Catat, Syarat yang Harus Dipahami bila Ingin Donor ASI

Oleh Fitri Haryanti Harsono pada 16 Agu 2018, 11:00 WIB
Ilustrasi ASI

Liputan6.com, Jakarta Donor air susu ibu (ASI) menjadi solusi alternatif bila ibu mengalami kesulitan memproduksi ASI sendiri. Sebelum memutuskan donor ASI, ada yarat tertentu dari sisi medis yang harus dipahami ibu.

Usai acara "Media Lunch Anmum #MumToMum dalam Rangka Pekan ASI 2018", dokter spesialis anak konsultan, Ariani Dewi Widodo, memaparkan, donor ASI harus memperhatikan jenis kelamin bayi.

"Ibu harus perhatikan, apakah pendonor ASI itu punya bayi laki-laki atau perempuan. Ini karena ASI untuk kedua jenis kelamin itu berbeda (dari segi peruntukkan)," kata Ariani saat ditemui di Fairmont Jakarta, ditulis Rabu (15/8/2018).

Bagi keluarga muslim, isu kehalalan ASI juga menjadi penting. Apakah ibu pendonor mengonsumsi makanan yang haram atau tidak. Asupan makanan pun menjadi perhatian.

 

* Update Terkini Asian Games 2018 Mulai dari Jadwal Pertandingan, Perolehan Medali hingga Informasi Terbaru dari Arena Pesta Olahraga Terbesar Asia di Sini

 

Simak video menarik berikut ini:

2 of 3

Penyakit yang bisa ditularkan

Cegukan pada bayi (iStock)
Hepatitis B bisa menular ke bayi lewat ASI. (iStockphoto)

Syarat lain yang harus diperhatikan adalah terkait alergen (pemicu alergi), apakah ibu menderita alergi karena konsumsi makanan tertentu, seperti makanan laut (seafood) atau tidak.

Penyakit yang bisa ditularkan melalui ASI juga jadi perhatian. Misalnya, HIV dan hepatitis B. Kedua jenis penyakit itu dapat ditularkan melalui ASI.

"Risiko penularan kecil dari dua jenis penyakit, tapi buat ibu yang menderita hepatitis B, lalu puting payudara lecet itu tidak boleh menyusui dan donor ASI. Tidak direkomendasikan," Ariani menambahkan.

Virus hepatitis B bisa menular ke bayi dari ASI.

3 of 3

Proses pasteurisasi

Ilustrasi nama bayi (iStock)
ASI buat bayi harus dipasteurisasi. (iStock)

SebeIum ASI donor diberikan pada bayi, ASI juga harus dipasteurisasi. Pasteurisasi adalah proses memanaskan ASI untuk mengurangi risiko penularan berbagai penyakit, seperti HIV dan hepatitis B.

"Semua ASI donor harus dipasteurisasi. Ini demi memastikan ASI donor bebas kuman," kata Ariani, yang berpraktik di RS Anak dan Bunda Harapan Kita, Jakarta.

Di sisi lain, donor ASI jangan hanya berpatokan pada pendonor, misal pendonor adalah adik, saudara atau teman baik sendiri. Meski pendonor adalah orang dalam lingkup terdekat, tetap perlu untuk memastikan ASI donor benar-benar aman. 

Pendonor ASI, kata Ariani, harus dipastikan benar-benar bebas dari kuman penyakit. Tentunya, demi keamanan bayi agar tak tertular penyakit.

Lanjutkan Membaca ↓