Cerita Suhernik yang Suaminya Wafat Usai ke Makam Baki Madinah

Oleh Devira PrastiwiLiputan6.com pada 06 Sep 2018, 11:06 WIB
Diperbarui 08 Sep 2018, 10:13 WIB
Jemaah Haji Indonesia

Liputan6.com, Jakarta - Suhernik merasakan kesedihan lantaran ia ditinggalkan oleh belahan jiwanya. Jemaah haji asal Malang, Jawa Timur ini harus kembali sendiri ke Indonesia tanpa suaminya. Sang suami, Rasnam, telah wafat saat berada Madinah, Arab Saudi.

Pada Selasa, 4 September 2018 sore itu, Suhernik tiba di Surabaya dengan hati murung. Ibu dua anak yang menjadi anggota kelompok terbang (kloter) 23 ini masuk ke hall Mina, Asrama Haji Surabaya dengan bercucuran air mata.

Suhernik teringat suami tercinta yang wafat lima hari setelah menginjakkan kaki di Madinah, tepatnya Minggu, 29 Juli 2018.

Dia masih ingat betul kenangan bersama Rusman di hall asrama haji itu. Pada 23 Juli 2018, mereka masih berdua di tempat itu.

"Ya sedih Bu, berangkat bersama, apalagi Bapak sudah menunggu delapan tahun untuk berangkat haji. Tadi masuk asrama, sambil nangis terus. Kata teman-teman, 'sudah Bu, diikhlaskan saja, Bapak sudah tenang di sana'," ujar Suhernik.

Istri pensiunan pajak ini mengaku sangat kaget suaminya wafat. Sebab, Rasnam tidak menunjukkan tanda-tanda sakit. Saat berangkat ke Tanah Suci, kata Suhernik, sang suami sehat walafiat. "Bapak sehat-sehat saja," ucapnya.

Malah, lanjut Suhernik, saat di Madinah, Rasnam selalu lewat tangga yang butuh tenaga ekstra untuk naik dan turun penginapan. Ia tak pernah lewat lift. "Katanya lama antre dengan banyak orang," kata Suhernik.

Meski demikian, Suhernik mengakui bahwa suaminya memiliki riwayat sakit jantung dan diabet. "Tapi 3 bulan lalu, dokter menyatakan Bapak normal semua," tutur dia.

 

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

 

2 of 3

Cerita Mukjizat

Jemaah Haji Indonesia
Jemaah haji Mandailing Natal merasakan kesedihan yang mendalam harus meninggalkan Tanah Suci. (Dream)

Pada hari Minggu itu, saat sang suami wafat, Suhernik membeli oleh-oleh untuk anak-anaknya. Sementara, sang suami mengunjungi pemakaman Baki dan Museum Alquran dengan berjalan kaki bersama teman satu rombongan. Suhernik tidak ikut karena pemakaman Baki hanya untuk kaum Adam.

Sepulang dari makam Baki, Rasnam menuju kamar Suhernik dan menceritakan pengalamannya ke makam Baki. Kala itu, kata Suhernik, sang suami meluruskan kakinya.

"Kata Bapak, pemakaman Baki itu bagus sekali, bersih. Coba kalau di Indonesia ada pemakaman seperti makam Baki. Alhamdulillah Ma, saya dapat mukjizat dari Allah kaki kuat keliling makam Baki," cerita Suhernik menirukan Rasnam.

Usai bercerita, Rasnam pamit untuk salat zuhur di kamar saja.

"Setelah mandi akan salat zuhur, Bapak pamit untuk salat di hotel saja. Saya disuruh tetap berangkat jemaah di masjid Nabawi untuk menggenapkan arbain saya," kata dia.

Setelah wudu, Rasnam beristirahat terlentang di atas ranjang hotel tempat Suhernik menginap. Suhernik pun pergi ke masjid Nabawi meninggalkan Rasnam salat di kamar sendiri.

"Sepulang dari masjid, saya kaget lihat suami tidur bersedekap dan tidak bergerak lagi. Tensi saya lansung naik menjadi 150 ketika itu," terang Suhernik.

Jasad Rasnam kemudian dibawa ke Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) Madinah. Setelah itu disalatkan di Masjid Nabawi dan dimakamkan di Baki, kompleks pemakaman yang baru dia kunjungi.

 

3 of 3

Firasat Sebelum Wafat

Jemaah Haji Indonesia
Nyawa seorang perempuan tertolong karena kesigapan dokter petugas haji. (Dream/puskeshaji.depkes.go.id)

Sebelum meninggal dunia, kata Suhernik, suaminya telah memberi beberapa firasat, contohnya meminta dirinya mandiri. Tak seperti biasa, Rasnam meminta Suhernik ke masjid sendirian.

"Padahal kalau di rumah, kemanapun saya pergi, suami selalu siap mengantar," kenang Suhernik.

Firasat itu juga dirasakan Suhernik saat Idul Fitri. Saat berkumpul dengan anak-anaknya, kata dia, Rasnam mengatakan apabila diambil Allah, maka dirinyalah yang lebih dahulu menghadap Yang Maha Kuasa.

Rasnam merasa tidak bisa hidup sendiri. Hal itu berbeda dengan Suhernik yang bisa hidup sendiri.

"Ya, soalnya saya selalu melayani Bapak. Mau minum kalau tidak saya tuang ya enggak mau minum. Kalau makan, saya siapkan, ikan itu saya ambil durinya baru Bapak makan. Kata Bapak, surga dunia jadi raja kecil kecilan di rumah," jelas Suhernik.

Kini, Suhernik tak lagi hidup bersama Rasnam. Dia hanya berteman kenangan manis bersama almarhum suaminya. Namun dengan dukungan teman-temannya, dia belajar mengikhlaskan suaminya. Ia bersyukur telah bisa merawat dan mendampingi Rasnam selama ini.

 

Reporter : Eko Huda S

Sumber  : Dream

Lanjutkan Membaca ↓

Live Streaming

Powered by