Akun Palsu Rusia Serang Warga Amerika Serikat dengan Hoaks Antivaksin

Oleh Giovani Dio Prasasti pada 27 Agu 2018, 15:00 WIB
Diperbarui 29 Agu 2018, 14:13 WIB
20160629-Ilustrasi-Vaksin-iStockphoto

 

Liputan6.com, Jakarta Tidak hanya di Indonesia, Amerika Serikat juga sepertinya memiliki masalah dengan hoaks mengenai vaksinasi. Sebuah penelitian menunjukkan banyak akun palsu dari Rusia yang menyebarkan informasi salah tentang vaksin di negeri Paman Sam.

Dilansir dari New York Post pada Senin (27/8/2018), akun-akun nakal memulai debat di media sosial yang menyarankan vaksin tidaklah aman.

Selain itu, bot dan akun yang diretas dan dikenal sebagai cyborg, juga digunakan untuk memberikan klaim palsu tentang vaksin. Dalam beberapa kasus, akun-akun milik pengguna di Rusia itu, dicurigai ikut campur dalam pemilihan umum di Amerika Serikat.

"Temuan kami menunjukkan sebagian besar wacana daring tentang vaksin dapat dihasilkan oleh pelaku dengan berbagai agenda tersembunyi," ujar rekan penulis penelitian Dr. David Broniatowski.

Penelitian yang diterbitkan di American Journal of Public Health ini melihat ribuan tweet yang diunggah antara JUli 2014 sampai September 2017.

Para peneliti menemukan, akun-akun yang disebut pencemar konten tersebut, berbagi pesan anti-vaksinasi 75 persen lebih dari pengguna Twitter rata-rata.

* Update Terkini Jadwal Asian Games 2018, Perolehan Medali hingga Informasi Terbaru dari Arena Asian Games 2018 dengan lihat di sini

 

2 of 2

Memecah Masyarakat

Vaksin HPV (iStockphoto)
Informasi palsu tentang vaksin bertujuan untuk memecah opini masyarakat (iStockphoto)

Lebih dari 250 cuitan terkait dengan agensi yang didukung oleh Pemerintah Rusia di bawah Vladimir Putin, menggunakan taktik yang lebih canggih. Mereka mengunggah pesan untuk melawan vaksinasi.

Selain itu, para peneliti tersebut juga menambahkan apa yang dilakukan penggunggah pesan-pesan antivaksinasi tersebut adalah upaya membangkitkan perpecahan di masyarakat AS.

"Sebagian besar orang Amerika percaya bahwa vaksin aman dan efektif, tetapi melihat Twitter memberikan kesan bahwa ada banyak perdebatan," kata Broniatowski yang merupakan Asisten Profesor di Sekolah Teknik dan Sains Terapan George Washington seperti dikutip dari Foxnews.

Akun-akun tersebut dilaporkan mencoba menghubungkan vaksinasi ke masalah lain seperti ras dan agama, hingga legitimasi pemerintah.

"Akun yang menyamar sebagai pengguna yang terlegitimasi menciptakan kesetaraan palsu, mengikis konsensus publik tentang vaksinasi," kata peneliti menyimpulkan.

Saksikan juga video menarik berikut ini: 

Lanjutkan Membaca ↓