Temuan Kontroversial, Tengkorak Georgia Mirip Manusia Purba Jawa

Oleh Elin Yunita Kristanti pada 18 Okt 2013, 18:21 WIB
Diperbarui 18 Okt 2013, 18:21 WIB
tengkorak-131018b.jpg
Perbesar
Fragmen kerabat kuno manusia tersebar di seluruh dunia. Seperti Gigi dan juga potongan tulang akan memberikan petunjuk tentang spesies tertentu yang terkait dengan manusia --yang hidup jauh lebih lama ribuan bahkan jutaan tahun lalu.  

Temuan sebuah tengkorak lengkap yang mungkin adalah nenek moyang manusia pastinya akan membuat para ahli paleoantropologi girang. Namun, yang satu ini justru memicu kontroversi.

Diawali dari negara Eropa timur, Georgia. Sekelompok peneliti telah menggali sebuah tengkorak berusia 1,8 juta tahun dari kerabat manusia purba. Tengkorak itu diberi nama Skull 5 --Tengkorak Nomor 5. Temuan itu dilaporkan dalam jurnal ilmiah Science, dan mengatakan bahwa itu termasuk dalam genus manusia, atau yang disebut Homo.

"Ini adalah tengkorak Homo awal yang paling lengkap yang pernah ditemukan di dunia, " kata penulis utama studi David Lordkipanidze dari Georgian National Museum, Tbilisi, seperti dimuat CNN, 17 Oktober 2013.

Fosil yang ditemukan itu merupakan salah satu tengkorak manusia purba yang paling lengkap yang pernah ditemukan. Lengkap dengan gigi besar, rongga otak kecil, dan wajah lonjong.

Skull 5 adalah contoh kelima hominid --mamalia primata bipedal yang berjalan tegak, yang ditemukan di wilayah perbukitan di Dmanisi, Georgia. Peneliti juga menemukan peralatan dari batu dan tulang.

Lalu apa yang memicu kontroversi?

Selama ini, para ilmuwan mengidentifikasi sejumlah spesies manusia purbakala yang berbeda di Afrika dan Eurasia dengan karakteristik unik. Setidaknya, diyakini ada 3 spesies manusia yang hidup hampir pada saat bersamaan.

Sementara, para peneliti mengatakan, fosil di Dmanisi mirip tengkorak yang pernah ditemukan di Afrika dan Eurasia --kemungkinan berasal dari spesies yang sama. Atau dengan kata lain menunjukkan gambaran evolusi bahwa manusia berasal dari satu spesies saja.

Mirip dengan Manusia Purba Jawa

Para peneliti mengatakan, variasi dalam ciri-ciri fisik spesimen hominid dari Dmanisi sebanding dengan tingkat keragaman yang ditemukan pada manusia saat  ini.  

Misalnya, kesamaan antara tengkorak baru dari Georgia dan Homo erectus dari Jawa, Indonesia. Bisa berarti ada "kontinuitas genetik yang melintasi jarak geografis yang luas, " kata studi tersebut .

Terlebih lagi, para peneliti menyarankan bahwa catatan fosil yang telah dianggap spesies Homo berbeda dari periode ini -seperti Homo ergaster, Homo rudolfensis dan Homo habilis- bisa jadi variasi pada satu spesies Homo erectus. Hasil temuan ini menentang pemahaman tentang bagaimana kerabat manusia purba harus diklasifikasikan.

Orang-orang purba Dmanisi, berdasarkan telaah fosil, memiliki kaki panjang dan lengan pendek. Demikian ungkap kata salah satu penulis studi Marcia Ponce de Leon, dari University of Zurich.

Sementara, tempurung otak Skull 5 berukuran 546 centimeter kubik, lebih kecil dari manusia purba lainnya. Namun, justru konsisten dengan apa yang diamati pada manusia modern.

Di masa lalu Dmanisi, peneliti percaya karnivora dan hominid saling berhadapan memperebutkan bangkai hewan. Alat-alat batu tampaknya telah digunakan dalam untuk memotong-motong mangsa. Mirip dengan alat-alat yang telah ditemukan di Afrika.

Skull 5, yang digali pada tahun 2005, telah dicocokkan dengan yang fosil rahang ditemukan pada tahun 2000. Sementara, contoh pertama dari fosil hominid di Dmanisi ditemukan pada tahun 1991.

Jadi apa yang sebenarnya terjadi pada spesies Homo erectus? Zollikofer mengakui, para ilmuwan belum menemukan jawabnya.

"Akan lebih baik untuk mengatakan bahwa itu adalah nenek moyang terakhir dari Neanderthal dan kita-- manusia modern, tapi kita tidak tahu, " kata Zollikofer .

Sementara, sejumlah peneliti menyambut baik temuan fosil-fosil Dmanisi. Tapi beberapa tak sepakat pada gagasan bahwa fosil itu sama dengan Homo erectus dari Afrika dan Asia. Atau bahwa individu Homo dari periode waktu yang sama adalah satu spesies .

Sementara, Ian Tattersall dari divisi antropologi dari  American Museum of Natural History mengatakan, tak bisa dipungkiri fosil Dmanisi adalah spesimen penting Homo erectus, "Jika potongan tengkorak yang ditemukan di Trinil, Jawa, Indonesia, mendefinisikan fitur dari kelompok Homo erectus."

Trinil adalah situs paleoantropologi di Indonesia yang sedikit lebih kecil dari situs Sangiran. Tempat ini terletak di Desa Kawu, Kecamatan Kedunggalar, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur. Trinil merupakan kawasan di lembah Bengawan Solo yang menjadi hunian kehidupan purba, tepatnya zaman Pleistosen Tengah, sekitar satu juta tahun lalu.

Sementara, pakar evolusi manusia Profesor Tim White dari Universitas California, Berkeley, mengatakan penelitian itu mengubah pemahaman tentang evolusi dari manusia purbakala menjadi manusia modern. "Mahkluk yang akan menjadi manusia ini, pada 2 juta tahun lalu sudah sampai di Georgia," kata White seperti dimuat BBC.

"Dan tidak lama setelah itu, menyebar dan keturunan manusia (purba) ini, yang disebut Homo erectus, berkisar dari Spanyol hingga Indonesia," tambahnya. (Ein/Ism)