Terapi Cuci Otak Tak Selalu Berhasil, Profesor Ini Ungkap Kasusnya

Oleh Giovani Dio Prasasti pada 10 Apr 2018, 14:00 WIB
Diperbarui 10 Apr 2018, 14:00 WIB
Dokter Terawan dan Komisi I DPR RI
Perbesar
Dokter Terawan melakukan konferensi pers bersama anggota Komisi I DPR RI di RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta Pusat, Rabu (4/4/2018). (Liputan6.com/Benedikta Desideria)

 

Liputan6.com, Jakarta Tidak semua pasien yang ditangani dengan metode Digital Subtraction Angiography (DSA) atau yang sering disebut cuci otak menunjukkan hasil yang memuaskan.

Keberhasilan terapi cuci otak (CO) dokter Terawan Agus Putranto kebanyakan dirasakan oleh mereka yang tidak sakit stroke. Demikian menurut Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia (Perdossi), Profesor Dr dr Moh. Hasan Machfoed.

"Banyak sekali testimoni membela CO. Testimoni datang dari orang-orang yang pernah di-CO, yang umumnya tidak sakit stroke, tapi hanya ingin terhindar dari stroke," tulis Hasan dalam opininya yang berjudul "Gonjang Ganjing Terapi Cuci Otak" di Jawa Pos Senin, 9 April 2018.

Dengan demikian, kebanyakan testimoni dianggap berasal dari orang sehat.

Dalam tulisannya, Hasan mengungkapkan dua cerita kegagalan terapi tersebut, meski bukan dilakukan oleh dokter Terawan.

Kasus pertama terjadi pada 17 Mei 2013. Saat itu, seorang radiolog RSUD Dr. Soetomo Surabaya melakukan terapi cuci otak terhadap seorang perempuan 68 tahun yang menderita stroke iskemik. Setelah terapi, kondisi pasien semakin memburuk. Dia meninggal beberapa waktu kemudian.

Pada 11 Juni 2013, komite medis rumah sakit RSUD Dr Soetomo memanggil dokter yang melakukan terapi. Namun, dokter itu tidak bisa menunjukkan bukti ilmiah yang mendasari tindakannya.

"Dia hanya berkata bahwa CO sudah sering dilakukan oleh dr T dan hasilnya baik. Sejak tanggal itu, CO dilarang di RSUD Dr Soetomo," tulis Hasan.

 

Simak juga video menarik berikut ini: 


Alami Kelumpuhan Setelah Cuci Otak

Dokter Terawan dan Komisi I DPR RI
Perbesar
Pertemuan Dokter Terawan Agus Putranto dengan Komisi I DPR RI di RSPAD Gatot Subroto. (Liputan6.com/Benedikta Desideria)

Masih dalam tulisan yang sama, Hasan mengungkap kisah kedua ketidakberhasilan terapi cuci otak. Kali ini tindakan dilakukan pada 21 Januari 2015. Seorang pria berobat kepada dr T di RSPAD Gatot Soebroto. Sebelumnya, keadaan pria itu normal, dapat berjalan, berbicara, dan lainnya.

Namun, beberapa jam pasca-tindakan, orang tersebut mengalami kelumpuhan tangan, kaki, dan bagian tubuh sisi kanan.

"Itu sekadar fenomena contoh gunung es yang tampak kecil di permukaan tapi besar di bawahnya," ungkap dosen Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya dalam pernyataannya.

Menurut Hasan, CO tidak dapat mencegah stroke. Tindakan pencegahan untuk terhindar dari stroke adalah dengan cara hidup sehat.

Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya