Ini Mengapa Tak Banyak yang Ingin Terjun ke Bisnis Vaksin

Oleh Giovani Dio Prasasti pada 24 Sep 2018, 11:00 WIB
Diperbarui 26 Sep 2018, 10:13 WIB
Bio Farma mengirim vaksin ke Papua Nugini pada Jumat (21/9/2018) (Liputan6.com/Giovani Dio PrasastI)

Liputan6.com, Jakarta Sebagai satu-satunya produsen vaksin di Indonesia, Bio Farma tidak menutup kemungkinan apabila ada perusahaan farmasi lain yang ingin melakukan pengembangan vaksin. Namun, hal tersebut menurut mereka bukanlah hal yang mudah.

Direktur Utama Bio Farma, M. Rahman Roestan, mengatakan Bio Farma tidak ingin memonopoli pembuatan vaksin. Pihaknya mempersilakan siapa pun untuk bisa berkontribusi dalam pengembangan vaksin.

"Tetapi karakteristik vaksin dari regulasinya cukup ketat. Kemudian capital investment-nya pun cukup tinggi. Kemudian untuk kompetensi karyawannya pun cukup jarang," ujar Rahman pada Health Liputan6.com di kantor Bio Farma, Bandung, ditulis Senin (24/9/2018).

Rahman mengatakan, saat ini bidang vaksinologi di universitas-universitas di Indonesia belumlah ada, sehingga dari segi sumber daya manusia-nya tidak mudah.

"Dari kompleksitas tadi, fungsi sosialnya pun tinggi," ujar Rahman.

Rahman mengatakan, vaksin untuk imunisasi dasar di daerah-daerah saat ini gratis. Sehingga, untuk memenuhi kebutuhan imunisasi nasional, pihak Bio Farma wajib memenuhi permintaan pemerintah.

"Profit yang harus kita cari dari ekspor," kata Rahman menambahkan.

Saksikan juga video menarik berikut ini:

2 of 2

Tidak Menutup Kesempatan Pihak Lain

Sebuah foto menunjukkan anak yang terkena cacar api dipajang di museum Bio Farma (Liputan6.com/Giovani Dio Prasasti)
Sebuah foto menunjukkan anak yang terkena cacar api dipajang di museum Bio Farma (Liputan6.com/Giovani Dio Prasasti)

Namun, Rahman tidak menutup apabila ada pihak lain yang ingin melakukan bisnis vaksin. Namun, rumitnya berbagai faktor menjadi alasan banyak yang tidak mau terjun ke bisnis vaksin.

"Mungkin yang profit-oriented lebih banyak mengambil kesempatan di suplemen yang regulasinya tidak sekompleks vaksin," kata Rahman.

Bio Farma sendiri merupakan salah satu dari sekitar 30 produsen vaksin yang sudah mendapatkan kualifikasi dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

"Kami merupakan yang terbesar di Asia Tenggara dilihat dari jenis produk dan kapasitas, serta menjadi rujukan centre of excellence bagi produsen vaksin di negara Islam," kata Rahman.

Lanjutkan Membaca ↓

Live Streaming

Powered by