Menelusuri Jejak Jalur Haji di Kota Tua Jeddah

Oleh Nurmayanti pada 04 Sep 2019, 06:00 WIB
Kota Tua Jeddah. Nurmayanti/Liputan6.com

Liputan6.com, Madinah - Suasana beda sudah terasa saat menginjakkan kaki di lokasi ini. Gerbang yang terbuat dari batu karang kokoh menyambut, penanda pintu masuk.

Puluhan rumah menara atau bertingkat, terbuat dari batu dan kayu sebagian besar tampak sudah rusak dimakan usia. Meski bentuknya masih terlihat cukup sempurna. Kontras dengan gedung modern, yang berada disekelilingnya.

Beberapa remaja tampak bermain dan bercengkerama di lapangan, yang berada tepat di depan gerbang batu. Menunjukkan jika wilayah ini masih berpenghuni.

Inilah Kota Tua Jeddah. Awal mula sejarah keberadaan kota yang menjadi pintu masuk ke Makkah dan Madinah. Lokasi tepatnya, di Al-Balad Historical District. Terletak di pantai timur Laut Merah. Kota ini konon telah berumur 3.000 tahun. 

Merunut sejarah, di sini dulu jemaah haji dari seluruh dunia menginjakkan kaki saat pertama kali menuju Tanah Suci. Usai berpuluh hari hingga hitungan bulan naik kapal laut dari negaranya masing-masing.

Demikian diceritakan Kamal Albaladi, warga setempat yang sukarela mengantar Liputan6.com bersama Tim Media Center Haji (MCH) lainnya, berkeliling kota tua Jeddah.

"Rute haji dimulai pada zaman Khalifah Utsman bin Affan membangun gerbang menuju Makkah dan Madinah. Jalur ini digunakan jemaah haji sejak itu," ujar dia mengawali cerita.

Kala itu, jemaah haji menggunakan berbagai alat transportasi darat untuk sampai menuju Tanah Haram. Mulai dari onta, kuda, keledai hingga berjalan kaki.

Berbeda dengan saat ini, perjalanan jemaah haji harus ditempuh cukup lama menuju dua kota suci, usai tiba di Jeddah.

"Jemaah dari India, Indonesia, hingga china semua negara datang ke pelabuhan ini," Kamal menambahkan.

Peran kembar ini membuat Jeddah berkembang menjadi pusat multikultural, dicirikan oleh tradisi arsitektur yang khas. Salah satunya rumah menara.

 

 

Salah satu jalan di Kota Tua Jeddah yang dahulu dilintasi jemaah haji dari seluruh dunia menuju Makkah dan Madinah Nurmayanti/Liputan6.com
Salah satu jalan di Kota Tua Jeddah yang dahulu dilintasi jemaah haji dari seluruh dunia menuju Makkah dan Madinah Nurmayanti/Liputan6.com

Sebagai lokasi singgah jemaah haji membuat kota Jeddah bertumbuh. Adalah Pangeran Husein Kurdi yang membangun kota Jeddah usai masa Khalifah Utsman bin Affan.

Dimulai dari pembangunan tembok di pinggir laut. Konon dari sini nama Jeddah berasal, yang artinya daerah pinggir laut.

Namun ada juga yang menyebut Jeddah mengacu pada keberadaan Istri Nabi Adam, Siti Hawa. Usai dikirim dari surga, Siti Hawa kemudian turun di Kota Jeddah. Di kota inipula dia dimakamkan.  

Dulu, luasan kota Jeddah hanya 1 kilometer persegi hingga kini meluas jadi 5.000 kilometer persegi.

Kota Jeddah kala itu terdiri dari 4 distrik yakni As-syam. Lokasi berada di utara. Lokasinya tepat berada di gerbang batu yang disebut dengan Babul Madinah.  Di sinilah rute jemaah haji menuju Madinah. 

Distrik kedua ada Al-Yaman. Semua yang datang dari selatan disebut sebagai Al-Yaman.

Ketiga adalah Al Mathloum yang berarti innocent. Terkait satu kisah tentang seorang pria suci yang ahli agama dan dimakamkan di wilayah ini. Distrik ini terletak di Timur Laut.

Sementara keempat adalah distrik Al-Bahar yang berarti di pinggir pantai. Lokasinya terletak di barat daya

Distrik ini kemudian dihuni penduduk kota Jeddah. Mereka membangun rumah menara yang kini masih bisa dilihat peninggalannya.

Sekitar 7.000 orang masih tinggal di Kota tua Jeddah hingga saat ini. 

 

Salah satu jalan di Kota Tua Jeddah yang dahulu dilintasi jemaah haji dari seluruh dunia menuju Makkah dan Madinah Nurmayanti/Liputan6.com
Salah satu jalan di Kota Tua Jeddah yang dahulu dilintasi jemaah haji dari seluruh dunia menuju Makkah dan Madinah Nurmayanti/Liputan6.com

Selain rumah indah yang berusia ratusan tahun, terdapat sebuah masjid bernama Al-Syafi.

Konon umur dari peribadatan Umat Islam ini mencapai 1.000 tahun. Dilengkapi dengan menara yang berumur 800 tahun.

Kota tua Jeddah dahulu menjadi lokasi utama keberadaan Kedutaan Besar berbagai negara dari seluruh dunia. Seperti Amerika Serikat, Rusia, Peranci, Jerman, Yunani termasuk Indonesia.

Kabar baiknya, demi melestarikan kota tua Jeddah, Putra Mahkota Saudi, Muhammad bin Salman, telah mengeluarkan dekrit kerajaan.

Isinya memerintahkan Kementerian Kebudayaan untuk melakukan restorasi 50 bangunan bersejarah di Kota Tua Jeddah.

Memang, tampak beberapa rumah menara sedang dalam proses restorasi. 

Selain rumah bersejarah, di Kota Tua Jeddah juga bisa ditemukan kedai kopi, galeri seni, museum maupun toko yang dimiliki warga setempat.

Bila melihat sejarahnya, Kota Tua Jeddah patut menjadi salah satu destinasi jemaah haji bila berada di Arab Saudi.

Masjid Al-Shafi di Kota Tua Jeddah. Nurmayanti/Liputan6.com
Masjid Al-Shafi di Kota Tua Jeddah. Nurmayanti/Liputan6.com