4 Cara Terciptanya Toleransi Beragama di Kehidupan Sehari-hari

Oleh Giovani Dio Prasasti pada 08 Jun 2018, 12:30 WIB
Diperbarui 23 Apr 2021, 14:56 WIB
Waisak
Perbesar
Para Bikkhu berjalan melewati area persawahan menuju Candi Blandongan saat melaksanakan prosesi Puja Waisak 2561 BE di komplek Candi Jiwa, Batujaya, Karawang, Jawa Barat (21/5). (Liputan6.com/Gempur M Surya)

Liputan6.com, Jakarta Toleransi beragama bisa diciptakan dengan cara-cara yang sederhana. Paling tidak, ada beberapa hal yang bisa dilakukan oleh masyarakat untuk membentuk lingkungan yang toleran dalam keberagaman agama.

Motivator Tung Desem Waringin memberikan empat cara bagaimana masyarakat bisa menciptakan toleransi beragama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

1. Saling berkunjung di masyarakat

"(Toleransi beragama bisa muncul) ketika antar orang saling berkunjung," kata Tung Desem di acara pre-launching karya terbarunya "Life Revolution".

"Bukan supaya kita mencari kelemahannya. Tapi untuk saling mempelajari apa kelebihannya tanpa takut meninggalkan agamanya," tambahnya.

Selain itu, tujuan dari saling mengunjungi saudara-saudara kita yang berbeda agama adalah untuk mempelajari mengenai hal-hal positif dari agama tersebut, serta untuk saling menghormati dan menghargai.

"Oh ternyata ajaran agama Islam itu begitu mulia, oh agama Kristen itu ajaran kasih sayangnya luar biasa, Hindu dan Budha itu luar biasa (ajarannya)," kata motivator tersebut seusai bagi-bagi uang di SMP Angkasa Halim Perdana Kusuma, Jakarta Timur. Ditulis Jumat (8/6/2018).

Saksikan juga video menarik berikut ini:

 

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Mengunjungi dan belajar hal positif

Wujudkan Toleransi Beragama, Katedral Ubah Jadwal Misa Minggu Pagi
Perbesar
Suasana di depan Gereja Katedral Jakarta, Jumat (23/6). Pengurus Gereja Katedral Jakarta mengubah jadwal misa Minggu pagi yang bertepatan dengan Hari Idul Fitri. (Liputan6.com/ Immanuel Antonius)

2. Saling berkunjung bagi para pemuka agama

Selain masyarakatnya yang harus sama-sama belajar untuk menghargai dan menghormati ajaran agama lain, para pemuka agama juga harus bisa melakukan hal tersebut.

"Antar pemimpin agama juga harus saling berkunjung," ujar motivator yang bukunya pertamanya "Financial Revolution" tersebut mendapatkan rekor MURI.

3. Bertukar hal positif

Tentunya, dalam sebuah pertemuan antar agama yang dibicarakan adalah hal-hal yang sifatnya positif.

"Sebagai praktisi sehari-hari, komunikasi antar agama bukan yang salah-salah tapi (bicarakan) hal yang positif. Kenapa tidak?" kata Tung Desem.

4. Mengunjungi tempat-tempat nasional dan tempat ibadah

Hal ini agar masyarakat lebih mengenal sejarah perjuangan para pendiri bangsa untuk mempertahankan negara dan keberagamannya. Masyarakat bisa belajar dari tempat-tempat seperti Monumen Pancasila Sakti dan juga Monumen Nasional.

"Atau kalau diijinkan berkunjung ke tempat ibadahnya orang lain," tambahnya.

Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya