Pasokan Beras Kurang? Tenang Masih Ada Sagu

Oleh Benedikta Desideria pada 16 Okt 2015, 08:30 WIB
Diperbarui 16 Okt 2015, 08:30 WIB
Majukan Sagu Indonesia, Pemerintah Tunjuk Duta Sagu
Perbesar
Di Festival Pangan Sagu Nusantara di Senayan, (3/5/2015), terdapat Ulat Sagu dari Papua yang dianggap memiliki kandungan gizi yang tinggi, dan ulat ini dapat langsung dimakan (Liputan6.com/Gilar Dhani)

Liputan6.com, Surabaya- Beras masih dielu-elukan masyarakat kita sebagai sumber pangan utama. Sehingga ketika beras langka, krisis pangan pun terjadi di beberapa wilayah Indonesia. Sebenarnya krisis pangan tak perlu terjadi karena ada banyak bahan pangan lainnya. Salah satunya sagu.

Menurut Putri Sagu Indonesia Dr Saptarining Wulan MM, sagu dipilih karena merupakan tanaman asli Indonesia dan mampu tumbuh subur di seluruh wilayah nusantara. Sementara padi bukanlah tanaman asli negara ini tapi dari wilayah India.

Selain itu sagu juga memiliki tingkat produktivitas yang tinggi yaitu 22,36 ton per hektar dalam satu tahun. Diungkapkan olehnya, sagu memang lebih baik daripada beras jika ditinjau dari segi gizi, rendemen, produktivitas, dan emisi.

Dalam kuliah tamu yang digelar di Institut Teknologi Supuluh Nopember, Surabaya "Teknologi Diversivikasi Pangan Menghadapi Krisis Pangan dan Ekonomi" beberapa saat lalu, Saptarining juga memaparkan bahwa kandungan nutrisi sagu lebih tinggi dari beras.

"Untuk itu, sebagai warga negara Indonesia, sudah selayaknya kita beralih dari konsumsi beras ke konsumsi sagu," tegasnya seperti dikutip laman resmi its.ac.id pada Jumat (16/10/2015).

Pada kesempatan ini ia juga ungkapkan berhasil olah produk bahan dasar 100 persen sagu seperti pati sagu, mie sagu, dan beras sagu. Bahkan beberapa jenis kue kering maupun basah serta makanan ringan juga berhasil dibuat dengan bahan dasar sagu olehnya.

"Makanan yang dibuat dari sagu itu rasanya tidak jauh berbeda dengan makanan yang dibuat dari bahan dasar terigu," tukas pendiri Sagu Institute ini. 

"Dengan sagu dapat dipastikan krisis pangan yang dialami Indonesia dapat berkurang dan dapat meningkatkan perekonomian negara," tuturnya.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya