Keceriaan dan Cerita Jemaah Haji Lansia dalam Satu Pondokan

Oleh Nurmayanti pada 10 Jul 2019, 13:15 WIB
Diperbarui 10 Jul 2019, 16:16 WIB
Jemaah Haji Lanjut Usia di Masjid Ishraq Al Bustani. Liputan6.com/Nurmayanti

Liputan6.com, Madinah - Letak kamar itu berada di lantai dua Hotel Ishraq Al Bustani di Madinah. Berada sedikit memojok, dengan pintu berwarna coklat. Tampak sebuah koper besar teronggok di depan pintu masuk. Mungkin ini ditaruh karena sudah tak muat bila harus bergabung dengan koper lain dalam kamar.

Seraya mengucapkan salam, Tim Media Center Haji (MCH) termasuk Liputan6.com, mengetuk pintu. Di sinilah kami rencananya mengunjungi calon haji tertua dari Embarkasi Surabaya asal Kabupaten Magetan, Jawa Timur Sukinah (93 tahun).

Perlahan pintu pun terbuka. Wajah ramah menyambut kami. Ternyata tak hanya Sukinah, dan anaknya Sunarti (67) sedang duduk di atas kasur. Tampak kamar ini juga diisi 3 wanita lanjut usia (lansia) lainnya. Ketiganya adalah Suharsih (79 tahun), Aspudjiatun (77 tahun), dan Sumiati (69 tahun).

Kelima jemaah haji ini berasal dari kloter 1 Surabaya (SUB) yang mendarat di Bandara Prince Mohammed Bin Abdulaziz Madinah, Sabtu (6/7/2019).

Usai menjelaskan kedatangan, para calon haji ini mempersilahkan kami masuk ke dalam kamar. Kamar yang ditempati lima lansia tersebut berukuran 4x6 meter. Dilengkapi kamar mandi, lima tempat tidur yang dilengkapi televisi, kulkas, dan pendingin ruangan.

Sejak awal kedatangan kami tawa renyah terdengar dari para lansia Tamu Allah tersebut. "Kami dikumpulkan dalam satu kamar. Mungkin biar betah," kata Sunarti menjawab kelakar soal jemaah lansia di satu kamar. 

Beberapa rekan meminta izin Sunarti, untuk mewawancarai Sukinah sang ibu. Sementara saya dan rekan lainnya memilih bergabung berbincang dengan Suharsih, Aspudjiatun, dan Sumiati.

Perbincangan pun dimulai. Suharsih yang lebih muda dibandingkan lainnya, mengaku senang karena mendapatkan kesempatan haji lebih cepat. Dia hanya menunggu enam tahun untuk naik haji.

Namun karena tergolong lansia, pemerintah memberikan prioritas baginya. Sebelumnya, dia mendaftar pada 2013 dan mendapat antrean berangkat pada 2028. "Jadi maju 9 tahun dari jadwal semula," tutur ibu 8 anak ini.

Dia merasa di kampung halaman karena banyak teman dari daerah yang sama. Mereka bisa bercerita dan berbagi.

 

2 of 3

Kesenangan Bertambah

Kesenangan bertambah karena pelayanan yang diberikan dinilai baik. Mulai dari makanan maupun fasilitas lainnya. Hari itu, jamaah haji di Hotel Isyraq Al Bustan mendapatkan jatah makan siang sayur asem. Malam sebelumnya, menu yang disajikan untuk jamaah nasi ayam.

"Makanannya di sini juga seperti di Jawa. Enak," ungkap kata warga Desa Maospati, Kraton, Kabupaten Magetan ini," kata dia.

Aspudjiatun, warga Desa Gambiran, Madugondo, Takiran, Magetan juga hanya membutuhkan waktu tak lama ke Tanah Suci. Dia mendaftar pada 2013, dan bersyukur bisa sampai berhaji di tahun ini.

"Saya mau berdoa semoga tetap diberi Islam, Iman, dan sehat," kata istri pensiunan TNI AURI tersebut.

Sang suami telah lebih dulu meninggalkannya. Sukinah, jemaah tertua Magetan masih kerabatnya. Sebab itu mereka bisa bersama berhaji dan ditempatkan dalam satu kamar.

Di sela-sela perbincangan Aspudjiatun, sempat mengeluhkan pinggangnya yang sakit. "Tadi ke Masjid Nabawi pinggang sakit, mau minta obat," ceritanya.

Di dalam kamar, dari kelima lansia tersebut, hanya Sukinah yang belum ke Masjid Nabawi. Hari itu pun kami memutuskan membawanya ke sana.

3 of 3

Saksikan video pilihan di bawah ini:

Lanjutkan Membaca ↓