Ancaman di Natal 2018, Teror Virus Ebola dari Kongo ke Uganda

Oleh Fitri Haryanti Harsono pada 22 Des 2018, 12:00 WIB
Diperbarui 22 Des 2018, 13:17 WIB
ebola

Liputan6.com, Uganda Petugas kesehatan di Uganda tengah bersiap menghadapi kasus Ebola yang bisa terjadi pada saat perayaan Natal 2018. Hal tersebut dipengaruhi virus Ebola yang mematikan kemungkinan menyebar seiring penduduk dari Republik Demokratik Kongo (DRC) bepergian atau berwisata ke Uganda selama momen Natal berlangsung.

Republik Demokratik Kongo saat ini dicengkeram wabah Ebola terburuk kedua. Sebanyak 319 orang meninggal sejak wabah dimulai pada Agustus 2018. Sejauh ini, kasus Ebola lebih banyak tercatat di daerah-daerah yang dilanda konflik, yakni di bagian timur Kongo, tepat berbatasan dengan Uganda.

Infeksi Ebola sekarang dilaporkan hanya berjarak 40 mil dari perbatasan Uganda. Para ahli dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan, ada risiko tinggi virus akan menyebar ke Uganda.

Ini karena puluhan ribu penduduk Uganda juga akan mengunjungi toko-toko, keluarga, dan kerabat yang tinggal di Uganda untuk merayakan Natal 2018 bersama.

“Natal adalah masalah khusus. Karena kami tahu, ada banyak perpindahan orang yang bergerak membeli makanan dan mengunjungi keluarga di sini. Kami perkirakan, jumlah orang Kongo yang melintasi perbatasan mungkin meningkat. Sekitar 300.000 hingga 500.000 orang per bulan," jelas Andrew Bakainaga, pejabat senior WHO di Uganda, dikutip dari Express, Jumat (21/12/2018).

 

 

Saksikan video menarik berikut ini:

2 of 3

Cuci tangan dan sepatu dengan air terklorinasi

Salah satu wabah Ebola terburuk di dunia meneror Republik Demokratik Kongo selama 2018 (AP/Al-hadji Kudro Maliro)
Salah satu wabah Ebola terburuk di dunia meneror Republik Demokratik Kongo selama 2018 (AP/Al-hadji Kudro Maliro)

Penduduk Kongo yang melakukan perjalanan melintasi perbatasan (antara Kongo dan Uganda) diarahkan mencuci tangan dan sepatu menggunakan air yang terklorinasi.

Air yang sudah terklorinasi atau klorinasi air adalah proses penambahan klorin atau hipoklorit pada air. Trik ini digunakan untuk membunuh bakteri dan mikroba tertentu di air.

Adanya langkah tersebut sebagai upaya petugas kesehatan Uganda mengetahui suhu badan agar mengidentifikasi orang yang sudah terinfeksi virus Ebola.

“Kami mendeteksi setiap kasus (Ebola) yang dicurigai lebih awal, sebelum orang itu bertemu lebih banyak orang (di Uganda). Kami menggunakan media radio dan tim kesehatan desa untuk mendidik masyarakat tentang Ebola," tambah Samuel Kasimba, pejabat kesehatan yang bertugas mengkoordinasikan upaya mencegah Ebola memasuki Uganda.

Kasus-kasus Ebola yang dikonfirmasi berada dalam jarak 70 km. Jarak ini terus berkurang dan semakin mendekati Uganda. Bekerja sama dengan WHO, otoritas Uganda telah memvaksinasi sekitar 3.000 petugas kesehatan di garis depan perbatasan untuk melindungi mereka terhadap virus.

Sementara itu, lebih dari 40.000 orang di Republik Demokratik Kongo sudah divaksin. Virus Ebola yang sangat menular pertama kali ditemukan di Kongo pada tahun 1970-an.

3 of 3

Ratusan kasus Ebola di Kongo

20150812-#CERITA Perjalanan Panjang Virus Mematikan Ebola
Ratusan kasus Ebola di Kongo meningkat sejak Agustus 2018. (AFP PHOTO/DOMINIQUE FAGET)

Kementerian Kesehatan Kongo mengungkapkan, awal pekan ini, lebih dari 490 kasus Ebola berhasil dikonfirmasi di Provinsi Kivu Utara, yang berbatasan dengan Uganda di timur dan Rwanda di selatan.

Virus ini menyebabkan berbagai gejala, misal demam, sakit kepala parah, dan muntah.

Dalam kasus yang lebih serius, Ebola menyebabkan perdarahan yang bisa berakibat fatal. Hampir 60 persen dari pasien yang terinfeksi virus Ebola meninggal.

Ebola bisa menyebar dengan cepat melalui darah atau cairan tubuh. Petugas kesehatan di Uganda pun mengambil langkah-langkah guna menghentikan penyebaran penyakit yang mungkin dibawa dari orang Kongo saat melintasi perbatasan.

Bepergian saat Natal dapat memungkinkan virus Ebola pembunuh menyebar dari Republik Demokratik Kongo ke Uganda.

 

Lanjutkan Membaca ↓