Cegah Penularan Rabies, Hewan dan Manusia Harus Divaksin

Oleh Giovani Dio Prasasti pada 04 Okt 2018, 12:00 WIB
Anjing Pyrenees

Liputan6.com, Jakarta Pencegahan penularan rabies bisa dengan melakukan vaksinasi pada hewan dan manusia. Hal ini ditegaskan oleh Kasubdit Zoonosis Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tular Vektor dan Zoonosis (P2TVZ) Ditjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kementerian Kesehatan RI dr. Endang Burni Prasetyowati, M.Kes.

Endang mengatakan, rabies bisa menular ke manusia atau hewan lainnya lewat luka gigitan, jilatan kulit yang lecet, selaput lendir mulut, hidung, mata, anus, dan genitalia. Pernyataan disampaikan Endang di Temu Media Blogger Kesehatan 2018 bertema “Berbagi Pesan di Media Sosial untuk Manado Bebas Rabies” di Kota Manado, Sulawesi Utara.

Mengutip laman sehatnegeriku.kemkes.go.id, Rabu (3/10/2018), penularan dari orang ke orang secara langsung, juga bisa terjadi melalui saliva atau air liur penderita rabies. Selain itu, bisa juga terjadi lewat transplantasi kornea mata. Inilah alasan vaksinasi rabies begitu penting.

“Rabies adalah penyakit paling mematikan di dunia dengan tingkat kematian 99,9 persen setelah gejala klinis muncul,” kata Endang pada Selasa (2/10/2018).

Menurutnya, selama 2011 hingga 2017, ada lebih dari 500 ribu kasus Gigitan Hewan Penular Rabies (GHPR) yang dilaporkan di Indonesia dan sebanyak 836 kasus positf rabies.

Saksikan juga video menarik berikut ini:

 

2 of 2

Indonesia Tak Pernah Bebas Rabies

Deteksi Penularan Rabies, Dinas KPKP DKI Pasang Microchip Pada Anjing
Pemindaian anjing yang telah diberi microchip dengan alat khusus di Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian DKI Jakarta, Rabu (12/9). Pemasangan microchip untuk mempermudah recording kesehatan dan identifikasi anjing. (Merdeka.com/Iqbal Nugroho)

Kemenkes sendiri memfokuskan sosialisasi ke daerah-daerah dengan prevalensi tinggi rabies seperti Kota Manado dan Kabupaten Minahasa pada 3 Oktober 2018.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Provinsi Sulut dr. Steven Dandel, MPH mengibaratkan, apabila akumulasi angka rabies laksana kompetisi dengan raihan medali, tahun 2016 Sulawesi utara mendapatkan "medali emas" tingkat nasional.

Menurut Steven, hal itu karena ditemukan 36 orang meninggal per tahunnya di provinsi tersebut. Sebagian besar kasus ditemukan di Minahasa Selatan.

"Sejak 1995, Indonesia tak pernah dinyatakan bebas rabies. Per tahun ditemukan 1.500 terpapar rabies," ujar Steven.

Setidaknya, ada 230 ribu ekor anjing di Sulut. Namun, hanya 73 ribu per tahun yang divaksin. Sehingga, risiko gigitan anjing dengan rabies patut diwaspadai.

Lanjutkan Membaca ↓