5 Tata Laksana Atasi Diare pada Anak

Oleh Liputan6.com pada 28 Apr 2018, 06:00 WIB
Diperbarui 25 Sep 2019, 18:22 WIB
20161226-Aktivitas Anak-Anak Pengungsi Suriah di Kamp Pengungsi-Reuters

Liputan6.com, Jakarta Diare pada anak bisa terjadi karena infeksi diare, jamur, intoleransi makanan, maupun peradangan saluran cerna.

Namun, diare pada anak seringkali disebabkan oleh paparan rotavirus, virus yang berkaitan dengan tingkat kebersihan tangan, makanan, air, dan tempat tinggal.

Ketika anak diare, orangtua pasti akan kebakaran jenggot. Mereka takut si Kecil mengalami hal-hal yang tidak diinginkan, karena tidak jarang bisa menyebabkan kematian.

Sebenarnya, kematian tersebut bukan karena diare, melainkan akibat dehidrasi.

 

 

2 of 3

Diare Akut dan Kronis

Secara umum diare dibagi dua, yaitu diare akut dan melanjut (kronis). Diare akut terjadi dalam jangka waktu kurang dari 14 hari, sementara diare kronis terjadi dalam waktu lebih dari 14 hari. Berdasarkan panduan WHO, ada lima pilar tata laksana diare akut pada anak:

  1. Rehidrasi, yaitu pemberian cairan yang cukup untuk mengatasi dehidrasi.
  2. Pemberian seng (zink) yang penting untuk memperbaiki vili usus anak yang rusak.
  3. Nutrisi, artinya nutrisi anak tetap harus dijaga selama mengalami diare.
  4. Penggunaan antibiotik secara selektif pada kasus tertentu.
  5. Edukasi orang tua mengenai tanda dehidrasi dan menjaga higienitas.
  6. Pada kasus diare kronis, selain lima pilar tersebut, perlu dilakukan evaluasi lebih lanjut oleh dokter untuk mencari apa penyebab diare kronis tersebut sehingga tata laksana tambahan yang tepat dapat diberikan.

 

3 of 3

Kapan Anak Diare Harus Diberikan Antibiotik

Pertanyaannya, lalu kapan anak diare perlu mendapat antibiotik? Secara umum penggunaan antibiotik tidak diperlukan pada kasus diare akut. Meski demikian ada beberapa pengecualian.

Merujuk keterangan di atas, maka kondisi diare yang membutuhkan penggunaan antibiotik antara lain, diare berdarah yang dicurigai suatu infeksi bakteri atau parasit, diare dengan demam tinggi atau infeksi berat. Selain itu ada pula kondisi diare yang disebabkan oleh kolera, diare pada anak dengan gizi buruk, dan diare yang disebabkan oleh penyakit infeksi bakteri lain seperti demam tifoid.

Penulis : dr. Reza Fahlevi / Klik Dokter

Lanjutkan Membaca ↓