Menyingkap Kondisi yang Mengancam Pilot Saat Terbang

Oleh Fitri Haryanti Harsono pada 23 Des 2018, 08:00 WIB
Ilustrasi pilot

Liputan6.com, Jakarta Ketika menerbangkan pesawat, ada berbagai perubahan kondisi yang dialami pilot. Perubahan kondisi tersebut bisa saja mengancam keselamatan bila pilot tidak terlatih untuk menghadapinya. Apalagi berkaitan dengan perubahan tekanan udara, tubuh pilot pun harus beradaptasi dengan perubahan yang ada.

Dokter spesialis kedokteran penerbangan, Wawan Mulyawan menjelaskan kondisi yang dialami pilot saat terbang. Yang harus dipahami secara umum adalah keadaan tekanan udara. Semakin tinggi pesawat itu terbang, semakin rendah juga tekanan udara di luar pesawat. Efek perubahan tekanan udara ikut terasa pada tubuh pilot.

“Dalam hal ini yang paling terasa adalah perubahan tekanan udara, seperti efek ke telinga. Ini dikarenakan ada perbedaan (tekanan) udara di dalam dan di luar tubuh. Kita bisa merasakannya, misal pada waktu (pesawat) mau mendarat. Telinga akan sakit. Kondisi pertama ini namanya trapped gasses, ada gas yang terjebak dalam tubuh,” jelas Wawan saat ditemui di Lembaga Kesehatan Penerbangan dan Antariksa (Lakespra) Saryanto, Jakarta pada Rabu, 12 Desember 2018.

Saat pesawat naik makin tinggi di lapisan atmosfer, tekanan udara turun, dari 760 mmHg di atas permukaan laut menjadi sekitar 550 mmHg pada ketinggian 7.000 kaki. Tekanan udara makin rendah 380 mmHg pada ketinggian 18.000 kaki. Penurunan tekanan udara menyebabkan setiap gas menyebar untuk menggandakan volume pada suhu yang sama. Ini menciptakan potensi adanya ekspansi gas yang terjebak di dalam tubuh manusia, yang mana tubuh manusia mempertahankan suhu tetap (konstan) 37 derajat Celcius.

Hampir semua organ bagian tubuh menjadi area gas yang terjebak. Setiap kali ada gas terjebak, biasanya gas mampu beredar dan keluar dari tubuh sendiri. Tetapi dalam kondisi fisiologis yang abnormal (di dalam pesawat dengan tekanan udara rendah), kemampuan gas untuk keluar menjadi hilang. Akibatnya, pilot bisa didera masalah kesehatan dalam penerbangan. Berdasarkan informasi Federal Aviation Administration (FAA) Amerika Serikat, gas yang terjebak didefinisikan sebagai gas di dalam tubuh manusia yang tidak dapat beradaptasi dengan dunia luar.

Gas di dalam paru-paru tidak terjebak. Tapi gas di dalam perut dan saluran pencernaan berpotensi terjebak. Hal ini dipengaruhi peristaltik (gerakan yang terjadi pada otot-otot saluran pencernaan yang menimbulkan gerakan semacam gelombang) dan perdarahan. Bagian yang paling umum terkena adalah telinga bagian tengah dan sinus (rongga kecil yang saling terhubung melalui saluran udara di dalam tulang tengkorak.

 

 

Saksikan video menarik berikut ini:

2 of 4

Trapped gasses yang berujung penyakit dekompresi

Ilustrasi pesawat (iStock)
Trapped gasses yang berujung dekompresi bisa terjadi. (iStock)

Ketika trapped gasses terjadi, penyakit dekompresi (decompression sickness) bisa menghantui nyawa pilot. Dekompresi terbentuk karena adanya gelembung nitrogen, yang terbentuk di sendi. Gelembung tersebut terjebak di dalam tubuh. Kondisi ini sering terjadi pada penyelam. Dekompresi terbagi atas 'Tipe 1' dan 'Tipe 2.'

Sebagaimana dilansir Scuba Diver Life, gejala penyakit dekompresi Tipe 1 umumnya lebih ringan. Gejalanya berupa nyeri muskuloskeletal, seperti nyeri persendian di siku atau lutut. Ada gejala kulit, seperti ruam dan gatal ringan, yang dapat muncul di area tubuh, yakni sekitar perut, dada atau bahu. Terkadang penyakit dekompresi Tipe 1 dikaitkan dengan obstruksi sistem limfatik (penumpukan cairan). Ada penumpukan cairan di jaringan sekitar kelenjar getah bening, misal ketiak, di belakang telinga atau daerah selangkangan bisa menjadi menyakitkan.

Nyeri yang lembut dan berdenyut di siku yang dibiarkan bisa meningkatan keparahan. Pada gejala Tipe 2 yang jauh lebih serius dan berpotensi mengancam jiwa, yang menyangkut area telinga bagian dalam, neurologis (otak), dan cardiopulmonary (jantung dan paru-paru). Gejala telinga bagian dalam mungkin sensasi tinnitus (dering di telinga) atau gangguan pendengaran. Kerusakan telinga bagian dalam juga dipengaruhi pusing atau vertigo, yang menyebabkan gangguan keseimbangan, mual, dan muntah.

Gejala neurologis termasuk mati rasa, sensasi menusuk pada tungkai atau kelemahan otot. Kondisi ini mengakibatkan kesulitan berjalan dan mendukung berat badannya. Kontrol otak terhadap tubuh dapat berkurang. Gejala cardiopulmonary meliputi batuk kering dan kesulitan bernapas. Beberapa pasien melaporkan, nyeri di dada di belakang tulang dada dan menderita dyspnea (susah payah untuk bernapas). Penyakit dekompresi dapat mengganggu kemampuan fungsi paru-paru.

“Trapped gasses bisa akibatkan decompression sickness. Kondisi ini bisa sebabkan orang sampai meninggal. Ya, itu dua hal utama yang mengancam nyawa,” Wawan melanjutkan.  

3 of 4

Kekurangan oksigen dan disorientasi arah

Ilustrasi
Kekurangan oksigen dan disorientasi arah pada pilot. (dok. unsplash.com/Asnida Riani)

Kondisi kedua yang mengancam keselamatan pilot masih dipengaruhi tekanan udara yang turun. Dalam hal ini, kemampuan untuk menarik napas akan kurang. Semakin tinggi terbang dan tekanan udara rendah, maka kadar oksigen akan berkurang. Pilot dapat mengalami kekurangan oksigen.

“Kekurangan oksigen ini namanya hipoksia. Efek hipoksia bisa  sampai menyebabkan kematian,” ujar Wawan.

Dalam bentuk ekstrem, yang mana sepenuhnya oksigen  tidak ada disebut anoksia. Ada empat jenis hipoksia, yaitu tipe hipoksemik, yang mana tekanan oksigen dalam darah menuju jaringan tubuh terlalu rendah. Kedua, jenis anemia, yang mana jumlah hemoglobin terlalu sedikit dan kapasitas darah yang membawa oksigen. Ketiga hipoksia stagnan, darah mungkin normal tetapi aliran darah ke jaringan berkurang atau tidak merata. Keempat histotoxic, sel-sel jaringan tidak dapat menggunakan oksigen dengan tepat.

Selanjutnya, Wawan menyebut, kondisi ketiga yang berbahaya bagi pilot. Pilot bisa mengalami disorientasi arah. Pada tahap ini, pilot tidak dapat mengontrol dan mengendalikan pesawat dengan baik. Pilot pun kehilangan arah untuk menerbangkan pesawat.

“Di ketinggian kan tidak ada jalan tol dan jalan mobil. Jadi, sebenarnya, pesawat itu jalan tidak ada track dan lintasannya. Hingga pilot dan kopilot bisa salah arah saat lihat ke depan, belakang, atas, dan bawah. Telinga kita dan keseimbangan sistem tubuh juga bisa mengecoh saat terbang. Bisa saja perasaan kita sedang naik, tapi sebenarnya pesawat sedang lurus,” jelas Wawan.

Contoh disorientasi arah juga terlihat saat pesawat yang seharusnya berjalan lurus malah menukik. Pilot menurunkan tuas sehingga pesawat menukik. Keempat, berhubungan dengan alam. Ketika terbang di ketinggian, gangguan terhadap kegelapan lebih spesifik. Apalagi dihadapkan dengan masalah kekurangan oksigen. Jika terbang malam, maka penglihatan pilot bisa saja terganggu. Padahal, kalau di darat, penglihatan masih normal.

“Penglihatan kita berbeda saat terbang gelap. Kunci untuk menangani terbang gelap dan disorientasi arah itu pilot harus percaya instrument (tombol dan kendali kontrol yang ada di kokpit). Jangan percaya pada telinga, mata,  dan perasaan. Tapi percaya pada instrumen yang ada di depan matanya,” Wawan menjelaskan.

4 of 4

Instrumen dan Valsafa manuver

Ilustrasi kokpit
Pilot harus percaya instrumen yang ada di depannya.

Selama menerbangkan pesawat, pilot harus percaya pada instrumen untuk mengontrol pesawat. Menurut Wawan, instrumen adalah alat yang sangat canggih dan mampu menuntun pilot ke arah yang benar. Ada kalanya, pilot yang untuk sudah sangat berpengalaman dan jam terbang tinggi merasa terlalu percaya diri. Hingga pada akhirnya ‘perasaan’ yang menuntunnya mengendalikan pesawat.

“Bisa saja, ‘Perasaan menurut saya begini kok (laju pesawat).’ Akhirnya, dia tidak melihat ke instrumen. Lalu sangat disayangkan, bisa terjadi kecelakaan pesawat dan meninggal. Kebanyakan kasus kecelakaan pesawat karena disorientasi arah dan pilot tidak memerhatikan instrumen,” papar Wawan.

Untuk penanganan terbaik pada kondisi trapped gas adalah Valsafa manuver. Ini dapat dilakukan dengan cara menguap, yang mana tekanan nasofaring (rongga di belakang hidung) meningkat. Valsalva yang dimodifikasi dilakukan dengan menelan ludah sambil memegang hidung. Hidung pun tertutup.

Sebelum menerapkan Valsafa maneuver, di beberapa penerbangan diberikan permen. Permen  yang diberikan supaya aktif mengunyah. Pada posisi mengunyah, tuba ecstasy, saluran pada mulut yang searah telinga membuka. Hal ini menghindari adanya trapped gasses. Kalau cara ini tidak bisa diatasi, maka kita bisa melakukan Valsafa manuver. Jika tidak bisa diatasi juga, pilot dan kopilot seharusnya mengkonsumsi obat untuk melonggarkan saluran napas sebelum terbang, baik yang diminum dan disemprotkan.

Dalam penanganan hipoksia, pilot dan kopilot berlatih dengan teknologi altitude chamber. Teknologi ini melatih pilot saat mengudara dengan kondisi tekanan udara rendah dan oksigen yang semakin berkurang. Selama latihan dengan simulasi teknologi altitude chamber, kondisi di luar alat diatur sampai ketinggian 7.000 kaki. Setelah itu, ketahanan tubuh pilot dipantau.

“Jadi, di dalam sini (altitude chamber), disetting ketinggian sampai 7.000 kaki. Nanti dilihat, pilot mengalami hipoksia atau tidak. Lalu apakah pilot dalam keadaan fokus sadar sepenuhnya atau tidak. Kemampuan ketahanan juga dinilai dari diberikan juga soal hitung-hitungan. Benar atau tidak jawabannya,” tambah  Kepala Lakespra Saryanto Marsekal Pertama TNI, Krismono Irwanto yang juga menemani berkeliling melihat simulasi keselamatan penerbangan di Gedung Lakespra Saryanto, Jakarta.

Lanjutkan Membaca ↓