Lebih dari Separuh Bayi Indonesia Tak Dapat ASI Eksklusif

Oleh Benedikta Desideria pada 25 Okt 2018, 11:00 WIB
Ibu menyusui (iStock)

Liputan6.com, Jakarta Menurut data Survei Demografi Kesehatan di 2017, hanya 47 persen dari 4,8 juta anak yang lahir setiap tahun mendapatkan ASI eksklusif. Menurut konselor laktasi, dokter Ameetha Drupadi, faktor edukasi jadi salah satu penyebab hal ini terjadi.

"Salah satunya pengetahuan ibu-ibu tentang ASI ini belum maksimal," kata Ameetha dalam peluncuran suplemen alami pelancar ASI, Lactaboost, di Jakarta Pusat pada Rabu (24/10/2018).

Faktor lain, masih sedikit tenaga kesehatan mengedukasi ibu-ibu tentang ASI. Mulai dari manfaat hingga cara pemberian ASI yang tepat. Walau begitu, kini ia juga melihat geliat pemerintah menggerakkan tenaga kesehatan untuk memberikan edukasi mengenai ASI di berbagai daerah.

Selain edukasi, Ameetha juga melihat rendahnya angka pemberian ASI eksklusif di Indonesia karena gencarnya marketing makanan prelakteal atau susu pengganti. Hal ini membuat ibu jadi lebih mudah memberikan susu pengganti. 

"Jadi, ibunya sudah kurang pengetahuan, lalu bayinya sudah dapat makanan pengganti. Bayi jadi nyaman dengan susu pengganti itu, bayi jadi tidak mau mengisap payudara ibunya lagi," kata Ameetha.

Mengenai susu pengganti, sebenarnya boleh diberikan dengan indikasi tertentu yang disarankan dan diawasi oleh dokter. 

 

Saksikan juga video menarik berikut:

2 of 2

Manfaat ASI Eksklusif

Ibu Menyusui (iStock)
Ilustrasi ibu menyusui (iStockphoto)

Memberikan ASI eksklusif kepada bayi memiliki manfaat hebat meningkatkan kesehatan dan menurunkan angka kematian bayi.

"Data membuktikan, ASI Eksklusif mampu menurunkan angka kematian karena infeksi sebanyak 88 persen, terutama pada bayi berusia kurang dari 3 bulan," kata Direktur Jenderal Kesehatan Masyarakat Kementerian Kesehatan, Kirana Pritasari pada Puncak Peringatan Pekan ASI Sedunia (PAS) 2018 di Kementerian Kesehatan beberapa saat lalu.

Beberapa studi ilmiah juga menyebutkan pemberian ASI eksklusif menurunkan risiko obesitas dan penyakit kronis di kemudian hari. 

Lanjutkan Membaca ↓