Pasca Gempa dan Tsunami Sulteng, Risiko Penyakit Timbul dari Pembusukan Jenazah

Oleh Giovani Dio Prasasti pada 02 Okt 2018, 18:00 WIB
Diperbarui 02 Okt 2018, 18:00 WIB
Gempa dan Tsunami Palu
Perbesar
Petugas membawa jenazah korban gempa dan tsunami untuk dimakamkan massal di Palu, Sulawesi Tengah, Senin (1/10). (AP Photo/Tatan Syuflana)

Liputan6.com, Jakarta Jenazah-jenazah korban gempa dan tsunami yang landa Donggala, Mamuju, dan Palu berisiko menimbulkan penyakit infeksi. Untuk itu, Menteri Kesehatan RI Nila F. Moeloek meminta agar jenazah korban yang berhasil ditemukan untuk dikumpulkan (dipusatkan) di rumah sakit, untuk nantinya dikuburkan secara massal.

"Jenazah-jenazah itu dikumpulkan di RS. Dalam hal ini kami minta gar cepat dikuburkan massal dengan maksud agar (pasien atau masyarakat) tidak tercemar penyakit yang bisa menyebabkan infeksi (akibat pembusukan jenazah)," kata Nila kepada sejumlah media usia Apel Siaga Persiapan Asian Para Games 2018 di halaman Kantor Kemenkes, Jakarta pada Senin (1/10/2018).

Mengutip laman sehatnegeriku.kemkes.go.id pada Selasa (2/10/2018), Kepala Pusat Krisis Kesehatan Kemenkes dr. Achmad Yurianto menjelaskan, jenazah mengalami pembusukan sejak satu jam pertama kematiannya.

Yuri mengatakan, pembusukan tercepat ada di bagian otak dan saluran pencernaan, karena dalam usus manusia tidaklah steril karena mengandung banyak mikroorganisme. Ini membentuk gas sehingga jenazah akan menggembung.

“Pembusukan yang cepat ini yang kita khawatikan. Selain itu, cairan pembusukan jenazah ini bisa mengalir ke mana-mana. Ini sangat berbahaya bagi pasien lain," tutur Yuri.

 

Saksikan juga video menarik berikut ini:

 

 

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Harus Segera Dimakamkan

Gempa dan Tsunami Melanda Palu
Perbesar
Warga mengevakuasi kantong jenazah berisi jasad korban tsunami di Palu, Sulawesi Tengah , Sabtu (29/9). Gelombang tsunami setinggi 1,5 meter yang menerjang Palu terjadi setelah gempa bumi mengguncang Palu dan Donggala. (AP Photo)

Oleh karena itu jenazah seharusnya segera dimakamkan. Dokter Yuri mengatakan, pembusukan jenazah bisa menjadi lebih berbahaya pada korban yang mengalami luka terbuka.

Risiko kesehatan sendiri dikarenakan adanya keberadaan kuman yang dicemarkan melalui cairan maupun gas. Hal ini bisa menimbulkan penyakit.

Adapun, dalam pernyataannya, Kemenkes mengatakan bahwa proses pemakaman massa sudah dimulai dengan menetapkan lokasi penggalian dan memulai penguburan secara bertahap. Hal ini karena jenazah masih tersu berdatangan.

Jenazah yang datang di RS diidentifikasi terlebih dulu oleh pihak kepolisian untuk mengetahui identitasnya. Jika tidak ditemukan tanda pengenal, maka korban akan difoto dan berikan label.

Foto ini nantinya untuk mengetahui identitas jika nantinya ada keluarga atau kerabat yang mengenali. Sementara itu, hingga rilis ditulis, lebih dari 800 korban jiwa jenazahnya telah diketemukan.

 

 

 

Lanjutkan Membaca ↓