Nostalgia Mereka yang Kini Dewasa di Hari Pertama Sekolah Dulu

Oleh Nilam Suri pada 17 Jul 2017, 19:00 WIB
Diperbarui 17 Jul 2017, 19:00 WIB
hari pertama sekolah
Perbesar
Ilustrasi anak sekolah. (via: Liputan6.com))

Liputan6.com, Jakarta Hari ini, Senin (17/7/2017) adalah hari pertama sekolah di tahun ajaran baru. Tahun ajaran baru biasanya juga mendatangkan banyak cerita baru, terutama untuk anak-anak yang baru pertama kali sekolah, atau baru masuk ke jenjang sekolah yang lebih tinggi.

Tentunya cerita-cerita unik tentang hari pertama sekolah bukan milik anak sekarang saja. Melihat sampai puluhan tahun ke belakang, tentunya mereka yang kini sudah jadi orangtua juga punya cerita lucu sendiri.

Beberapa di antara mereka berbagi kenangan unik di hari pertama sekolah kepada tim Health-Liputan6.com, simak cerita mereka:

Sindy, 33 tahun

"Saya sih dari kecil anaknya adem ayam, nggak takut masuk sekolah. Cuma ingat, saat sudah sampai sekolah lalu ngeliatin semua orang yang datang dan mikir, 'my mom's prettier than all of y'all!!!'. Itu saja sih, oh sama inget, sempat mikir sekolah saya kok baunya kayak eek kuda, ya, karena saat itu lapangannya sedang diuruk."

Azwar, 28 tahun

"Hari pertama sekolah, saya tidak diantar ibu, karena saya satu sekolah sama Abang. Tapi begitu masuk ke dalam kelas, pintunya tidak boleh ditutup, karena saya jadi nggak bisa lihat abang saya. Kalau pintunya ditutup saya pasti akan nangis. Abang saya jadi nggak bisa masuk kelasnya, deh, karena harus ada di depan kelas saya terus."

 

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Nindy, 30 tahun

hari pertama sekolah
Perbesar
hari pertama sekolah

"Saat TK, saya sial beruntun sepanjang hari pertama. Pakai sepatu merah baru, dibeliin Bokap. Ukurannya kebesaran, jadi jatuh kesandung. Di kelas diam di pojokan (saya socially awkward sejak dini). Pas pulang dibeliin kue bolu kura-kura aneka warna, hadiah karena nggak nangis, eh kuenya jatuh. Barulah nangis kejer, 'Nggak mau sekolaaaaaaaaah'."

Karmin, 25 tahun

"Hari pertama masuk sekolah? Biasa saja, tidak begitu mendebarkan, tidak juga excited. Masuk SD aku sudah bisa membaca, meski nggak pakai TK. (Aku menolak sekolah TK, karena cuman diajari nyanyi-nyanyi).

Tapi aku mulai menduga-duga, lalu menandai, mana saja anak-anak yang pintar. Bukan bermaksud untuk meng-climber-i, tapi justru untuk menjaga jarak, untuk lebih cool dan cuek pada mereka.

Anak-anak pintar itu biasanya "dimusuhi" banyak teman karena pelit ngasih contekan. Nah tanpa bermaksud menjadi pahlawan kesiangan, aku selalu menyebarkan semua jawaban tiap ada ulangan (tes). Aku senang, teman-temanku lebih senang."

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Pra, 36 tahun

Dian Sastrowardoyo
Perbesar
Dian Sastrowardoyo mengantar anaknya, Shailendra, masuk sekolah hari pertama.

"Pertama kali masuk TK, nggak kebagian tempat duduk, soalnya memang enggak diterima. Umurnya kurang. Tapi tetep mau masuk kelas bareng teman-teman sepermainan yang diterima. Duduknya ndusel di tengah, dua kursi dijejerkan dan ditempati bertiga. Akhirnya sekolahnya baik hati mau nambah kursi buat siswa penyusup."

Ika, 33 tahun

Wah kalo aku pertama masuk SD enggak lucu ceritanya. Karena waktu itu ngedadak daftar SD-nya, gara-gara ngeliat teman sepermainan aku yang usianya satu tahun di atasku berangkat sekolah, pakai baju putih-merah terus ada rompinya.

Ngeliat itu, aku nangis kejer pengin sekolah, sampai satu bangku rusak aku cabik-cabik. Akhirnya dengan terpaksa umi anter aku ke sekolah terus didaftarin.

Kepseknya awalnya enggak mau, tapi umi maksa soalnya anaknya enggak mau berhenti nangis sampe saat didaftarin itu. Lalu, terjadilah pengubahan nama yang semena-mena oleh pak kepala sekolah.

Sejak itu, Ika Sekarwangi lenyap, berubah menjadi Ika Agustina. Terus jadinya hari itu aku langsung masuk kelas, enggak pakai seragam, dan duduk sama teman sepermainan aku."

 

 

 

 

Lanjutkan Membaca ↓

Video Pilihan Hari Ini

BERANI BERUBAH: Soto Gratis Warga Isoman