4 Hal yang Harus Diwaspadai Jemaah Saat Puncak Haji

Oleh Liputan6.com pada 10 Agu 2019, 11:00 WIB
Jemaah Haji Melaksanakan Thawaf di Kakbah. Foto: Bahauddin/MCH

Liputan6.com, Jakarta - Kemenkes RI menjelang fase Arafah, Muzdalifah, Mina (Armuzna) terus mempersiapkan fasilitas kesehatan dan sarana prasarana maupun pendukung lainnya. Kemenkes juga mempersiapkan kapasitas seluruh petugas kesehatan yang akan terlibat.

Sebanyak 529 orang Tim Kesehatan Haji Indonesia (TKHI) yang mewakili tenaga kesehatan di tiap kloter. Mereka mendapatkan pengarahan dari Kepala Pusat Kesehatan Haji (Kapuskeshaji) Kemenkes dan pendalaman materi dari Kepala Seksi Kesehatan dari tiga daerah kerja, Koordinator TGC dan Koordinator TPP.

Pada kesempatan tersebut, Kapuskeshaji, Eka Jusup Singka,mengingatkan perihal lima faktor risiko yang dapat mempengaruhi status kesehatan para jemaah haji Indonesia. Ini juga berlaku pada masa Armuzna dan harus menjadi perhatian bersama.

Pertama, kecukupan cairan dalam tubuh. THKI diminta agar mengajak jemaahnya untuk sering minum air. Eka mengingatkan TKHI untuk menginisiasi gerakan minum air bersama setiap dua jam sekali pada pukul 10.00-16.00 Waktu Arab Saudi (WAS).

Kedua, cuaca yang panas. Selama di Arafah dan Mina. jemaah haji akan berada di padang pasir yang luas dan tandus. Jika harus beraktivitas keluar tenda, gunakan selalu alat pelindung diri.

“Jemaah harus pake APD, terutama payung dan semprotan,” Ujar Eka dalam keterangannya, Jumat (9/8/2019).

Selanjutnya kelelahan. Di Mina, jemaah akan berjalan kaki sekitar 6-14 kilometer, mulai dari tenda ke jamarat dan kembali lagi ke tendanya.

"Bagi jemaah lansia sebaiknya tidak memaksakan diri untuk melontar. Aktivitas melontar jumroh bisa diwakilkan oleh teman, keluarga atau petugas kloternya, karena itu bukan rukun haji," Tuturnya.

Yang berikutnya adalah kemampuan beradaptasi dengan linkungannya.

"Bagi yang tidak mampu cepat beradaptasi akan mengalami stres. Terakhir ialah perilaku jemaah yang tidak sehat, seperti contohnya merokok," jelas Eka

Menyikapi itu semua,TKHI diminta untuk untuk memberikan edukasi kepada jemaahnya. Dan juga menjaga sikap untuk tetap bersabar dan memohon pertolongan kepada Allah SWT.

“Kalian harus tetap tawadhu, banyak berdzikir dan istighfar,” ujar Eka.

2 of 2

TKHI Diminta Tak Dampingi Jemaah Tarwiyah

Jemaah haji Indonesia saat tiba di Bandara King Abdul Aziz, Jeddah. Darmawan/MCH
Jemaah haji Indonesia saat tiba di Bandara King Abdul Aziz, Jeddah. Darmawan/MCH

Terkait ibadah tarwiyah yang akan dilakukan oleh sebagian jemaah haji Indonesia, Kapuskeshaji dengan tegas meminta TKHI agar tidak ikut serta mendampingi perjalanan mereka. Tarwiyah sudah jelas bukan kebijakan pemerintah. Konsekuensinya, jemaah haji tidak akan mendapatkan konsumsi, sarana transportasi dan akomodasi. Sehingga dapat menjadi kondisi yang menyulitkan bagi jemaah dan petugas.

Kapuskeshaji optimistis dengan kemampuan yang dimiliki TKHI untuk melayani jemaahnya selama masa Armuzna. Ia berharap seluruh petugas kesehatan haji diberikan kekuatan dan kesehatan sehingga bisa menjalankan tugas dengan sebaik-baiknya.

Sebelum mendapatkan pengarahan dari Kapuskeshaji, seluruh TKHI menerima materi beragam tentang pengelolaan pelayanan kesehatan di Armuzna.

"Pos Kesehatan Arafah menjadi tanggung jawab Tim Mobile Bandara. Sementara pelayanan kesehatan di area Muzdalifah berada di bawah kendali seksi kesehatan Daker Makkah. Sedangkan Pos Kesehatan Mina di bawah tanggung jawab seksi kesehatan Daker Madinah," Ujar Eka berdasarkan release Kemenkes RI.

TKHI diminta agar memahami benar jalur rujukan sesuai triasenya.

"Jika kondisi pasien pada triase kuning maka dapat dirujuk ke Pos Kesehatan Arafah atau Mina. Sedangkan jika statusnya triase merah, langsung dirujuk ke klinik kesehatan milik Arab Saudi," Jelasnya.

 

(Desti Gusrina)

Lanjutkan Membaca ↓