Tanpa Uji Klinis, Seribu Testimoni Terapi Dokter Terawan Tak Berarti

Oleh Fitri Haryanti Harsono pada 10 Apr 2018, 12:00 WIB
Diperbarui 10 Apr 2018, 12:00 WIB
Pemecatan Sementara Dokter Terawan Ditunda, Ini Penjelasan IDI
Perbesar
Ketua PB IDI Ilham Oetama Marsis saat dimintai keterangan awak media di kantor IDI, Jakarta, Senin (9/4). Sebelumnya, Majelis Kehormatan Etik Kedokteran (MKEK) PB IDI memberi sanksi ke dokter Terawan. (Liputan6.com/JohanTallo)

 

Liputan6.com, Jakarta Berbagai pihak yang merasakan terapi dokter Terawan Agus Putranto, dikenal dengan Digital Substraction Angiogram (DSA) atau cuci otak (Brain Wash) menyatakan puas dengan hasilnya. Meski begitu, tanpa proses uji klinis, terapi ini tak berarti apa-apa bagi dokter.

"Ada kaidah ilmiahnya secara akademis, tapi (keberhasilan terapi cuci otak) bukan hanya dinilai dari testimoni. Itu harus melalui tahap uji klinis. Seribu testimoni enggak ada artinya, kalau enggak ada hasil Evidence Based Medicine (EBM)-nya (dari uji klinis),"ujar Ketua Dewan Pertimbangan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Errol U Hutagalung, di Jakarta, Senin (9/4/2018).

Errol menyebutkan, EBM akan meneguhkan metode terapi cuci otak dokter Terawan teruji secara klinis dan dapat dipertanggungjawabkan.

Memang, terapi cuci otak sudah ditulis dalam Jurnal Ilmiah Internasional dan dinyatakan ilmiah, tetapi masih perlu penelitian lanjut. "Ada tahapan selanjutnya, apakah temuan ini bisa diterapkan secara luas. Harus melalui tahap uji klinis (bukan hanya riset secara akademis),"Ketua Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) Ilham Oetama Marsis dalam konferensi pers di Kantor PB IDI, Jakarta, Senin (10/4/2018) menegaskan.

 

 

Simak video menarik berikut ini:

2 dari 2 halaman

Tunggu Penilaian dari Tim HTA

Dokter Terawan dan Komisi I DPR RI
Perbesar
Dokter Terawan dan Ketua Komisi I DPR RI, Abdul Kharis, di RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta Pusat, Rabu (4/4/2018). (Liputan6.com/Benedikta Desideria)

Karena itu demi menilai metode ini, IDI sedang menunggu hasil dari tim Health Technology Assessment (HTA) yang dibentuk Kementerian Kesehatan. HTA punya kewenangan untuk membuktikan, apakah terapi cuci otak dokter Terawan sudah sesuai prosedur atau belum.

Tak hanya Dahlan Iskan yang kita kenal bercerita banyak tentang terapi cuci otak di tahun 2013. Juga ada Aburizal Bakrie, mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Mahfud MD, Inggrid Kansil, dan beberapa  tokoh lain menyatakan terapi cuci otak meyembuhkan.

Kombes Pol Krishna Murti lewat akun Instagram pribadinya, @krishnamurti_91, menuliskan, "Saya pernah menjalani perawatan dengan metode DSA oleh Dokter Terawan di RSPAD Gatot Subroto."

"Dari sisi medis dll saya tidak paham. Yang saya rasakan adalah kesehatan saya pulih dan lumayan membaik saat itu..," tulis Krishna dengan foto yang menunjukkan usai dia menjalani terapi tersebut bersama dokter Terawan.

Lanjutkan Membaca ↓