Hati-Hati Serangan Kutu Babi Saat Menginap di Honai

Oleh Fitri Haryanti Harsono pada 25 Agu 2017, 12:00 WIB
Diperbarui 27 Agu 2017, 11:13 WIB
Kutu

Liputan6.com, Wamena, Papua Kutu babi atau cengkenit biasa hidup di area yang punya tingkat kelembapan tinggi. Misalnya, di antara daun dan rerumputan, semak-semak, dan hutan. Tak heran, Anda yang berani menantang diri bersentuhan dengan hutan pedalaman harus siaga terhadap kehadiran kutu babi.

Namun, tak hanya di hutan, Anda juga berisiko tinggi terkena serangan kutu babi saat menginap di honai. Honai merupakan rumah adat Papua yang terbuat dari kayu dengan atap berbentuk kerucut.

Seluruh bangunan honai ditutupi jerami dan ilalang. Di dalam honai, jerami menjadi alas yang dipakai untuk menutupi tanah.

Orang yang masuk ke dalam honai akan duduk beralaskan jerami. Agar lebih nyaman, biasanya sebuah tikar berukuran sedang ditaruh di atas jerami. Pengalaman merasakan langsung sensasi menginap di honai, Health Liputan6.com dapatkan bersama tim Wahana Visi Indonesia (WVI) ketika berkunjung ke Wamena, Papua.

Kami berkunjung ke honai yang berada di Desa Auktama, Wamena, Papua pada Rabu, 16 Agustus lalu. Bahkan kami berkesempatan menginap semalam di honai.

Terselip rasa penasaran, bagaimana rasanya menginap di honai. Namun, yang paling membuat cemas adalah semua honai berisiko tinggi adanya kutu babi.

 

 

Simak video menarik berikut ini:

 
2 of 4

Pantangan saat tidur

Keberadaan kutu babi memang sudah diperingatkan jauh-jauh hari oleh rekan-rekan yang berpengalaman menginap di honai. Ya, ada beberapa pantangan yang harus dihindari saat tidur di honai.

Pertama, hindari tidur bersentuhan langsung dengan jerami. Maka dari itu kami menggelar tikar kecil sebagai alas untuk duduk. Tidur pun harus memakai sleeping bag, yang membuat tubuh sebagian besar tertutupi.

Ketika tidur di dalam honai hindari bersentuhan langsung dengan jerami. (Foto: Wahana Visi Indonesia)

Kedua, lepas kaus kaki saat tidur. Hal ini karena kutu babi bisa menempel di kaus kaki sehingga membuat kaki gatal-gatal. Kedua cara ini dianggap dapat mengurangi serangan kutu babi.

3 of 4

Bintil- bintil seperti biang keringat

Saking ganasnya kutu babi, cara untuk mengurangi risiko serangan kutu babi seakan kurang ampuh. Kutu babi menyerang tubuh tak hanya dari jerami yang menjadi alas di tanah. Kutu babi juga berjatuhan dari jerami dan kayu-kayu yang menutupi bagian atas honai.

Meskipun tidur berbalut sleeping bag, wajah yang tetap terbuka bisa menjadi sasaran empuk kutu babi mampir.

Gigitan dari kutu babi maupun kutu babi yang masuk ke pori-pori kulit membuat gatal-gatal. Bukan rasa gatal biasa, melainkan rasa gatal yang panas. 

Gatal sangat terasa seusai bangun tidur di pagi hari. Gejala lainnya, muncul bintil-bintil seperti biang keringat, terutama pada wajah. Bintil-bintil tersebut sedikit demi sedikit muncul, lantas menyebar ke seluruh wajah. Itulah yang Health-Liputan6.com rasakan. 

 

Honai jadi tempat nyaman bersarang kutu babi. (Foto: Wahana Visi Indonesia)

Menurut rekan WVI, kondisi tersebut memang termasuk efek serangan kutu babi. Kondisi ini terjadi dua hari setelah Health Liputan6.com pulang ke Jakarta. Tiba di Jakarta pada Jumat, 18 Agustus. Bintil-bintil awalnya muncul di sekitar mulut pada Minggu, 20 Agustus, yang kemudian menyebar di pipi dan kening.

Efek serangan kutu babi tidak dirasakan langsung setelah menginap di honai. Rasa gatal akibat kutu babi muncul belakangan saat kembali ke lokasi tinggal masing-masing.

4 of 4

Obat minum dan salep

Munculnya bintil-bintil seperti biang keringat dan gatal harus lekas diobati. Jika dibiarkan akan menyebar ke bagian tubuh lain. Pemeriksaan bisa dilakukan ke dokter spesialis kulit.

Dokter akan memberikan resep berupa obat antibiotik, anti-inflamasi (peradangan), dan salep yang dioleskan pada wajah. Salep ini dioleskan sebelum tidur.

Bila enggan ke dokter, ada beberapa rekomendasi dari rekan WVI, yakni salep bernama elocon mometasone furuoate. Salep ini sebagai anti-peradangan agar menekan penyebaran bintil-bintil dan mengurangi gatal.

Obat salep elocon mometasone furuoate bisa jadi rekomendasi untuk mengobati kutu babi. (Foto: Wahana Visi Indonesia)

Ada juga obat minum bernama dextamin untuk membunuh infeksi yang ditimbulkan akibat gigitan kutu. Dextamin juga berfungsi sebagai obat anti-inflamasi.

Obat yang diminum teratur dan pemakaian salep bisa membuat efek serangan kutu babi hilang dalam waktu 3-5 hari. Bintil-bintil makin lama mengecil dan hilang. Rasa gatal pun berkurang hingga sembuh.

Lanjutkan Membaca ↓

Tag Terkait