Sukses

Media Iran Bantah Polisi Moral Bubar?

Polisi moral Iran tampaknya masih akan terus beraksi.

Liputan6.com, Tehran - Media pemerintah Iran membantah anggapan bahwa polisi moral Iran sudah bubar. Kabar bubarnya polisi moral itu tersebar berdasarkan omongan Jaksa Agung Iran Mohammad Jafar Montazeri. 

Polisi moral di Iran sedang menjadi pusat kontroversi dan sorotan media internasional setelah kematian wanita bernama Mahsa Amini (22).

Berdasarkan laporan Al Arabiya, Senin (5/12/2022), kabar itu sepertinya "dibantah" oleh laporan media pemerintah Iran, yakni Al-Alam.

"Tak ada pejabat di Republik Islam Iran yang telah mengkonfirmasi tentang penutupan polisi moral," jelas Al-Alam.

Lebih lanjut, Al-Alam juga menjelaskan maksud komentar Montezari. Media tersebut berkata Montezari hanya menjelaskan bahwa polisi moral tak punya keterkaitan dengan yudisial.

Al-Alam juga membantah bahwa Iran akan menarik hukum terkait hijab.

 

Para pendemo yang malah telah menuntut agar rezim Iran lengser. Para wanita juga ikut turun ke jalan dan bersuara terkait aturan negara.

Hijab telah menjadi pakaian wajib di Iran tidak lama setelah revolusi 1979. Perempuan yang melanggar berisiko ditangkap oleh polisi moral.

Para perempuan diharuskan menutup rambut mereka di tempat umum, serta memakai baju yang panjang dan longgar. Meski demikian, ada gaya hijab berbeda di Iran.

Sejumlah wanita pun tidak memakai hijab dengan gaya yang terlalu tertutup. Pihak Kedubes Iran di Jakarta juga membantah polisi moral menggunakan cara kekerasan. Pihak kedubes berkata polisi moral menggunakan cara edukatif bagi para pelanggar aturan hijab.

* Follow Official WhatsApp Channel Liputan6.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.

2 dari 4 halaman

Iran Laporkan 200 Orang Tewas dalam Aksi Protes

Presiden Ebrahim Raisi pada Sabtu (3/12) memuji Republik Islam Iran sebagai penjamin hak-hak dan kebebasan. Ia membela sistem kekuasaan di tengah penindakan keras pemerintah terhadap protes-protes anti-pemerintah yang menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) telah menewaskan lebih dari 300 orang.

Sementara, sebuah badan keamanan negara mengatakan bahwa 200 orang, termasuk para anggota pasukan keamanan, tewas dalam kerusuhan itu. Angka tersebut jauh lebih rendah daripada angka yang diberikan oleh PBB dan kelompok-kelompok hak-hak asasi manusia (HAM). 

Dilansir VOA Indonesia, Minggu (4/12), protes-protes itu, yang memasuki bulan ketiga, dipicu kematian Mahsa Amini, seorang perempuan Kurdi berusia 22 tahun. Ia tewas dalam tahanan polisi moral yang menegakkan peraturan jilbab di negara itu.

Demonstrasi itu telah bergulir menjadi revolusi populer oleh rakyat Iran yang diikuti semua lapisan masyarakat. Aksi itu memberikan tantangan paling berat bagi pemimpin negara sejak revolusi 1979.

Sementara itu, sebuah video media sosial memperlihatkan pihak berwenang menghancurkan rumah keluarga Elnaz Rekabi. Ia adalah seorang pendaki yang berkompetisi dalam kontes internasional tanpa mengenakan jilbab pada Oktober. Rekabi mengaku ia tidak sengaja, tapi aksinya dianggap sebagai bentuk dukungan terhadap protes-protes itu.

Media pemerintah pada Sabtu (3/12) mengutip kepala pengadilan di provinsi Zanjan bahwa putusan untuk menghancurkan vila itu telah dikeluarkan empat bulan lalu, karena keluarga itu tidak memiliki izin konstruksi.

3 dari 4 halaman

Kronologi Kematian Mahsa Amini

Berikut kronologi kasus Mahsa Amini seperti dirangkum berbagai sumber: 

13 September 2022: Salah Pakai Hijab 

Berdasarkan laporan AP News, Mahsa Amini ditangkap pada 13 September di Tehran. Ia sebetulnya bukan orang Tehran, tetapi hanya berkunjung dari daerah Kurdi di barat Iran.

Alasan ia ditangkap polisi moral adalah karena tidak memakai hijab dengan benar. Sesuai ketentuan yang berlaku di Iran.  

