Panitia Haji Waspadai 'Kenakalan' Jemaah Haji Madura

Oleh Liputan6 pada 08 Agu 2016, 11:05 WIB
Diperbarui 08 Agu 2016, 11:05 WIB
Liputan6.com/Wawan Isab Rubiyanto
Perbesar
Ribuan jemaah calon haji usai salat Isya di Masjid Nabawi, Madinah. (Liputan6.com/Wawan Isab Rubiyanto)

Liputan6.com, Surabaya - Calon haji (calhaj) dari Madura, Jawa Timur akan menjadi kelompok terbang (kloter) paling awal yang berangkat ke Tanah Suci dari Asrama Haji Embarkasi Surabaya, Jatim pada 9 Agutus 2016.

"Calhaj asal Madura ada enam kloter yang diawali jemaah dari Sumenep, lalu Pamekasan, Sampang, dan Bangkalan. Semuanya satu kloter lebih, kecuali Sampang yang tidak sampai satu kloter," ucap Kabid Haji dan Umrah Kanwil Kemenag Jatim HM Sakur di Surabaya, Jatim, seperti dikutip dari Antara, Senin (8/8/2016).

"Kloter pertama dari Sumenep itu rencananya dilepas Gubernur Jatim Soekarwo dari Asrama Haji Embarkasi Surabaya pada Selasa (9 Agustus 2016) pukul 10.30 WIB," sambung dia.

Dia bercerita, berdasarkan pengalaman sebelumnya, calon haji dari Madura biasanya banyak yang membawa barang terlarang, seperti gunting, benda cair, dan lainnya yang dilarang oleh pihak penerbangan. Atau membawa barang dengan jumlah melebihi ketentuan dari Angkasa Pura.

Bahkan, pada musim haji 2012 pernah ada seorang calon haji dari Pamekasan yang kedapatan membawa ratusan buku nikah palsu titipan rekannya yang bekerja di Arab, sehingga batal berangkat dan diproses secara hukum.

"Saya rasa untuk tahun ini kejadian seperti itu tidak akan terulang, karena sosialisasi sudah berkali-kali dilakukan oleh Kemenag setempat. Calhaj pasti sudah paham apa yang dilarang dan barang apa yang diperbolehkan untuk dibawa ke Tanah Suci," tutur HM Sakur.

Tradisi Madura

Menurut Kabid Haji dan Umrah Kemenag Jatim itu, temuan hal yang menyalahi ketentuan penerbangan dari kalangan calhaj Madura biasanya merupakan titipan dari teman atau kerabat calhaj yang bekerja di Arab Saudi.

"Biasanya bawa rokok, tapi kalau cuma bawa rokok satu slop tidak apa-apa, tapi kalau rokok satu koper tentu akan disita," tutur dia.

Sementara itu, pemerhati masalah sosial keagamaan Syarif Hidayat Santoso menuturkan, haji memiliki makna khusus bagi orang Madura. Para haji dalam kultur Madura biasa disebut dengan towan. Karenanya, ada sebutan mas towan, kak towan, buk towan, atau pak towan.

"Ada dua pemaknaan towan di Madura. Secara istilah, towan sama artinya dengan tuan dalam Bahasa Indonesia. Namun, secara kultural, towan merupakan sebutan populer bagi komunitas Indo Arab yang berdomisili di Madura," kata Syarif seperti dikutip dari Antara.

Dengan istilah towan, kata dia, para haji Madura mengikatkan diri pada dua tanah sekaligus, yaitu tanah kelahirannya, Madura, dan tanah kiblat agamanya, Mekah.

Orang-orang Madura, terutama dari desa berbondong-bondong untuk mengiringi pergi dan kembalinya para haji. Setiap haji disambut ratusan penjemput dalam konvoi meriah lengkap dengan nyanyian salawat dan tetabuhan di atas mobil terbuka.

Menjelang keberangkatan, para tamu semakin membeludak. Ibarat orang mau perang, sebelum meninggalkan rumah, para calon haji diazani. Suasana ketika itu senyap. Hanya isak tangis keluarga, tetangga, dan sanak famili. Semua hanyut dalam kesenyapan sembari mendoakan agar si calon haji pulang dengan kemenangan (kemabruran).

Ketika sampai kediaman masing-masing, para haji didoakan hingga mereka datang. Kedatangannya disambut dengan prosesi selamatan yang kalau di desa bisa sampai 40 hari. Selama 40 hari itu, para kerabat dan tetangga datang untuk berkunjung.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya