Baru Mulai Olahraga di Usia 30, Pilih Lari, Zumba, atau Beban?

Oleh Aditya Eka Prawira pada 28 Feb 2018, 18:00 WIB
Diperbarui 02 Mar 2018, 17:13 WIB
Ilustrasi Olahraga Lari (iStockphoto)

Liputan6.com, Jakarta Keinginan untuk mulai olahraga baru muncul saat Dewi K Rahmayanti menginjak usia 31. Olahraga lari yang dia pilih. Terhitung sudah empat tahun Dewi rutin melakukan olahraga ber-budget minimalis tersebut.

"Telat ya?" kata Dewi saat memulai obrolan dengan Health Liputan6.com pada Rabu, 28 Februari 2018.

Ada pun pemicu utama Dewi mantap berolahraga, tidak lain karena berat badan. Berat badan yang terus naik membuat ibu satu orang anak ini tampak seperti sedang mengandung.

"Waktu itu BB aku hampir 79 kilogram. Itu kayak lagi hamil tujuh bulan," kata Dewi sembari tertawa.

Nyaris tidak pernah olahraga, ditambah bobot yang membengkak, Dewi merasa seperti tidak punya daya dan tenaga setiap kali mau melakukan apa saja.

 

Ilustrasi Olahraga Lari (iStockphoto)
Setelah Menekuni Olahraga Lari Selama Satu Tahun, Banyak Perubahan ke Arah yang Lebih Baik Dirasakan Dewi (Ilustrasi/iStockphoto)

"Setelah umur 30 tahun memang tidak se-strong dulu lagi. Terus berasa berat banget mau ngapa-ngapain. Lalu stamina gampang ngedrop," kata Dewi menambahkan.

Dari kondisi itu, muncul sebuah tekad dari dalam benak Dewi untuk mulai olahraga. "Aku harus doing something," kata dia lagi.

Sejumlah hal yang Dewi alami semakin meyakinkan bahwa memang benar stamina yang dia punya setelah berumur kepala tiga tidak sekuat dulu, yaitu badan mudah capai dan lelah.

 

2 of 4

Bertekad untuk Mulai Olahraga

Ilustrasi Olahraga Lari (iStockphoto)
Lambat Laun Dewi Mulai Menemukan Kenikmatan Melakukan Olahraga Lari (Ilustrasi/iStockphoto)

Dewi adalah pekerja kantoran yang masih setia menggunakan jasa angkutan umum. Mengingat tempat tinggal yang terletak di kawasan Depok, Jawa Barat, sementara harus berkantor di daerah Jakarta Selatan, sudah pasti Dewi harus menggunakan kereta api kemudian lanjut naik angkotan kota (angkot).

"Berasa banget saat naik-turun tangga, dan berasa sih semua jadi melamban," kata Dewi.

Dewi mengaku pasti kerokan setiap dua hari sekali karena gejala yang dia pikir masuk angin dan flu.

Namun, Dewi sadar, tidak mungkin hal-hal semacam itu dibiarkan begitu saja. "Maka itu aku memutuskan harus olahraga," ujar Dewi.

 

Ilustrasi Olahraga Lari (iStockphoto)
Tekad Bulat Menekuni Olahraga Lari Membawa pada Kebiasaan Dewi yang Selalu Olahraga di Mana pun dan Kapan pun (iStockphoto)

Perubahan amat signifikan langsung Dewi rasakan setelah aktif berlari. Perbedaan yang jauh banget, bila dibandingkan yang dulu-dulu.

"Pertama aku lebih strong, tidak berasa lebih mudah lelah dan tidak gampang sakit," kata Dewi. Hanya sesekali masih sering flu, karena dampak polusi asap knalpot dan udara.

Olahraga lari sudah menjadi rutinitas dan sebuah keharusan bagi Dewi. Dia sebisa mungkin untuk lari minimal tiga kali seminggu. Setiap kali bepergian pun, Dewi akan selalu membawa baju dan sepatu lari.

