Peneliti Australia-Indonesia Temukan Fosil Bukti Amputasi Tubuh Manusia di Kalimantan Timur

pada 11 Sep 2022, 18:35 WIB
Diperbarui 11 Sep 2022, 18:35 WIB
Penggalian arkeologi menemukan adanya tindakan amputasi yang dilakukan 31 ribu tahun lalu di kawasan yang sekarang disebut Kalimantan Timur.(Supplied: Tim Maloney/ABC Australia)
Perbesar
Penggalian arkeologi menemukan adanya tindakan amputasi yang dilakukan 31 ribu tahun lalu di kawasan yang sekarang disebut Kalimantan Timur.(Supplied: Tim Maloney/ABC Australia)

, Melbourne - Terkuak, amputasi pada tubuh manusia ternyata pernah dilakukan 31 ribu tahun lalu. Hal itu diketahui dari temuan sebuah fosil dalam penggalian arkeologi di Kalimantan Timur.

Mengutip ABC Australia, Minggu (11/9/2022), temuan itu memberikan bukti jika amputasi pada tubuh manusia pernah dilakukan 31 ribu tahun lalu.

Fosil manusia tersebut tidak memiliki bagian bawah di kaki kirinya, yang menunjukkan sudah dipotong dengan alat tajam dari batu ketika masih kanak-kanak.

Hasil pengecekan menunjukkan fosil tersebut berusia 31 ribu tahun, 20 ribu tahun lebih tua dibandingkan amputasi tulang yang pernah ditemukan sebelumnya di Prancis.

Temuan lainnya adalah, fosil manusia yang ditemukan di gua di Kalimantan Timur tersebut tidak meninggal setelah menjalani operasi, malah ia bertahan hidup sampai 10 tahun sebelumnya.

Penemuan fosil tersebut dipublikasikan di jurnal Nature yang terbit Kamis 8 September.

Tim Maloney arkeolog dari Griffith University di Queensland, salah seorang penulis laporan, mengatakan amputasi yang berhasil dilakukan tersebut menunjukkan nenek moyang kita, paling tidak yang hidup di Kalimantan, sudah mengerti konsep medis yang kompleks ketika itu.

"Tidak saja operasi dan kompleksnya memisahkan tulang kaki bagian bawah seorang anak, namun juga ada bukti mereka mengerti mengenai bagaimana mencegah terjadinya infeksi sehingga memungkinkan pasien tetap bertahan hidup," kata Dr Maloney.

Ia menambahkan kemampuan anak tersebut untuk mampu bertahan hidup sampai menjelang dewasa, menunjukkan adanya perawatan setelah operasi serta dukungan lainnya untuk bisa hidup di daerah pegunungan tersebut.

"Orang ini sangat dihargai di komunitasnya. Kecil kemungkinan dia bisa bertahan hidup tanpa perawatan yang bagus dari komunitasnya."

Penggalian di Liang Tebo ini, Kalimantan Timur ini adalah bagian kerja sama tim peneliti dari Griffitth University, Australia dan Pusat Arkeologi Nasional Indonesia.

 

 

**Gempa Cianjur telah meluluhlantakkan Bumi Pasundan, mari bersama-sama meringankan penderitaan saudara-saudara kita di Cianjur dengan berdonasi melalui: rekening BCA No: 500 557 2000 A.N Yayasan Pundi Amal Peduli Kasih. Bantuan akan disampaikan dalam bentuk sembako, layanan kesehatan, tenda, dll. Kepedulian kita harapan mereka.


Penemuan yang Jarang, Apalagi Kasus Amputasi

Siswa SD
Perbesar
Ilustrasi Kalimantan. (merdeka.com/Imam Buhori)

Seperti banyak gua lainnya di kawasan pegunungan terpencil tersebut, banyak ditemukan seni kuno yang ditemukan, seperti lukisan tangan yang menunjukkan sudah adanya peradaban di sana sampai sekitar 40 ribu tahun lalu.

Penggalian di Liang Tebo ini adalah bagian kerja sama tim peneliti dari Griffitth University dan Pusat Arkeologi Nasional Indonesia.

Adhi Agus Oktaviana merupakan salah seorang peneliti asal Indonesia yang terlibat dalam survei lukisan gua yang ada di kawasan tersebut.

"Ketika kita menemukan dari sampel fosilnya, bahwa usianya begitu tua, ya kita senang sekali," katanya kepada Sastra Wijaya dari ABC Indonesia.

Menurutnya, publikasi mengenai lukisan gua sudah pernah dilakukan sebelumnya dan kalangan peneliti di Indonesia mempertanyakan usia lukisan gua di sana.

"Jadi dari tahun 2014 sampai 2019 dipertanyakan di Indonesia lukisan gua ini kok umurnya tua sekali," kata Adhi yang sekarang melanjutkan pendidikan doktoral di Griffith University namun berbasis di Jakarta.

"Peneliti sebelumnya memperkirakan lukisan gua tersebut berasal dari zaman lain," katanya.

"Sekarang dengan penemuan kubur di Liang Tebo ini sudah ada bukti bahwa manusia yang hidup satu zaman dengan lukisan gua tersebut."Selain itu menurut Adhi Agus, penemuan mengenai tindakan amputasi tersebut memperkokoh pendapat jika orang di Nusantara dulu bisa mengobati orang lain.

Namun siapa yang menguburkan fosil tersebut masih menjadi misteri.

Para arkeolog sebelumnya sudah banyak menemukan berbagai artefak seperti peralatan dari batu, namun fosil manusia jarang sekali ditemukan.

