Chengdu Berangsur Normal Usai Lockdown Pandemi COVID-19

Oleh Liputan6.com pada 20 Sep 2022, 08:03 WIB
Diperbarui 20 Sep 2022, 08:03 WIB
Penduduk di Kota Chengdu Tes COVID-19
Perbesar
Seorang anak perempuan menjalani tes asam nukleat di Kawasan Industri Modern Chengdu, China (11/12/2020). Kota Chengdu di China memulai pengujian asam nukleat, menyediakan tes gratis untuk semua penduduk di Distrik Pidu, yang melaporkan sejumlah kasus baru COVID-19 sejak pekan ini. (Xinhua)

Liputan6.com, Chengdu - Situasi di Kota Chengdu di tenggara China akan berangsur normal mulai Senin (19/9), setelah penguncian sementara dan pembatasan lain terkait perebakan COVID-19 yang diberlakukan di wilayah tersebut selama lebih dari dua minggu, kata para pejabat lokal pada Minggu (18/9).

Pengumuman itu disampaikan setelah kota berpenduduk lebih dari 21 juta itu pada Kamis (15/9) mencabut kuncitara atau lockdown yang diberlakukan sejak 1 September lalu. Chengdu menjadi kota metropolis terbaru yang dikenai pembatasan sejak kuncitara di Shanghai pada April dan Mei.

"Epidemi telah terkendali dengan efektif," kata pemberitahuan pada Minggu (18/9) tersebut.Pengumuman tersebut juga menyebutkan bahwa kota itu akan terus memperkuat upaya pencegahan COVID lewat beberapa peraturan baru.

Dari tengah malam pada Senin (19/9), transportasi umum dan pekerjaan di kantor-kantor pemerintah dan berbagai institusi dan perusahaan akan dilanjutkan lagi, kata pemberitahuan itu.

Tapi bukti hasl negatif dari tes COVID dalam 72 jam diperlukan untuk memasuki tempat-tempat umum atau untuk menggunakan transportasi umum, sesuai dengan peraturan serupa yang diberlakukan di kota-kota lain seperti Beijing dan Shanghai.

Chengdu China Lanjutkan Lockdown COVID-19

Chengdu adalah kota besar di China yang sempat memperpanjang lockdown setelah Wuhan dan Shanghai.

Dilaporkan VOA, Senin (5/9/2022), kota metropolitan Chengdu memutuskan untuk terus melanjutkan lockdown pada awal September 2022. Sebanyak 21 juta warga terkena dampak lockdown ini.

Tes massal pun digelar oleh pemerintah pada tanggal 5-7 September 2022. Kebijakan drastis yang diambil di Chengdu masih terkait dengan kebijakan zero-COVID di China.

 

**Gempa Cianjur telah meluluhlantakkan Bumi Pasundan, mari bersama-sama meringankan penderitaan saudara-saudara kita di Cianjur dengan berdonasi melalui: rekening BCA No: 500 557 2000 A.N Yayasan Pundi Amal Peduli Kasih. Bantuan akan disampaikan dalam bentuk sembako, layanan kesehatan, tenda, dll. Kepedulian kita harapan mereka.


33 Kota Alami Lockdown

Penduduk di Kota Chengdu Tes COVID-19
Perbesar
Mahasiswa mengantre menjalani tes asam nukleat di Universitas Xihua di Distrik Pidu di Chengdu, China (11/12/2020). Menurut kantor pusat pencegahan dan pengendalian COVID-19 di distrik tersebut, pengujian yang biayanya ditanggung pemerintah distrik ini dimulai pukul 18.00 waktu setempat. (Xinhua)

Menurut majalah finansial China, Caixin, ada 33 kota yang berada di China yang mengalami lockdown parsial atau penuh di China. Totalnya 65 juta kena dampak.

Sementara itu, Kota Shenzhen di China kini dibuka kembali mulai Senin (5/9/2022), setelah mengalami penutupan selama akhir pekan lantaran penyebaran COVID-19. Kini situasi menunjukkan tanda-tanda stabil dalam wabah terbarunya, sementara tempat hiburan dan acara besar tetap ditangguhkan.

Dikutip dari laman Channel News Asia, penyebaran COVID-19 sejak akhir Agustus 2022 mendorong Shenzhen untuk sementara memerintahkan sebagian besar dari 17,7 juta penduduknya untuk sebagian besar tetap di rumah selama akhir pekan dan membuat mereka menjalani dua pengujian massal.

Pembatasan makan dan kunjungan taman tertentu kini telah dilonggarkan, dan banyak stasiun kereta bawah tanah kembali beroperasi. Hal ini dilakukan dalam upaya untuk meminimalkan gangguan transportasi sambil tetap mengikuti kebijakan "dinamis COVID-nol" Beijing yang bertujuan untuk menahan setiap wabah.


Kota Shenzhen Sempat Tutup Pusat Elektronik

Penduduk di Kota Chengdu Tes COVID-19
Perbesar
Mahasiswa mengantre menjalani tes asam nukleat di Universitas Xihua di Distrik Pidu di Chengdu, China (11/12/2020). Menurut kantor pusat pencegahan dan pengendalian COVID-19 di distrik tersebut, pengujian yang biayanya ditanggung pemerintah distrik ini dimulai pukul 18.00 waktu setempat. (Xinhua)

Pihak berwenang di kota Shenzhen, China selatan, menutup pasar elektronik terbesar di dunia Huaqiangbei dan menangguhkan layanan di 24 stasiun kereta bawah tanah pada Senin (29 Agustus) dalam upaya untuk mengekang wabah COVID-19.

Dilansir Channel News Asia, Senin (29/8), tiga bangunan utama di area yang luas, terdiri dari ribuan kios yang menjual microchip, suku cadang telepon, dan komponen lainnya ke produsen, akan tetap ditutup hingga 2 September. 

Pejabat masyarakat setempat mengkonfirmasi penutupan Senin kepada Reuters, sementara tiga orang yang bekerja di sana mengatakan manajer gedung telah menyuruh mereka untuk bekerja dari rumah.

Layanan kereta bawah tanah di 24 stasiun di distrik pusat Futian dan Luohu juga dihentikan, menurut media resmi setempat.

Di Futian, pusat pemerintahan kota, para pejabat mengumumkan bahwa bioskop, bar karaoke, dan taman akan ditutup dan acara publik besar dibatalkan hingga 2 September.

Penutupan perbatasan terkait COVID-19 telah merugikan Huaqiangbei, yang sebelum pandemi disibukkan dengan pengusaha asing yang mencari komponen sumber di China.

Pada hari Senin (29/8), pusat teknologi dari hampir 18 juta orang melaporkan sembilan kasus bergejala dan dua tanpa gejala dari pengujian hari sebelumnya.


Tes COVID-19 Masih Terus Dilaksanakan

FOTO: Aksi Komunitas di China Antar Kebutuhan Warga yang Dikarantina Akibat COVID-19
Perbesar
Staf bersiap untuk mengirimkan air minum yang dipesan warga di perumahan yang dikarantina di Distrik Chenghua, Chengdu, Provinsi Sichuan, China, 10 Desember 2020. Sekitar 70 pekerja komunitas dan sukarelawan ditugaskan untuk mengantarkan kebutuhan sehari-hari para warga di sana. (Xinhua/Shen Bohan)

Tes COVID-19 telah menjadi fitur kehidupan sehari-hari di kota, dengan sebagian besar ruang publik dan kantor memerlukan bukti tes dalam waktu 48 jam untuk masuk, atau dalam waktu 24 jam di area yang dianggap berisiko tinggi.

Sementara kota telah menghindari penutupan total sejak penguncian selama seminggu pada bulan Maret, penghuni kompleks individu telah menjalani karantina selama seminggu ketika kasus positif telah terdeteksi.

Pada Senin pagi, kelurahan Wanxia, ​​yang menyediakan akomodasi murah untuk ribuan pekerja berupah rendah seperti sopir pengiriman dan buruh, ditutup sebagai tindakan pencegahan COVID-19, meskipun tidak ada kasus positif yang dilaporkan di sana.

China melaporkan 1.696 infeksi COVID-19 baru pada 28 Agustus, di mana 352 di antaranya bergejala dan 1.344 tidak menunjukkan gejala, Komisi Kesehatan Nasional mengatakan pada hari Senin. 

Infografis Klaim China Vs Indonesia Terkait Laut China Selatan. (Liputan6.com/Trieyasni)
Perbesar
Infografis Klaim China Vs Indonesia Terkait Laut China Selatan. (Liputan6.com/Trieyasni)
Lanjutkan Membaca ↓

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya