WHO: Cegah, Tes dan Obati Semua yang Hidup dengan HIV/AIDS

Oleh Fitri Syarifah pada 01 Des 2016, 18:30 WIB
Diperbarui 01 Des 2016, 18:30 WIB
Hari AIDS Sedunia 2016
Perbesar
Tanggal 1 Desember setiap tahunnya, diperingati sebagai Hari AIDS Sedunia.

Liputan6.com, Jakarta Sejak 1988, setiap 1 Desember, dunia memperingati Hari AIDS Sedunia (HAS). Peringatan ini merupakan kesempatan untuk menguatkan komitmen bersama untuk mencegah penularan dan mengobati mereka yang hidup dengan HIV/AIDS.

Kesempatan ini juga menarik kepedulian terhadap epidemik HIV, meningkatkan kesadaran tentang HIV, dan terutama untuk mengenang mereka yang meninggal karena AIDS, menunjukkan solidaritas terhadap anggota masyarakat yang hidup dengan HIV/AIDS (ODHA), merayakan keberhasilan meretas dan mengatasinya di abad 21 ini.

Direktur Regional WHO Dr Poonam Khetrapal Singh menyatakan, hari ini adalah saat historis dalam perjuangan melawan HIV/AIDS, dengan pengendalian epidemi ini sebagai bagian dari Millennium Development Goals 2015. Namun, komitmen terhadap akses umum terhadap pengobatan HIV masih belum seperti yang diharapkan.

"Kini kita berangkat dengan misi menuntaskan epidemi AIDS sebagai ancaman kesehatan masyarakat di 2030, sebagai bagian dari Sustainable Development Goal 3.3, melalui upaya tercapainya target 90-90-90 pada 2020; yaitu mengidentifikasi 90% mereka yang terinfeksi HIV, memungkinkan pengobatan bagi 90% dari mereka, dan mereka yang diobati 90% diantaranya berhasil selamat dari berbagai dampak HIV di tubuh mereka. Selain memungkinkan orang dengan HIV hidup lebih lama dan sehat, ini juga memutuskan tali penularan, sehingga memperkecil jumlah yang terinfeksi," katanya, melalui keterangan pers yang diterima Liputan6.com, Kamis (1/12/2016).

Menurut Singh, kemajuan sains telah menghasilkan perangkat pencegahan yang lebih baru, obat yang ampuh, dan perangkat diagnostik untuk memantau dan mengukur perubahan dan efektivitas intervensi. Utamanya, kita memiliki kemauan aktif, dorongan politis dan komitmen, melibatkan kelompok masyarakat yang telah memungkinkan terbukanya harapan bagi pengendalian HIV/AIDS.

"Hanya 1 dari 2 orang yang memiliki HIV tahu bahwa mereka memilikinya, dan mereka yang telah tau hanya separuh menjalani pengobatan. Kita tak dapat membiarkan momentum saat ini untuk mencapai keberhasilan kesehatan masyarakat, dengan kerjasama pemerintah dengan mitra dan kalangan akademisi," ujarnya.

Diperkirakan terdapat 3,5 juta orang dengan HIV hidup di 11 negara di kawasan Asia Tenggara ini. Diantaranya, 1,4 juta kini menjalani pengobatan. Pengobatan telah berhasil menurunkan infeksi baru sebanyak 47% antara tahun 2010 dan 2015. Namun keberhasilan menghindari kematian dalam waktu 10 tahun terakhir kini sampai pada stagnasi, yang satu alasannya adalah keterlambatan diagnosis dan pengobatan.

Pengendalian virus adalah indikator kunci bagi dampak pengobatan dan efektivitas program pengendalian, selain mendukung deteksi resistensi obat. Penting untuk memerangi resistensi antimikroba (AMR), yang merupakan tantangan bagi kesehatan masyarakat. Akses terhadap pengukuran rutin kadar virus masih merupakan tantangan bagi kebanyakan negara di kawasan ini--kecuali Thailand.

Stigma dan diskriminasi terus merupakan hambatan bagi populasi kunci yang berisiko tinggi terinfeksi HIV, dan ini perlu dirubah demi tercapainya dunia tanpa AIDS.

Penyediaan pelayanan HIV sebagai bagian dari universal health-care terbukti memberi hasil seperti kita lihat di Thailand, yang telah berhasil melakukan eliminasi penularan HIV dan sifilis dari ibu ke anak, Juni 2016.

Dengan meluasnya pengobatan, ODHA dapat hidup lebih lama dan berisiko terkena penyakit tidak menular yang disebabkan gaya hidup. Penyakit non-AIDS kini merupakan penyebab kematian banyak orang dengan HIV. Ini memerlukan model pelayanan kronis dengan pendekatan pelayanan kesehatan primer.

WHO telah memperbaharui bukti-bukti pencegahan, tes, pengobatan, pemantauan--termasuk resistensi- dan pendekatan pelayanan kesehatan. The Global Strategy on Health Sector Response to HIV 2016–2021, didukung oleh semua negara anggota WHO di forum World Health Assembly, Mei 2016, sehingga menyediakan kerangka bagi intervensi berbasis bukti ilmiah, yang efektif dan berkelanjutan.

Kita perlu lebih inovatif dan tepat sasaran, memusatkan perhatian dan prioritas pada intervensi, terutama di wilayah epidemi rendah dan terkonsentrasi di negara padat penduduk. Ini sangatlah penting dengan menurunnya sumber daya.

Aksi proaktif dan kuat, didukung keinginan politis, disertai pendanaan inovatif dan berkelanjutan, akan memungkinkan berkelanjutannya percepatan respon HIV national yang menentukan tercapainya generasi bebas, dan dunia bebas dari HIV/AIDS.