Ini disebabkan karena kawasan tersebut adalah daerah tropis di mana jasad bisa rusak dengan cepat atau dimakan serangga sebelum berhasil ditemukan.

Bahkan bila dikuburkan di bagian kawasan bebatuan yang lebih terlindungi dan lebih dingin, hal tersebut bukanlah hal yang ideal.

Ini disebabkan karena keasaman tanah, disebabkan karena kotoran dari kelelawar yang tinggal di dalam gua-gua tersebut.


Temuan 2020, Kerja Sama Peneliti Australia dan Indonesia

Penggalian di tahun 2020 Peneliti asal Indonesia Andika Priyatno (kiri) dan Tim Maloney dari Griffith University sedang melakukan penggalian. (Supplied: Tim Maloney/ABC Australia)
Perbesar
Penggalian di tahun 2020 Peneliti asal Indonesia Andika Priyatno (kiri) dan Tim Maloney dari Griffith University sedang melakukan penggalian. (Supplied: Tim Maloney/ABC Australia)

Jadi di tahun 2020, ketika ditemukannya fosil dari manusia tersebut, kemungkinan berusia 20 tahun, Dr Maloney dan para peneliti lain dari Australia dan Indonesia menduga mereka menemukan seseorang yang berasal dari tahun yang sama dengan mereka yang melukis gua.

Pengecekan sedimen di sekitar penemuan, serta dari salah satu gigi manusia tersebut menunjukkan ia hidup sekitar 31 ribu tahun lalu.

Ini tidak saja konsisten dengan lukisan gua dan penemuan barang-barang seni di kawasan tersebut, namun juga pemakaman manusia modern tertua di Asia Tenggara.

Ketika para arkeolog melakukan penggalian dengan hati-hati mereka menemukan bahwa yang hilang adalah bagian bawah kaki kirinya.

Bagian yang masih ada tampak seperti telah dipotong dengan benda tajam namun keadaannya masih bagus.

Hal ini menunjukkan amputasi mungkin dilakukan antara enam sampai delapan tahun sebelum orang ini meninggal, yang artinya terjadi ketika masih kanak-anak atau remaja.

Menurut Dr Maloney, bentuk tulang fosil tersebut berbeda dibandingkan misalnya bagian kaki yang digigit binatang atau terhimpit batu.

"Biasanya ketika tulang retak karena kejatuhan batu atau misalnya digigit binatang, seperti buaya, bentuknya tidak sama dengan apa yang kami temukan dari fosil di Liang Tebo," katanya.

Namun mengenai apa yang digunakan untuk melakukan amputasi masih belum diketahui.

Alat Amputasi Pakai Batu Tajam

Besar kemungkinan adalah potongan batu yang tajam, kata Renaud Joannes-Boyau pakar dari Southern Cross University yang melakukan penentuan usia fosil tersebut.

"Sudah pernah ditemukan peralatan batu dari zaman pra sejarah yang begitu tajamnya, yang bisa dengan gampang melukai badan kita."

"Dan kalau kita harus memotong bagian sendi atau antar tulang, maka besar kemungkinan diperlukan peralatan lainnya juga.

"Tetapi kami tidak mengetahui dengan pasti peralatan apa yang digunakan."

 


Lebih Banyak Lagi yang Bisa Terungkap

Siswa SD
Perbesar
Ilustrasi Kalimantan Timur.(merdeka.com/Imam Buhori)

Di saat manusia yang tinggal di Liang Tebo tersebut hidup dan meninggal, dunia berada di zaman es dengan permukaan laut lebih rendah dibandingkan sekarang sehingga banyak pulau di Asia Tenggara saling bersatu.

Dalam waktu bersamaan di Eropa, ada juga bukti tindakan amputasi jari tangan namun dengan alasan berbeda.

Menurut arkeolog dari La Trobe University di Melbourne, Andy Herries, tapi tidak ikut dalam penelitian di Liang Tebo, di kawasan selatan Polandia bernama Oblazowa ditemukan beberapa jari tangan tanpa potongan tubuh lain.

"Ini sudah diduga oleh mereka yang menemukan sebagai bukti adanya jari tangan yang diamputasi," katanya.Tetapi katanya, kalau memang itu kemungkinan terbesarnya, "mereka melakukannya untuk alasan yang sangat berbeda, mungkin melakukan untuk alasan simbolis".

"Apa yang  terjadi di Liang Tebo tampaknya tindakan untuk menyelamatkan hidup dan ini adalah bukti pertama yang kita dapatkan mengenai intervensi medis dalam tingkat secanggih ini."

Pendalaman Fosil

Menurut Dr Joannes-Boyau, para peneliti masih akan terus mendalami penemuan fosil tersebut untuk menentukan pasti berapa usianya ketika orang tersebut diamputasi, dengan melakukan penelitian lebih mendalam terhadap giginya.

Dan para arkeolog yang dipimpin oleh Profesor Maxime Aubert dari Griffith Universitas masih terus melakukan penggalian di Liang Tebo dan berharap menemukan temuan bersejarah baru.

"Kami akan melakukan lebih banyak penggalian juga lebih dalam ke dasar gua, dan lebih luas juga, kami berharap akan menemukan banyak hal baru," kata Profesor Aubert.

Infografis Wanti-Wanti Euforia Boleh Lepas Masker
Perbesar
Infografis Wanti-Wanti Euforia Boleh Lepas Masker (Liputan6.com/Trieyasni)
Lanjutkan Membaca ↓

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya