Cerita Tragis Kabir Bedi yang Kehilangan Anaknya karena Bunuh Diri

Oleh Fitri Haryanti Harsono pada 10 Sep 2018, 17:00 WIB
Diperbarui 10 Sep 2018, 17:00 WIB
Bunuh Diri
Perbesar
Ilustrasi Foto Bunuh Diri (iStockphoto)

 

Liputan6.com, India "Tidak peduli seberapa buruk kehidupan, saya sampaikan kepada Siddharth, bunuh diri bukanlah jawabannya. Dia seharusnya tidak menyerah dan mempercayai masa depan yang lebih baik. Kami (keluarga) semua mendampinginya."

Ungkapan kesedihan itulah yang diucapkan Kabir Bedi asal India tentang kematian anak lelakinya karena bunuh diri. Sayang, pesan dari sang ayah tidak menghentikan Siddharth untuk bunuh diri, sebagaimana dilansir The FreePress Journal, Senin (10/9/2018).

Siddharth bunuh diri pada usia 25 tahun. Ia lulus dari Carnegie Mellon University, dengan hasil cumlaude di bidang Teknologi Informasi pada 1994. Ia melanjutkan pendidikan S2-nya. Kurang dari dua tahun kemudian, saat ia menempuh S2 di Chapel Hill di University of North Carolina, Amerika Serikat sesuatu terjadi.

Ia mengalami Depresi, yang berujung skizofrenia-- gangguan mental kronis yang menyebabkan penderitanya mengalami delusi, halusinasi, pikiran kacau, dan perubahan perilaku. Kabir pun menemani anaknya pengobatan dan perawatan di Los Angeles.

Saat ini perawatan jauh lebih baik. Namun, pada saat itu, obat-obatan yang diberikan kepada Siddharth membuatnya merasa pusing. Ia menolak meminum obat. Hingga akhirnya, setiap kali mengobrol dengan anaknya, Kabir tidak tahu dengan siapa ia berbicara. Skizofrenia membuat anaknya telah berubah.

 

 

Tulisan ini dalam rangka peringatan Hari Pencegahan Bunuh Diri Sedunia 2018 pada 10 September.

 

 

 Simak video menarik berikut ini:

 


Frustasi dan depresi

Depresi (iStock)
Perbesar
Frustasi dan depresi menghampiri Siddharth. (iStockphoto)

Setelah setahun, rasa frustrasi Siddharth mendidih. Ia sempat mencari berbagai informasi soal penyakitnya, tapi makin frustasi. Kabir berusaha sebaik mungkin untuk memberinya harapan. Itu tidak berhasil. Siddharth menarik diri dari kehidupan sosial dan tenggelam dalam depresi.

Siddharth menyampaikan keinginan untuk bunuh diri.

"Itu mengejutkan, tetapi saya melihatnya sebagai teriakan minta tolong. Saya mencoba untuk menunjukkan kepadanya betapa kami peduli, ilmu kedokteran maju dengan cepat, masa depan bisa sangat berbeda dari apa yang dia bayangkan," Kabir menceritakan.

Siddharth menjawab dengan tenang, "Aku tidak bisa merasakan makanan, menonton TV tidak masuk akal. Aku tidak bisa melakukan pekerjaan apa pun, film dan buku tidak ada artinya."


Terus berbicara soal bunuh diri

Bunuh Diri
Perbesar
Siddharth bunuh diri di kamarnya. (iStockphoto)

Bentuk kepedulian terlihat saat Protima, ibu Siddharth dan Pooja, saudara perempuan akan berkunjung ke Los Angeles. Tapi Siddharth terus berbicara soal bunuh diri. Kabir terus berusaha mengubah pikiran anaknya.

"Ketika saya mengetahui, dia telah mengirim email kepada sahabatnya di India itu untuk mengucapkan selamat tinggal. Saya tahu, saya harus bertindak cepat," tambah Kadir.

Upaya belum dilakukan, beberapa hari kemudian (pada 1996), Siddharth bunuh diri dini hari di kamar lantai atas. Ia meninggalkan surat. Tertulis ia akan pergi ke 'dunia lain'.

"Itu adalah keputusan yang telah dia jalani. Kesedihan saya luar biasa," ujar Kabir.

Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya