4 Fakta Wajib Tahu tentang Kanker Paru, Penyakit yang Renggut Nyawa Istri Indro Warkop

Oleh Benedikta Desideria pada 10 Okt 2018, 14:00 WIB
Diperbarui 25 Sep 2019, 19:09 WIB
Indro Warkop dan Istri

Liputan6.com, Jakarta Istri Indro Warkop, Nita Octobijanthy (59), mengembuskan napas terakhir pada Selasa, 9 Oktober 2018. Sebelum meninggal, Nita tengah berjuang melawan kanker paru yang menyerang tubuhnya.

Selain istri Indro Warkop, Badan Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan ada sekitar 1,7 juta orang di dunia yang meninggal karena kanker paru per tahun. Jumlah ini lebih banyak dibandingkan kematian kanker usus, hati, dan payudara seperti dilansir laman resmi WHO, Rabu (10/10/2018).

Berikut empat fakta yang wajib diketahui soal kanker paru yang dihimpun dari berbagai sumber.

1. Rokok penyebab utama kanker paru

Dokter spesialis paru RSUP Persahabatan, Jamal Zaini, mengatakan sekitar 80 persen pasien kanker paru merupakan perokok. Dalam rokok, kata Jamal, terdapat tar yang bersifat merusak saluran pernapasan termasuk jaringan paru. Ketika saluran napas terpapar zat-zat bahaya dari rokok, efek jangka panjangnya menyebabkan kanker.

"Awalnya itu merusak sel-sel epitel, lalu fungsinya rusak, baru jadi kanker," kata Jamal saat berbincang dengan wartawan di RSUP Persahabatan Jakarta beberapa waktu lalu.

Rokok bukan satu-satunya penyebab kanker paru. Ada beberapa faktor lain yang bisa menyebabkan kanker paru, seperti polusi udara, tinggal di lingkungan pabrik dan pertambangan, usia di atas 40, dan riwayat keluarga.

 

Saksikan juga video menarik berikut:

 

2 of 3

2. Perokok pasif, rentan kena kanker paru

20160205-Kanker Paru Paru-iStockphoto
Ilustrasi Kanker Paru Paru (iStockphoto)

2. Perokok pasif, rentan kena kanker paru

Semakin lama perokok pasif terpapar karsinogen (zat dalam rokok yang menyebabkan kanker) dari rokok maka risiko terkena kanker paru semakin besar, seperti disampaikan dokter spesialis paru Feni Fitriani Taufik.

3. Kanker paru kerap ditemukan stadium lanjut

Gejala kanker paru tidak khas, yakni batuk, sesak napas dan nyeri dada. Sehingga membuat penyakit ini kerap ditemukan sudah stadium lanjut yakni 3 dan 4.

"Biasanya datang memeriksakan diri, kalau sudah ada keluhan atau penyebaran biasanya datang karena itu," kata dokter spesialis paru RSUP Persahabatan Jakarta, Elisna Syahruddin kepada Liputan6.com lewat sambungan telepon beberapa waktu lalu.

 

3 of 3

4. Deteksi dini kanker paru dengan rutin cek

kanker paru-paru
Deteksi dini kanker. (Foto: unsplash)

4. Deteksi dini kanker paru dengan rutin cek

Mengingat gejala kanker paru yang tidak khas, Elisna menyarankan untuk melakukan pemeriksaan paru setahun sekali. Pada orang yang memiliki banyak faktor risiko disarankan untuk kontrol lebih sering dibanding yang tidak memiliki banyak faktor risiko.

Beberapa faktor risiko diantaranya adalah usia di atas 40, terpapar asap rokok, polusi udara, tinggal daerah dekat pabrik atau pertambangan, dan anggota keluarga memiliki riwayat kanker.

Lanjutkan Membaca ↓