KLB Malaria di Lombok, Dinas Kesehatan Fokus di Daerah Endemik

Oleh Giovani Dio Prasasti pada 13 Sep 2018, 14:40 WIB
Diperbarui 13 Sep 2018, 14:40 WIB
Kelambu berinsektisida untuk korban gempa Lombok. (Foto: Sehat Negeriku Kemenkes RI)
Perbesar
Kelambu berinsektisida untuk korban gempa Lombok. (Foto: Sehat Negeriku Kemenkes RI)

Liputan6.com, Jakarta Kasus malaria di Lombok Barat ditetapkan menjadi Kejadian Luar Biasa (KLB). Adapun, wilayah yang menjadi fokus adalah Kecamatan Gunungsari, Kabupaten Lombok Barat.

Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), Marjito, mengatakan pihaknya telah melakukan pertemuan dengan pihak-pihak terkait, mengenai penetapan kecamatan Gunungsari sebagai fokus KLB Malaria.

Ketika dihubungi oleh Health Liputan6.com pada Kamis (13/9/2018), Marjito mengatakan sudah ada 128 orang yang positif malaria.

"Ada ibu hamil, ada bayi, dan ada juga anak balita. Untuk detil anak-anaknya berapa saya belum tahu datanya," ujar Marjito.

Marjito mengungkapkan, sebelum kejadian gempa pun, daerah di Lombok Barat tersebut memang wilayah endemik malaria. Sehingga, pihak Dinas Kesehatan pun mengakui mereka tidak kaget dengan adanya kejadian tersebut.

"Jadi, lokasi kasus malaria ini daerah endemik di situ. Memang selalu ada malaria di situ. Secara kebetulan saja, ada gempa ini, jadi posisi di luar, istirahat kurang, makan kurang, pada saat daya tahan tubuh kita sudah lemah, saat itulah munculnya malaria ini," kata Marjito memaparkan.

Simak juga video menarik berikut ini:

 

2 dari 2 halaman

Upaya Penanggulangan

Warga Lombok dibantu tenaga pendamping dari Kementerian PUPR membangun kembali rumah yang rusak akibat gempa dengan teknologi rumah tahan gempa. (Dok Kementerian PUPR)
Perbesar
Warga Lombok dibantu tenaga pendamping dari Kementerian PUPR membangun kembali rumah yang rusak akibat gempa dengan teknologi rumah tahan gempa. (Dok Kementerian PUPR)

Sejak ditemukannya kasus tersebut, pihak Dinas Kesehatan juga sudah melakukan upaya penanggulangan KLB. Salah satu caranya adalah dengan pemeriksaan darah secara massal.

"Darah yang terindikasi, berdasarkan hasil pemeriksaan kami, ditemukan sekitar 111. Itu yang penemuan kasus malaria secara aktif melalui pemeriksaan darah secara massal," ujar Marjito.

Selain itu, pihaknya juga telah memberikan kelambu ke masyarakat, serta obat pada pasien yang positif malaria.

Marjito mengakui, ketersediaan obat malaria terbilang aman. Namun, dia mengatakan pihaknya kekurangan alat pemeriksaan cepat malaria (Rapid Diagnostic Test/RDT).

"Itu yang kita sudah habis. Kemarin terakhir ada tiga ribu, kemarin sudah kita distribusikan untuk dimanfaatkan. Dan kami sudah mengajukan permintaan ke pusat melalui Kementerian Kesehatan sekitar tujuh ribu," jelas Marjito.

Lanjutkan Membaca ↓