Selain Trauma, Kebijakan Imigran Ilegal Donald Trump Bisa Sebabkan Ini pada Anak

Oleh Giovani Dio Prasasti pada 21 Jun 2018, 13:30 WIB
Diperbarui 23 Jun 2018, 13:13 WIB
Donald Trump

Liputan6.com, Jakarta Selain trauma dan rasa takut berlebihan akan perpisahan, anak imigran ilegal yang dipaksa berpisah dari orangtuanya akibat kebijakan Donald Trump beberapa waktu lalu juga bisa menimbulkan permasalahan lain. Sekalipun, presiden Amerika Serikat tersebut telah mengakhiri kebijakan tersebut.

Mengutip The Washington Post pada Kamis (21/6/2018), asisten profesor, Jodi Berger Cardoso, yang mempelajari efek trauma pada imigran di University of Houston, AS, jika tidak ditangani trauma itu bisa menyebabkan masalah lain seperti gangguan stres pasca trauma, penyalahgunaan zat, alkohol, hingga bunuh diri.

Anak-anak yang dicegat di perbatasan rentan mengembangkan post traumatic stress disorder (PTSD), serta gangguan lain karena keluarga mereka melarikan diri dari kekerasan dan bencana.

Cardoso dan para ahli lain mengatakan mereka khawatir tentang apa yang terjadi sekalipun anak-anak tersebut, telah bersatu dengan orangtuanya. Beberapa bahkan disatukan di pusat penahanan.

Studi menunjukkan, penahanan jangka panjang memiliki efek merusak pada anak. Itulah mengapa ada beberapa aturan yang membatasi lamanya pihak berwenang menahan anak-anak.

Saksikan juga video menarik berikut ini:

2 of 3

Kekerasan dan Anti-sosial

Penampungan Anak-anak Imigran Gelap di Texas
Foto tanpa tanggal menunjukkan anak-anak imigran gelap yang telah terpisah dari orang tuanya di bawah kebijakan “tanpa toleransi” Presiden Donald Trump di tempat penampungan di Tornillo, Texas. (HHS' Administration for Children and Families via AP)

Penelitian juga melihat bahwa anak laki-laki yang ditahan dalam waktu singkat seperti dua atau tiga minggu mengembangkan perilaku anti-sosial, kekerasan, dan masalah penyalahgunaan zat. Sementara yang perempuan menunjukkan gejala depresi.

Sedangkan mereka yang dideportasi ke negara-negara tertentu seperti Honduras, El Salvador, dan Guatemala yang memiliki angka pembunuhan tertinggi untuk anak-anak dan remaja, akan menghadapi banyak bahaya dan trauma yang sama ketika melarikan diri.

"Kemarahan yang orang-orang telah hadapi beberapa hari terakhir, saya harap akan membuat kita berpikir ini terus terjadi di negara kita setiap hari," kata Cardoso.

"Apa yang telah kita lakukan di perbatasan, itu hanya bagian kecil dari trauma yang sedang terjadi dan akan terus berlanjut," tambahnya.

 

3 of 3

Efek katastropik

Penampungan Anak-anak Imigran Gelap di Texas
Foto tanpa tanggal menunjukkan bagian dari tempat penampungan anak-anak imigran gelap dipisahkan dari orang tuanya di bawah kebijakan “tanpa toleransi” Presiden Donald Trump di Tornillo, Texas. (HHS' Administration for Children and Families via AP)

Seorang profesor pediatri di Harvard, Charles Nelson mengatakan, dampak yang ditimbulkan bahkan sama dengan sebuah bencana.

"Efeknya katastropik," ujar Nelson seperti dikutip dari Tech Times.

"Ada begitu banyak penelitian tentang hal ini jika orang-orang menaruh perhatian pada sains, (masalahnya) mereka tidak akan pernah melakukan ini," tambah Nelson.

Nelson sendiri menganggap bahwa kebijakan tersebut merupakan pelecehan anak dan mereka akan memperjuangkan hak-hak korban sebagai dokter anak.

"Itu benar-benar konyol dan saya melakukan itu bukan sebagai seseorang yang punya posisi dalam politik, tapi sebagai seorang ilmuwan," seru Nelson.

Lanjutkan Membaca ↓