Cara Efektif Bikin Emosi Remaja Tenang

Oleh Liputan6 pada 18 Jul 2014, 08:00 WIB
Diperbarui 18 Jul 2014, 08:00 WIB
Remaja Aktif Gunakan Gadget Bisa Terserang Stroke
Perbesar
(Foto: Sheknows.com)

Liputan6.com, Jakarta Kita mungkin harus belajar dari negara Skotlandia untuk urusan tidur. Bukan sembarang tidur, tetapi mengajarkan pentingnya cukup tidur bagi remaja. Dengan tidur cukup, kesehatan emosional dan fisik remaja akan terjaga.

Bermain internet, games online, atau play station, belum lagi menonton serial di televisi bisa membuat anak remaja lupa waktu. Akibatnya, waktu yang semestinya sudah masuk jadwal tidur, lewat begitu saja.

Kalau hanya kelewatan waktu 30-60 menit, itupun di akhir pekan dan hanya sekali seminggu, bisa saja tidak mengapa. Namun, kalau waktu tidur selalu terpangkas oleh aktivitas tersebut, setiap hari, tentunya akan membawa masalah.

Yang paling terasa adalah waktu tidur berkurang. Kekurangan waktu tidur ini akan membuat anak mengantuk di pagi hari. Akibatnya, performa mereka di sekolah menurun.

**Gempa Cianjur telah meluluhlantakkan Bumi Pasundan, mari bersama-sama meringankan penderitaan saudara-saudara kita di Cianjur dengan berdonasi melalui: rekening BCA No: 500 557 2000 A.N Yayasan Pundi Amal Peduli Kasih. Bantuan akan disampaikan dalam bentuk sembako, layanan kesehatan, tenda, dll. Kepedulian kita harapan mereka.


Paket pelajaran

Paket Pelajaran
Masalah tersebut rupanya mendapat perhatian serius di wilayah Skotlandia. Saat ini, sudah ada sumber daya yang akan mengajarkan para ABG tentang tidur cukup di sekolah yang ada di Skotlandia.

Paket pelajaran ini, seperti dikutip BBC, dibuat oleh Sleep Scotland sebagai bagian dari kurikulum. Tujuannya tak lain untuk meningkatkan kesadar¬an akan pentingnya cukup tidur bagi kesehatan emosi dan fisik remaja.

Beberapa waktu terakhir, badan amal tersebut meng¬amati bahwa aktivitas menonton televisi atau menggunakan komputer serta telepon selular di malam hari membuat remaja kekurangan waktu tidur.

Akibatnya, performa mereka menurun di pagi hari saat belajar di sekolah. Bukan hanya itu, mereka juga berisiko mengalami kelebihan berat badan maupun kegemukan.

“Saya pikir setiap orangtua tidak akan membiarkan anaknya pergi ke sekolah tanpa sarapan atau berpakaian rapi. Jadi, mengapa mereka bisa membuat anaknya pergi ke sekolah tanpa cukup tidur?” tanya Jane Ansell, direktur Sleep Scotland, Jumat (18/7/2014).


Jam tidur menurun

Jam Tidur Menurun
Kondisi inilah yang membuat Sleep Scotland mengedukasi pentingnya cukup tidur di malam hari bagi remaja serta melatih mereka membentuk pola tidur yang sehat. Proyek pilot pun dilakukan.

Proyek pilot ini diluncurkan tahun lalu di sekolah menengah di Glasgow, Inggris. Murid menyebutkan bahwa mereka sulit bangun pagi dan juga berkonsentrasi. Riset yang dikutip oleh Sleep Scotland menunjukkan bahwa jam tidur bagi remaja di seluruh dunia menurun selama 10-20 tahun terakhir.

Berkurangnya waktu tidur ini kemudian disiasati dengan menambah waktu tidur di akhir pekan. Cara ini sebenarnya tidak cukup baik karena mereka mengubah jam tubuh secara paksa, sehingga menimbulkan efek seperti jet lag saat anak kembali ke rutinitas sekolah di Senin pagi.

Strategi terbaik tentu saja dengan membuat pola tidur yang sama setiap harinya. Tidur dan bangun di jam yang sama dengan waktu tidur yang cukup. Dengan begitu, anak remaja bisa menjalani aktivitas sekolahnya dengan lebih baik.

Lanjutkan Membaca ↓

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya