Ke Palu, Menkes Nila: Tenaga Kesehatan dan Logistik Masih Cukup Tangani Korban

Oleh Benedikta Desideria pada 04 Okt 2018, 15:00 WIB
Diperbarui 06 Okt 2018, 14:13 WIB
Gempa Palu dan Donggala

Liputan6.com, Palu Menteri Kesehatan RI, Nila Moeloek, mengatakan tenaga kesehatan serta logistik kesehatan milik Indonesia sudah sangat cukup untuk menangani para korban gempa dan tsunami Palu, Donggala, dan beberapa wilayah lain terdampak di Sulawesi Tengah. 

“Kapasitas nasional masih mampu menangani, sehingga kita belum membutuhkan bantuan dari asing, baik orang maupun logistik kesehatan,” kata Nila usai mengunjungi korban bencana di Palu, Sulawesi Tengah.  

Kepala Pusat Krisis Kesehatan Kementerian Kesehatan RI, dr Ahmad Yurianto juga menegaskan bahwa yang telah dikerahkan saat ini masih sebagian kecil, tidak sampai 20 persen dari kapasitas nasional. Kini tengah mengatur kedatangan tenaga kesehatan dan tim logistik ke Palu–Donggala.

Menurut Yuri, ukuran ideal untuk menghadapi krisis adalah yang menjawab beban kebutuhan. “Ukuran kita bukan seberapa banyak tenaga yang dikirim akan cukup, 1000 Nakes akan cukup atau 5 dokter sudah cukup, tidak seperti itu, tapi fokus pada bebannya,” kata Yuri dalam rilis Sehat Negeriku ditulis Kamis (4/10/2018).

 

2 of 2

Ada 15 dokter bedah

Gempa Palu dan Donggala
Tim PSC 119 Sulawesi Barat dan PSC 119 Palopo tetap operasi korban gempa Palu dan Donggala meski sulit air dan listrik. (Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat, Kementerian Kesehatan R)

Saat ini, sekitar 15 dokter bedah sedang bertugas di sana. Jika merujuk pada kasus bedah, diantara jumlah pasien yang harus melakukan operasi, baik darurat maupun dipersiapkan, dinilai sudah cukup. Artinya tidak ada lagi beban yang tertunda layanannya dengan alasan tenaga kesehatan yang kurang.

“Kita masih punya kekuatan besar, kalau tidak bisa ditangani di sini, kita masih punya rumah sakit tipe A di Makassar, kirim ke RS Wahidin, ahlinya juga masih banyak disana. Kalau kurang ya kita kirim lagi, masih sangat sangat cukup,” tegas Yuri.

Selain tenaga kesehatan yang dianggap cukup, stok obat saat ini pun dalam kondisi aman. Karena, sistem obat yang dipakai menggunakan buffer/safety stock yang dimiliki oleh instalasi farmasi, juga bantuan dari relawan, serta pencatatan dan pengeluaran yang selalu terpelihara.

Selain itu, ditambah lagi link dengan sistem logistik obat nasional, jadi bisa dikatakan saat ini dalam kondisi aman, karena bisa langsung mengetahui mana yang kurang.

“Pedoman kita, obat harus aman untuk seminggu ke depan, nanti kalau sudah kurang tiga hari, baru kita dorong lagi” pungkasnya.

Lanjutkan Membaca ↓

Live Streaming

Powered by