nutrisi Fakultas Peternakan UGM.

Di sisi lain, sosialisasi terkait pemahaman peternak ruminansia terhadap isu lingkungan atau perubahan iklim masih sangat minim. Akibatnya, berpengaruh terhadap pengelolaan peternakan yang masih ala kadarnya. Hal tersebut akan meningkatkan cemaran lingkungan dan produksi gas metana.

“Dari pendampingan masyarakat yang dilakukan, kami menemukan, sebagian besar peternak rakyat belum mengetahui pemanasan global (global warming). Kondisi tersebut berkaitan dengan tingkat pendidikan peternak yang masih rendah. Pengetahuan peternak terhadap pelaksanaan peternakan dengan manajemen yang baik dan ramah lingkungan perlu ditingkatkan agar mengurangi pencemaran lingkungan,” tutup Lies.

Lanjutkan Membaca ↓