Simpanse, Monyet, PSK, dan Hari AIDS Sedunia

Oleh Aditya Eka Prawira pada 01 Des 2018, 07:00 WIB
Diperbarui 01 Des 2018, 23:14 WIB
Ilustrasi Human Immunodeficiency Virus (HIV)

Liputan6.com, Jakarta Hari AIDS yang diperingati setiap 1 Desember jadi pengingat bahwa AIDS bisa terjadi apabila virus HIV tidak cepat-cepat dilumpuhkan. Karena itu, penting mencari tahu asal usul virus HIV, karena dari sini semuanya terjadi.

Pandemik virus HIV masih jadi perdebatan sampai sekarang. Guna menguak misteri tentang virus yang telah merenggut nyawa lebih dari 75 juta orang di dunia, dibentuklah tim internasional untuk merekonstruksi genetika HIV.

Sejak kasus HIV pertama kali ditemukan pada 1981, tim tersebut langsung mencari tahu di mana nenek moyang umat manusia berasal. Pencarian bertahun-tahun pun dilakukan. Dimulai dari Afrika, negara yang punya sejarah panjang terhadap virus ini.

Menggunakan arsip sampel genetika HIV untuk melacak sumbernya, para peneliti berhasil melacak asal-usul pandemi virus ini yang ternyata sudah ada dari tahun 1920 di Kota Kinshasa (kini menjadi bagian dari Republik Demokratik Kongo).

 

2 dari 4 halaman

Jumlah PSK Semakin Banyak

Dilihat dari situasi negara tersebut pada tahun ini, di mana jumlah pekerja seks komersial (PSK) yang cukup banyak serta penggunaan jarum tak steril di sejumlah klinik, tak mustahil jika virus HIV memang bermuara dari Kinshasa.

Pelacakan asal-usul HIV wajib dilakukan agar para ahli di bidangnya mampu mengembangkan vaksin HIV dan pengobatan yang lebih efektif untuk menyelamatkan nyawa semua manusia.

Dugaan semakin kuat setelah penelitian menemukan ada virus yang sama dengan HIV di tubuh monyet, simpanse, serta kera yang ada di Afrika bagian barat. Setelah dilakukan pengecekan, para ilmuwan menduga HIV merupakan keturunan dari SIV, yang mirip dengan dua tipe HIV (HIV-1 dan HIV-2).

 

3 dari 4 halaman

Simpanse dan Monyet

Peneliti dari Universitas Oxford menyebut, HIV-2 dapat disamakan dengan SIV yang ditemukan pada monyet hijau yang berasal dari Afrika barat. Masyarakat di sana mengenal spesies ini dengan monyet sooty mangabey (SIVsm).

Sedangkan virus HIV-1 yang lebih mematikan, paling mirip dengan SIVcpz (simian immunodeficiency virus) yang menginfeksi simpanse.

Nuno Faria, ilmuwan dari Universitas Oxford, menceritakan bahwa virus ini pertama kali menyebar di tubuh pemburu simpanse. Kasus ini dilaporkan di Kinshasa pada 1930.

Namun, sebuah studi yang diterbitkan pada 2014 menunjukkan,telah terjadi lompatan pada sejumlah kesempatan. Salah satunya mengarah pada HIV-1 subtipe 0 yang menyebar di Kamerun. Kemudian HIV-1 subtipe M yang menginfeksi jutaan orang di seluruh dunia.

Disebutkan juga orang pertama yang terinfeksi HIV-1 subtipe M mungkin terkena di tahun 1920. Di tahun yang sama telah terjadi ketidakseimbangan antara populasi wanita dan pria yang memicu terjadinya peradangan seksual secara bebas. Belum lagi jaringan transportasi yang membuat orang mudah berpindah-pindah.

Dikutip dari situs BBC pada Sabtu, 1 Desember 2018, penyebaran HIV ini masih berlanjut sampai ke negara bagian AS, Indiana, terkait penggunaan jarum suntik narkoba.

Centers for Disease Control and Prevention telah menganalisis urutan genom HIV dan data tentang lokasi dan waktu infeksi, kata Yonatan Grad di Harvard School of Public Health di Boston, Massachusetts. "Data ini membantu untuk memahami sejauh mana wabah dan selanjutnya akan membantu untuk memahami ketika intervensi kesehatan masyarakat telah bekerja."

 

4 dari 4 halaman

Pelaku hubungan seks sejenis lebih rentan

Pendekatan ini dapat bekerja untuk patogen lainnya. Pada 2014, Grad dan rekannya, Marc Lipsitch, menerbitkan hasil penyelidikan atas penyebaran gonore yang resistan terhadap obat di seluruh AS.

"Karena kami memiliki urutan perwakilan dari individu di berbagai kota pada waktu yang berbeda dan dengan orientasi seksual yang berbeda, kami bisa menunjukkan penyebaran paling umum terjadi dari barat negara itu ke timur," kata Lipsitch.

Terlebih lagi, mereka bisa mengonfirmasi bentuk resistan terhadap obat gonore yang telah beredar, terutama pada laki-laki yang berhubungan seks dengan laki-laki. Yang bisa mendorong peningkatan screening ini pada populasi yang berisiko dalam upaya untuk mengurangi penyebaran lebih lanjut.**

Lanjutkan Membaca ↓