Lebah `Pembunuh` Menggila di Musim Kawin, 41 Orang Tewas

Oleh Elin Yunita Kristanti pada 03 Okt 2013, 16:07 WIB
Diperbarui 03 Okt 2013, 16:07 WIB
lebah-mematikan-131003b.jpg
Perbesar
Kawanan lebah agresif yang mengganas di musim kawin, merenggut nyawa manusia di China. Jumlah korban terus bertambah.

Lebah-lebah tersebut telah menewaskan 41 orang, melukai 1.675 di 3 kota di Provinsi Shaanxi sejak Juli lalu. Sementara 37 pasien masih menjalani perawatan di rumah sakit, mereka dalam kondisi kritis dan serius.

Selama musim panas dan awal musim gugur, kawanan lebah raksasa menginvasi sekolah yang dipenuhi anak-anak dan menjadikan para petani sebagai target.

Salah satu korbannya adalah Mu Conghui, seorang perempuan yang diserang di Ankang City saat mengawasi tanaman millet -- semacam padi -- miliknya.

"Lebah-lebah itu amat mengerikan," kata dia kepada Xinhua, seperti dimuat CNN, Kamis (3/9/2013). "Mereka menyengat tepat di kepalaku, mereka beramai-ramai menyerang kakiku. Setelah tersengat aku sama sekali tak bisa bergerak."

Kaki Mu Conghui kini dipenuhi lubang bekas sengatan, yang bikin ngeri orang yang melihatnya.

Tak mudah bagi perempuan itu untuk sembuh dari sengatan lebah. Selama 2 bulan, ia menjalani 13 kali cuci darah atau dialisis, 200 jahitan, tapi Mu masih dirawat di rumah sakit dan belum juga bisa menggerakkan kakinya.

Racun sengatan lebah itu tak main-main. Jika masuk ke tubuh manusia, zat itu bisa menimbulkan reaksi alergi dan kegagalan organ multiple yang bisa menyebabkan kematian. Pasien seperti Mu harus menjalani terapi cuci darah untuk membuang racunnya.

Pejabat pemerintahan setempat mengatakan, lebah pembunuh itu berasal dari spesies beracun, ia juga tawon terbesar dunia, yang disebut Asian giant hornet atau Vespa mandarinia.

Dr Wang Xue, direktur unit perawatan intensif First Affiliated Hospital dari Xi'an Jiaotong University sebelumnya memperingatkan pemerintah Shaanxi  bahwa lebah tersebut bakal makin agresif selama September dan Oktober -- di musim kawin. Ancaman baru akan surut Desember nanti, saat lebah-lebah itu hibernasi.

Untuk mencegah jatuhnya korban nyawa, pemerintah setempat mengirim ribuan polisi dan penduduk lokal untuk menghancurkan sarang-sarang lebah. Sejauh ini sudah 710 sarang yang dihancurkan dan setidaknya uang sebanyak 7 juta yuan atau Rp 13 miliar telah dikirimkan ke wilayah terdampak.

Faktor lingkungan dianggap ikut berpengaruh. Cuaca yang sangat kering di wilayah tersebut memudahkan para lebah berkembang biak. Urbanisasi juga jadi faktor lain, ketika manusia pindah dan 'menjajah' habitat tawon.

Orang juga bisa tidak sengaja mengganggu sarang lebah pembunuh, karena biasanya ia berada di tempat tertutup, seperti cekungan pohon atau bahkan di bawah tanah.

Karnivora Tangguh

Pemerintah provinsi telah mengingatkan warga untuk mengenakan baju lengan panjang ketika di luar rumah. Dan, jangan coba-coba kawanan lebah atau merusak sarang mereka .

Vespa mandarinia adalah karnivora pembunuh yang tangguh. Demikian diungkap Honeybee Conservancy. Spesies ini memberi makan anak mereka dengan larva serangga lain, serta menggunakan cakar dan rahang mereka untuk memutuskan anggota badan dan kepala mangsanya .

Hewan itu kerap ditemukan di bagian timur dan tenggara Asia, terutama di Jepang. Sekitar 30 sampai 50 kematian dilaporkan setiap tahun di Negeri Sakura.

Para lebah raksasa tertarik pada warna-warna cerah, bau keringat manusia, aroma alkohol, bau dan rasa manis. Mereka juga sangat sensitif dengan hewan atau orang yang lari. Itu kenapa, makin terbirit-birit orang lari, makin bernafsu mereka mengejarnya.

Di tiap musim kawin, lebah-lebah itu memproduksi rata-rata 10 ribu anak. Mereka berpesta pora dengan memangsa serangga lain seperti kumbang dan lebah madu. Secara terorganisir, mereka melancarkan serangan ke sarang mangsa. (Ein/Yus)

Tag Terkait