"Kalau engga lari, aku merasa semua makanan yang masuk ke tubuh, terserap dengan cepat dan bikin mudah gemuk. Ini salah satu hal yang terasa banget," kata Dewi.

Maka itu, penggiat media sosial ini selalu menyempatkan diri untuk lari. Sebab, lari merupakan satu-satunya olahraga yang dapat Dewi kerjakan agar selalu sehat dan fit.

"Aku tipe pemalas. Aku malas pergi ke suatu tempat untuk olahraga. Lari adalah yang paling mudah karena bisa dilakukan di rumah," kata perempuan 35 tahun ini menekankan.

 

 

3 of 4

Olahraga untuk Perempuan Berumur 30 Tahun

Ilustrasi Olahraga dan Angkat Beban (iStockphoto)
Aufra, Fitness Educator dari APKI Mengatakan Bahwa Sebaiknya Perempuan 30 Tahun Harus Melakukan Olahraga Kardio dan Beban (ilustrasi/iStockphoto)

Menyoal olahraga untuk perempuan yang menginjak umur 30 tahun, seorang Fitness Educator dari Asosiasi Pelatih Kebugaran Indonesia (APKI), Teuku Aufra Maretto mengatakan bahwa semua itu tergantung pada tujuan yang ingin dicapai, preferensi, dan rekam medis masing-masing individu.

Menurut pelatih pribadi sejumlah tokoh masyarakat dari dunia hiburan ini, pada dasarnya tidak ada yang membedakan bentuk olahraga yang baik untuk dilakukan perempuan usia 30 maupun di bawah dari umur tersebut.

Namun secara umum, Aufra merekomendasikan gabungan latihan kardio dan beban.

 

Ilustrasi Olahraga dan Angkat Beban (iStockphoto)
Apa Sebenarnya Manfaat Latihan Kardio dan Beban (iStockphoto)

Sudah banyak yang tahu, keuntungan rutin olahraga kardio seperti yang dilakukan Dewi, bisa membantu memelihara kesehatan jantung dan memperlancar aliran darah.

Sementara olahraga beban, usah takut akan membuat perempuan tampak lebih berotot. Kegunaan olahraga satu ini, lebih untuk meningkatkan metabolisme tubuh, menambah kepadatan tulang sehingga mengurangi risiko osteoporosi, juga untuk mendapatkan postur dan komposisi tubuh yang lebih baik.

"Manfaat lain yang didapat dari olahraga atau latihan beban adalah meningkatkan kekuatan sehingga mempermudah dalam melakukan aktivitas sehari-hari, dan kemungkinan cedera seperti sakit pinggang akan berkurang," kata Aufra dihubungi terpisah.

Ketika semua manfaat itu didapat, secara otomatis kepercayaan diri ikut meningkatkan.

 

4 of 4

Olahraga Beban atau Kardio untuk Perempuan 30 Tahun?

Ilustrasi Olahraga dan Angkat Beban (iStockphoto)
Yuk, Olahraga Beban dan Kardio (Ilustrasi/iStockphoto)

Akan tetapi kembali lagi, jika Anda adalah tipe orang seperti Dewi yang sudah nyaman dengan latihan kardio, Aufra rasa itu bukan persoalan.

Bagi cowok yang merupakan salah satu pendiri dan ketua dari Asosiasi Kalistenik dan Streetworkout Indonesia (AKSI) ini, ketika seorang perempuan sudah mau bergerak saja, walaupun hanya melakukan kardio, itu jauh lebih baik ketimbang tidak olahraga sama sekali.

Mengingat masih banyak perempuan yang memiliki pola hidup sedentary (tidak banyak melakukan aktivitas fisik) dan belum menyadari pentingnya olahraga.

"Namun, akan lebih baik lagi jika ditambahkan latihan beban untuk manfaat-manfaat seperti yang sebelumnya saja jelaskan," ujar Aufra.

Lanjutkan Membaca ↓

Tag Terkait