Kebohongan Ratna Sarumpaet, Pertanda Apa?

Oleh Giovani Dio Prasasti pada 05 Okt 2018, 20:00 WIB
Ratna Sarumpaet Ditangkap Polisi

Liputan6.com, Jakarta Kebohongan yang dilakukan Ratna Sarumpaet terkait operasi plastik yang dijalaninya menimbulkan polemik. Sebagian masyarakat bertanya-tanya hingga berspekulasi, apakah aktivis kelahiran Tarutung, Tapanuli Utara itu mengalami tekanan mental. Namun, ada banyak proses yang harus dilakukan sebelum melabeli seseorang dengan kondisi tersebut.

"Kalau bicara mengenai apakah ada gangguan mental, gangguan jiwa atau tidak, harus melalui pemeriksaan yang berkelanjutan," kata psikolog di Universitas Indonesia, Bona Sardo Hutahaean, M.Psi ketika dihubungi Health Liputan6.com pada Jumat (5/10/2018).

Menurut Bona, kasus kebohongan yang dilakukan Ratna Sarumpaet belum bisa dikatakan sebagai masalah gangguan mental atau kejiwaan jika hanya berdasarkan asumsi masyarakat saja.

"Kalau fenomenanya hanya seperti itu saja, saya belum bisa bilang apakah itu pathological liar-kah, atau gangguan kejiwaan tertentu. Tidak bisa seperti itu," kata psikolog yang pernah menjadi kontestan 11 besar pencarian bakat Indonesian Idol tersebut.

Namun, Bona tidak menampik hal tersebut bukan berarti tidak ada indikasi mengarah ke masalah gangguan mental.

"Apakah ada indikasi ke arah sana, kemungkinan besar iya. Tapi kan tetap harus melalui pemeriksaan lagi," kata Bona yang juga dosen di Universitas Indonesia itu.

 

Simak juga video menarik berikut ini:

 

2 of 2

Melihat Seberapa Sering Kebohongan Dilakukan

Ratna Sarumpaet
Aktivis Ratna Sarumpaet menyampaikan keterangan kasus penganiayaan yang dialaminya, Jakarta, Rabu (3/10). Ratna mengakui tidak ada penganiayaan yang diterimanya seperti kabar yang berkembang beberapa waktu terakhir. (Liputan6.com/Immanuel Antonius)

Bona mengatakan, ada banyak pertimbangan untuk mengetahui apakah seseorang bisa dikatakan mengalami gangguan jiwa atau tidak. Seperti dari sering atau tidaknya seseorang berbohong.

"Kalau untuk masuk dalam kategori gangguan, apalagi pathological liar (pembohong patologis), perilaku berbohong itu harus muncul bertahap sampai minimal enam sampai satu tahun," kata Bona memaparkan.

Selain itu, tentunya dibutuhkan gejala-gejala lain yang mendukung pada masalah kejiwaan seseorang. Sehingga, Ratna Sarumpaet tidak bisa dicap sebagai penderita gangguan jiwa jika hanya berdasarkan satu kasus saja. Tentunya, dengan mengesampingkan adanya urusan politik.

Di sisi lain, Bona mengatakan bahwa sebagai manusia, ada cara-cara tertentu seseorang dalam menghadapi tekanan atau stres. Salah satunya berbohong.

"Tapi belum tentu juga (Ratna Sarumpaet berbohong karena tekanan), karena ada kebohongan yang direncanakan juga," imbuhnya.

Lanjutkan Membaca ↓