93 Persen Anak-Anak Dunia Hirup Polusi Udara Setiap Hari

Oleh Giovani Dio Prasasti pada 04 Des 2018, 19:00 WIB
Diperbarui 04 Des 2018, 19:25 WIB
Ilustrasi polusi udara di kota Beijing (AP/NG Han Guan)

Liputan6.com, Jakarta Setiap hari, 93 persen anak-anak di bawah 15 tahun di seluruh dunia atau sekitar 1,5 miliar anak menghirup udara tercemar. World Health Organization (WHO) menegaskan polusi udara menempatkan mereka pada tingginya risiko terkena masalah kesehatan.

Di 2016, 600 ribu anak meninggal akibat infeksi pernapasan akut akibat pencemaran udara. Mengutip laman resmi who.int pada Selasa (4/12/2018), saat wanita hamil terpapar udara beracun, mereka lebih berisiko melahirkan anak secara prematur atau dengan berat badan rendah.

Selain itu, polusi udara juga berdampak pada perkembangan saraf dan kemampuan kognitif, serta memicu asma dan kanker pada anak-anak.

 

Simak juga video menarik berikut ini:

 

2 dari 3 halaman

Anak-anak lebih rentan

Warga India
Sejumlah pria bermain kriket saat kabut tebal dan polusi udara di Amritsar, India (2/1). (AFP Photo/Narinder Nanu)

Anak-anak yang terpapar polusi udara dengan tingkat tinggi lebih berisiko terkena penyakit kronis seperti masalah kardiovaskular di masa depannya.

"Udara yang tercemar meracuni jutaan anak-anak dan menghancurkan hidup mereka," kata Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus.

"Setiap anak harus bisa menghirup udara bersih sehingga mereka bisa tumbuh dan memenuhi potensi penuh mereka," tambahnya.

Salah satu alasan mengapa anak lebih rentan terhadap efek polusi udara adalah karena mereka bernapas lebih cepat daripada orang dewasa.

Itu juga menyebabkan mereka menyerap lebih banyak polutan. Selain itu, polutan yang mencapai konsentrasi puncak juga lebih rentan pada mereka karena tinggi badan yang lebih dekat ke tanah. Padahal, otak dan tubuh mereka masih berkembang.

 

3 dari 3 halaman

Penggunaan teknologi yang lebih ramah

Jakarta Diselimuti Kabut
Kabut tipis menyelimuti udara di salah satu sudut kota Jakarta, Selasa (10/7). Tingkat polusi di Jakarta masuk dalam kategori tidak sehat sehingga menyebabkan pemandangan menjadi berkabut dan mengancam kesehatan pernapasan. (Merdeka.com/Iqbal S. Nugroho)

Bayi yang baru lahir dan anak-anak juga lebih rentan terhadap polusi udara rumah tangga. Rumah yang secara teratur menggunakan bahan bakar dan teknologi yang menimbulkan pencemaran untuk memasak, pemanasan, dan pencahayaan menyebabkan hal itu.

"Polusi udara mengerdilkan otak anak-anak kita, mempengaruhi kesehatan mereka dengan cara yang lebih dari yang kita duga. Namun ada banyak cara untuk mengurangi emisi polutan berbahaya," ujar Director Department of Public Health, Environmental, and Social Determinants of Health WHO Dr. Maria Neira.

Neira mengatakan, WHO mendukung implementasi langkah kebijakan yang lebih sehat. Seperti penggunaan alat masak, pemanas, dan teknologi yang lebih ramah lingkungan, serta transportasi yang bersih, rumah yang lebih efisien secara energi, dan perencanaan kota.

Lanjutkan Membaca ↓