Lebih Dekat dengan STOVIA, Tempat Belajar Calon Dokter Indonesia

Oleh Fitri Syarifah pada 20 Mei 2016, 19:19 WIB
Diperbarui 20 Mei 2016, 19:19 WIB
STOVIA
Perbesar
Sekolah Kedokteran. Foto: skyscrapercity

Liputan6.com, Jakarta Hari Kebangkitan Nasional 2016 semestinya bukan hanya dirayakan seremonial semata. Sebab hari ini, bangsa Indonesia kembali diingatkan mengenai rasa dan semangat Persatuan, Kesatuan, dan nasionalisme serta kesadaran untuk memperjuangkan kemerdekaan Republik Indonesia.

Untuk mengenang kembali para tokoh Kebangkitan Nasional, kami akan mengulas kembali mengenai sejarah School tot Opleiding voor Indische Artsen (STOVIA)--cikal bakal Fakultas Kedoketeran Universitas Indonesia.

 

Nama besar STOVIA tidak begitu saja melekat di hati masyarakat. Dulu, tepatnya akhir abad-19, Bumi Pertiwi dilanda virus mematikan, cacar yang bertanggung jawab menyebabkan 300-500 juta kematian di seluruh dunia.

Saat itu, pemerintah kolonial Belanda kewalahan menanganinya. Hingga pada 2 Januari 1849 pemerintah mengeluarkan ketetapan Gubernemen No.22 yang berisi titik awal pendidikan kedokteran Indonesia (Nederlandsch Indie) walaupun lulusannya hanya tercatat sebagai mantri cacar.

"Nyaris 10 tahun lamanya Indonesia harus menunggu untuk memperoleh wewenang lebih dari sekadar Mantri Cacar. Pada 1864, lama pendidikan kedokteran diubah menjadi 3 tahun dan lulusan yang dihasilkan dapat menjadi dokter, meskipun masih di bawah pengawasan dokter Belanda," tulis laman sejarah FKUI.

Pada 1898, mana Nederlandsch Indie berubah menjadi STOVIA yang memiliki lama pendidikan cukup panjang yaitu sembilan tahun. Namun baru setahun berjalan, waktu studi bertambah menjadi 10 tahun. Bersamaan dengan itu, sekolah kedokteran pertama di Surabaya dibuka dengan nama NIAS (Nederlands Indische Artsenschool).

STOVIA ketika itu hanya menerima siswa tamatan sekolah Belanda. Murid yang telah diterima itupun harus mengikuti persiapan belajar selama 3 tahun. Dan tak banyak mahasiswa yang mampu mengikuti pelajaran. Pada 1903 terjadi perbaikan dalam hal penerimaan siswa, siswa-siswa dari sekolah pribumi akhirnya bisa diterima masuk dengan syarat memiliki nilai ujian yang tertinggi.

STOVIA

Sejak itu, seperti dimuat Jakartapedia, STOVIA membebaskan mahasiswanya dari kewajiban membayar. Bahkan setiap mahasiswa menerima uang saku sebesar 15 gulden per-bulan. Hal Ini untuk mendongkrak minat orang muda masuk ke sekolah dokter.

Dengan pembebasan biaya itu, maka banyak orang dari keluarga kurang mampu atau golongan priayi rendah masuk ke sekolah tersebut.

Pada 1927, STOVIA berganti namanya menjadi Geneeskundige Hooge School (GHS). Perubahan nama ini juga disertai dengan perubahan syarat masuk GHS yang semula adalah setingkat sekolah dasar (SD) sekarang harus memiliki gelar setingkat Sekolah Menengah Atas (SMA) yang disebut Algemene Middelbare School untuk masuk kedalam sekolah pendidikan dokter ini.

Sayangnya, pada akhir 1941, Stovia ditutup karena Perang Dunia ke II. Indonesia kala itu tunduk pada tentara Jepang. Selang enam bulan, seorang mahasiswa kedokteran NIAS yang bernama Soejono Martosewojo bersama Dr. Abdul Rasjid mengajukan proposal kepada Prof. Ogira Eiseibucho yang menjadi Kepala Kantor Kesehatan Pemerintah Militer Jepang untuk membuka kembali sekolah pendidikan dokter di Indonesia. Pendidikan kedokteran di Indonesia dimulai lagi dengan diresmikannya sekolah Ika Daigaku pada tanggal 29 April 1943.

Februari 1947, Belanda yang kembali menginvasi Indonesia melangsungkan kegiatan pendidikan kedokteran dengan memakai nama Genesskundige Faculteit, Nood-Universiteit van Indonesie. Tercatat pada 2 Februari 1950, kedua institusi itu melebur menjadi satu.

Perguruan Tinggi Kedokteran Republik Indonesia dan Geneeskundige Faculteit Nood-Universiteit van Indonesie, berubah nama menjadi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Penyatuan tersebut turut dipelopori penyerahan kedaulatan dari Pemerintah Belanda kepada Pemerintah Republik Indonesia.

Pada masa itu, terdapat 28 jenis mata pelajaran dan bagian di FKUI, dengan jumlah mahasiswa sebanyak 288 orang dan masih terdapat beberapa orang dosen Belanda. Sebagian besar mata pelajaran juga masih diberikan dalam bahasa Belanda. Sarana pendidikan yang ada meliputi Kompleks Salemba 6, Kompleks Pegangsaan Timur 16, Rumah Sakit Umum Pusat dan Rumah Sakit Raden Saleh.

STOVIA. foto: wikipedia

Keberadaan STOVIA memang tidak lepas dari perkembangan nasionalisme di Indonesia. Disamping kemampuan individu para pelajar STOVIA, para pelajarnya ini mampu menyatukan pelajarnya dari berbagai suku bangsa di Indonesia.

Selain itu, keberadaannya di pusat kota menjadikan sekolah ini menjadi tempat persemaian nasionalisme yang bagus bagi para pelajarnya. Beberapa tokoh pergerakan nasional alumni STOVIA antara lain adalah dr. Wahidin Soedirohoesodo, dr. Tjipto Mangoenkoesoemo, dr. Goenawan Mangoenkoesoemo, dan dr. Soetomo.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya