Dampak Pengasuhan yang Overprotective pada Anak

Oleh Liputan6 pada 11 Feb 2015, 13:30 WIB
Diperbarui 11 Feb 2015, 13:30 WIB
Negosiasi dengan Anak
Perbesar
Orangtua yang baik adalah mereka yang mau bernegosiasi dengan anak. Apa saja tips agar negosiasi ini berjalan sukses? (Foto: http://www.huffingtonpost.com/)

Liputan6.com, Jakarta Semua mahluk hidup termasuk manusia memiliki dorongan untuk melindungi diri dan anak-anaknya saat menjumpai adanya bahaya. Dorongan ini merupakan dorongan dasar yang berkaitan dengan mempertahankan dan melestarikan generasinya seperti yang menjadi salah satu konsep dasar dari para ahli evolusi. Karena dorongan dasar ini, sangat wajar jika bagi orangtua melindungi anak merupakan salah satu fokus utama dalam hidupnya. Para orangtua akan memiliki kepekaan untuk melihat berbagai bahaya yang berpotensi mengancam anak dan kemudian akan segera mengambil langkah-langkah yang bertujuan menjauhkan anak dari bahaya yang datang.

Meskipun merupakan dorongan dasar dan dibutuhkan untuk melestarikan generasinya, ada pola perilaku melindungi yang justru dapat berpotensi melindungi anak. Perilaku yang dimaksud adalah perilaku melindungi yang berlebihan atau sering disebut sebagai perilaku overprotective. Perilaku overprotective orangtua terhadap anak sendiri secara umum diartikan sebagai upaya yang berlebihan dari orangtua yang bertujuan melindungi anak dari potensi bahaya meskipun bahaya yang datang tidak terlalu mengancam dan bahkan dapat memberi kesempatan pada anak untuk mengembangkan diri lewat eksplorasi lingkungan sekitarnya. Bentuk dari perilaku overprotective misalnya adalah selalu melarang anak pergi ke suatu lingkungan misalnya lingkungan di luar rumah karena takut anak akan mengalami kecelakaan atau merasa tempat-tempat tersebut kotor dan berkuman, memberikan pakaian dan alat-alat perlindungan yang berlebihan pada anak saat bermain, dan sebagainya

Jika perilaku overprotective ini dilakukan secara terus menerus dalam pengasuhan anak, ada beberapa dampak negatif yang dapat muncul pada anak. Anak yang diasuh dengan pengasuhan overprotective dapat tumbuh menjadi anak yang memiliki kepribadian yang “rapuh” (“A Nation of Wimps,” n.d.). Anak-anak yang berkepribadian seperti ini akan memiliki daya tahan yang lemah dan akan sering mengalami situasi sulit bangkit kembali sesudah mengalami kegagalan dalam kehidupannya. 

Penyebab rapuhnya kepribadian anak-anak yang dibesarkan dengan pengasuhan overprotective adalah tidak adanya kesempatan bagi mereka untuk belajar. Sangat mungkin sebenarnya anak-anak tersebut memiliki potensi daya tahan dan daya juang yang cukup baik. Akan tetapi, dengan selalu adanya system perlindungan yang sangat ketat dan berlebihan dari orangtua mereka, anak-anak tersebut tidak mendapatkan kesempatan yang memadai untuk mencoba mengembangkan daya tahan dan daya juang yang dimiliki.

Mereka tidak diberi waktu untuk belajar mengenali bahaya di sekitarnya sehingga tidak memiliki kemampuan mengantisipasi bahaya yang datang dalam hidupnya. Saat mereka jatuh atau mengalami situasi sulit pun, orangtua dengan cepat membantu mereka untuk bangun dan terlepas dari situasi sulit tersebut tanpa memberi kesempatan pada anak untuk belajar sendiri mengatasinya. Akibatnya anak tidak memiliki pengalaman untuk bangun dan melepaskan diri dari kesulitan yang menjerat kehidupan mereka.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Perbaiki pola pengasuhan

Untuk memperbaiki pola pengasuhan yang cenderung overprotective ini, ada beberapa hal yang dapat dilakukan oleh orangtua, yaitu:

  1. Memperbaiki pandangan orangtua sendiri tentang dunia

Akar dari perilaku overprotective yang dilakukan orangtua salah satunya adalah pandangan orangtua sendiri mengenai dunia sekitarnya. Pandangan yang secara umum dibangun sejak masa kecil ini cenderung menempatkan dunia sekitar sebagai suatu tempat yang tidak aman. Bagi mereka yang berpandangan seperti ini, banyak bahaya yang mengintai di dunia ini sehingga dibutuhkan kewaspadaan yang sangat tinggi secara terus menerus untuk mengantisipasi datangnya bahaya-bahaya tersebut. Oleh karenanya, sangat wajar jika kemudian orangtua yang memiliki pandangan seperti ini kemudian akan melindungi anaknya secara berlebihan karena ketakutan berlebihan yang dimilikinya. Untuk memperbaikinya, orangtua perlu mengubah pandangannya. Hal ini memang tidak mudah dan membutuhkan proses namun jika orangtua menyadari bahwa pandangan seperti ini bersifat irasional dan dapat berdampak buruk bagi anak, orangtua tentu tidak akan mengabaikannya. Awalnya mungkin ada perasaan tidak nyaman akibat mengurangi kewaspadaan yang berlebihan namun jika ini diusahakan secara terus menerus, tentu akan ada hasilnya

  1. Meyakinkan anak bahwa dunia relatif aman

Sesudah mengubah pandangannya sendiri mengenai dunia yang tidak aman, orangtua perlu meyakinkan anak bahwa dunia yang didiaminya merupakan dunia yang relatif aman. Hal ini tidak berarti kemudian secara naif mengungkapkan bahwa dunia adalah tempat yang sepenuhnya aman. Tentu ada juga bahaya-bahaya yang perlu diwaspadai namun anak diminta untuk menilainya secara lebih proporsional. Bahaya yang tingkatnya relatif ringan tidak perlu diantisipasi secara berlebihan hingga menguras energi yang terlalu besar.

  1. Membantu anak mengeksplorasi dunia sekitar

Yang terakhir, orangtua dapat membantu dan mendorong anak untuk melakukan eksplorasi terhadap dunia sekitarnya. eksplorasi terhadap dunia sekitar memiliki banyak fungsi untuk anak. Selain memberikan kesempatan pada anak untuk mengalami kenyataan yang sejati dari dunia yang didiami, anak dapat membangun harga diri dan kepercayaan dirinya lewat berbagai pengalaman menghadapi bahaya termasuk ketika dia harus mengalami pengalaman jatuh

 

Referensi

A Nation of Wimps. (n.d.). Retrieved February 10, 2015, from http://www.psychologytoday.com/ articles/200411/nation-wimps

 

Yohanes Heri Widodo, M.Psi, Psikolog

Dosen Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta

Pemilik Taman BErmain dan Belajar Kerang Mutiara, Yogyakarta

Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya