Sistem Zonasi Mudahkan Jemaah Haji Berinteraksi

Oleh Nurmayanti pada 18 Agu 2019, 12:32 WIB
Jemaah Haji Indonesia Tiba di Hotel. Darmawan/MCH

Liputan6.com, Jeddah - Sistem penempatan jemaah haji secara zonasi dinilai berdampak positif. Mulai dari interaksi antar jemaah hingga masalah keamanan.

Demikian diungkapkan Menteri Agama (Menag) Lukman Hakim Saifuddin, di Makkah, seperti dikutip Minggu (18/8/2019).

Dia mengaku telah mendapatkan masukan positif berkaitan dengan sistem zonasi jemaah haji Indonesia.

Hal positif bagi jemaah haji antara lain berkaitan dengan interaksi antar jemaah haji.

"Positif di kalangan jemaah haji karena memudahkan mereka untuk bisa saling berkomunikasi dengan sesama jemaah haji sedaerah, yang bahasa daerahnya sama," ujar dia.

Hal ini juga dinilai menimbulkan rasa aman karena jemaah bisa tinggal atau berada pada lingkungan satu daerah.

Hal positif lain, memudahkan petugas haji dalam pelaksanaan kewajiban dan tugas. "Karena ada kesamaan asal daerah, bahasa daerah dan lain sebagainya," tambah Menag.

2 of 2

Tahun Depan, Pemerintah Fokus pada Peningkatan Kualitas Ibadah Haji

Jemaah haji dari seluruh dunia melakukan thawaf di Kakbah, Makkah. Foto: Bahauddin/MCH
Jemaah haji dari seluruh dunia melakukan thawaf di Kakbah, Makkah. Foto: Bahauddin/MCH

Menteri Agama sekaligus Amirul Hajj Lukman Hakim Saifuddin menetapkan tahun 2020 sebagai tahun peningkatan kualitas ibadah haji. Dengan demikian, jemaah Indonesia lebih dapat memaknai perjalanan ibadahnya ke Tanah Suci.

Dia mengaku sejumlah evaluasi mencatat jika perlu upaya meningkatkan kualitas ibadah haji bagi jamaah Indonesia, mulai tahun ini. 

“Terkait konsumsi, akomodasi, dan transportasi kita mendapatkan kesan cukup baik tinggal sekarang peningkatan pada kualitas ibadahnya. Oleh karenanya saya menyatakan bahwa tahun depan harus kita jadikan tahun peningkatan kualitas ibadah,” ujar dia, Sabtu malam (18/8/2019).

Untuk itu, lanjutnya, buku-buku manasik haji harus lebih lengkapi tidak hanya terkait tata cara berhaji tapi juga ditambah dengan hal-hal yang lebih substantif dan lebih krusial dari ritual prosesi haji yang panjang tahapannya.

“Jadi pemaknaan mengapa kita harus wukuf, pemaknaan apa makna tawaf, sai, dan lain sebagainya yang sangat kaya, hal-hal seperti itu yang sangat perlu kita berikan porsi yang cukup terkait dengan materi-materi manasik,” jelas dia.

Harapannya, kemabruran jemaah tidak hanya semata diukur dari kesalehan personal, kesalehan individual di sisi ibadah mahdoh semata tapi juga terefleksikan pada kepedulian sosial dari seluruh jemaah haji Indonesia.

Pihaknya akan serius dalam dua hal yakni dari sisi materi ibadah yang akan diperkaya dan disempurnakan.

“Yang kedua adalah petugas-petugasnya, kita akan lebih selektif dan akan lebih dari sisi jumlah lebih proporsional terkait dengan jumlah jemaah itu sendiri. Jadi secara keseluruhan peningkatan kualitas ibadah dari dua aspek itu,” katanya.

 

Lanjutkan Membaca ↓