16 September 2022: Nyawa Melayang

Mahsa Amini kolaps ketika berada di kantor polisi. Tiga hari kemudian ia dinyatakan meninggal dunia.

Polisi membantah melakukan kekerasan pada Mahsa Amini. Penyebab kematian wanita itu disebut karena masalah jantung. 

Namun, Amnesty Iran berkata kematian Mahsa Amini mencurigakan. Mereka meminta adanya investigasi kriminal bagi para polisi moral. 

"Semua agen dan penjabat yang bertanggung jawab harus menghadapi keadilan," tulis Amnesty Iran di Twitter. Protes masyarakat pun dimulai.

17 September 2022: Pemakaman 

Al Arabiya melaporkan Mahsa Amini dimakamkan pada Sabtu, 17 September 2022. Demo juga pecah di hari pemakaman itu. 

Para pendemo berkumpul di di Saqez, kota tempat tinggal Mahsa Amini. Mereka memberikan kecaman kepada pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khomenei.

18 September 2022: Presiden Iran Telepon Keluarga Korban

Pada Minggu (18/9), Presiden Iran Ebrahim Raisi telah menelepon keluarga Mahsa Amini. Menurut laporan situs Iran International, pihak pemerintah berjanji akan menuntaskan kasus ini. 

"Anak perempuanmu dan semua gadis Iran adalah anak-anak saya juga, dan perasaan terhadap insiden ini seperti kehilangan anak-anak tersayang saya," ujarnya.

19 September 2022: Keterangan Polisi vs. Ayah Korban

Ayah dari korban, Amjad Amini, mengaku putrinya dipukuli saat di mobil polisi. Hal itu berbeda dari keterangan polisi yang berkata Mahsa Amini meninggal akibat masalah jantung. 

"Tidak jelas bagaimana ia dipukuli. Para wanita yang berada di ambulans berkata ia dipukul di kepala," ujar Amjad Amini kepada media Kurdi, Rudaw.

Amjad Amini juga menegaskan bahwa kabar di televisi Iran bahwa putrinya kolaps karena penyakit adalah kabar bohong. 

4 dari 4 halaman

Kedubes Iran: Mahsa Amini Meninggal karena Gangguan Otak

Sebelumnya dilaporkan, Kedutaan Besar Iran di Jakarta menyebut bahwa Mahsa Amini meninggal dunia bukan karena kekerasan oleh polisi moral, melainkan karena gangguan otak. Duta Besar Iran Mohammad Azad berkata wanita muda itu punya riwayat penyakit.

Kasus kematian Mahsa Amini memicu kemarahan masyarakat di Iran karena ia disebut meninggal setelah ditangkap polisi moral karena tidak memakai hijab dengan benar. Mahsa Amini berasal dari daerah Kurdistan dan ia sedang berkunjung ke Tehran ketika ditangkap.

Pihak Iran berkata sebanyak 19 ahli kedokteran Iran telah melakukan pemeriksaan dan hasilnya diserahkan ke parlemen.

"Dinyatakan bahwa Mahsa Amini meninggal dunia bukan karena mengalami kekerasan maupun mengalami pemukulan melainkan karena almarhumah ini memiliki riwayat penyakit otak dan gangguan otak," ujar Dubes Iran Mohammad Azad di rumah dinasnya, Rabu malam (19/10).

Dubes Iran berkata biasanya polisi moral mengarahkan orang yang tak taat aturan bakal dibawa untuk ikut course atau bimbingan, kemudian dibolehkan pulang. Pihak Iran berkata kabar Mahsa Amini meninggal karena kekerasan adalah kabar yang disebar Barat. Meski demikian, berita dari Barat dan Timur Tengah  menyebut pihak keluarga Mahsa Amini menuding bahwa wanita itu terkena penganiayaan fisik.

Selanjutnya Dubes Iran menyebut media-media Barat memberikan berita yang menyesatkan dan kabar Mahsa Amini dipukul diberitakan sebelum adanya investigasi. Pihak Iran berkata hasil investasi medis selesai sebulan setelah kematian Mahsa Amini.

Terkait demo hijab yang viral di media sosial, Dubes Iran demonya tidak selarah yang dikabarkan media.

Dubes Iran pun berkata aturan hijab harus ditaati. Polisi moral akan turun tangan jika wanita tidak taat aturan yang berlaku secara kolektif. 

"Melepaskan hijab secara keseluruhan adalah hal yang bertentangan dengan peraturan," tegas Dubes Iran.

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.