Menkes Nila Puji Program Deteksi Dini Malaria di Teluk Bintuni

Oleh Benedikta Desideria pada 01 Sep 2018, 08:00 WIB
Diperbarui 01 Sep 2018, 08:00 WIB
Menteri Kesehatan Nila Moeloek didampingi pejabat pemerintahan setempat mengunjungi Kabupaten Teluk Bintuni, Provinsi Papua Barat.
Perbesar
Menteri Kesehatan Nila Moeloek didampingi pejabat pemerintahan setempat mengunjungi Kabupaten Teluk Bintuni, Provinsi Papua Barat.

Liputan6.com, Teluk Bintuni Menteri Kesehatan Nila Moeloek memuji inovasi upaya mengatasi malaria secara cepat di Kabupaten Teluk Bintuni Provinsi Papua Barat yang sukses menurunkan kasus penyakit itu di sana.

"Saya kira program EDAT (Early Diagnosis and Treatment) bagus sekali, kami apresiasi," kata Nila di Kantor Dinas Kesehatan Teluk Bintuni ditulis Jumat (31/8/2018).

Sejak 2005, Teluk Bintuni berusaha menurunkan angka malaria di sana dengan melibatkan masyarakat dan perusahaan. Di kampung-kampung wajib ada juru malaria kampung, sementara di perusahaan wajib ada juru malaria perusahaan.

Mereka bertugas untuk mendeteksi secara dini malaria pada warga di kampung atau perusahaan menggunakan rapid diagnostic test (RDT). Jika positif malaria, pasien bakal diberikan obat sesuai berat badan.

Kehadiran juru malaria kampung/perusahaan yang sudah terlatih membuat kurangnya petugas kesehatan di beberapa daerah terpencil tak jadi kendala dalam mengatasi penyakit itu.

"Saya tertarik dengan juru malaria kampung, bila warganya positif malaria lalu langsung diberikan obat sesuai berat badan yang sudah dibedakan melalui warna," kata Nila lagi.

"Jadi, kalau orang yang kena malaria dengan berat badan di atas 60 kg, bakal di kasih obat kemasan ungu," lanjutnya.

 

 

 

* Update Terkini Jadwal Asian Games 2018, Perolehan Medali hingga Informasi Terbaru dari Arena Asian Games 2018 dengan lihat di Sini

 

 

 

2 dari 2 halaman

Masyrakat proaktif

20151020-Ilustrasi-Sakit-Demam
Perbesar
Ilustrasi demam (iStockphoto)

Nila juga mengapresiasi masyarakat yang proaktif ketika merasa tidak enak badan. Bila warga sudah mulai merasa demam tiga hari, tidak nafsu makan, pusing, langsung mendatangi juru malaria kampung/perusahaan.

"Jadi bukan hanya petugas kesehatan saja mendatangi warga yang sakit, tapi juga masyrakatnya sudah mendatangi petugas kesehatan," tutur Nila.

Dengan perubahan perilaku masyrakat Teluk Bintuni, Nila merasa memang pantas mereka menyabet penghargaan United Nations Public Service Award dari kawasan Asia Pasifik.

"Penghargaan dari PBB itu bukti bahwa pemberdayaan masyarakat bisa dilakukan untuk mengatasi masalah kesehatan yang ada di sana," kata Nila.

Lanjutkan Membaca ↓