Erdogan Khawatir Bencana Chernobyl Akibat Perang di Fasilitas Nuklir Ukraina

Oleh Tommy Kurnia pada 19 Agu 2022, 06:31 WIB
Diperbarui 19 Agu 2022, 07:03 WIB
Secercah Harapan dan Ketakutan dari Desa di Ukraina Dekat Perbatasan Rusia-AFP
Perbesar
Prajurit unit pasukan khusus Ukraina Kraken berbicara dengan seorang pria di jembatan yang hancur di jalan dekat desa Rus'ka Lozova, utara Kharkiv, pada 16 Mei 2022. Ukraina mengatakan pasukannya telah menguasai kembali wilayah di Perbatasan Rusia dekat kota terbesar kedua di negara itu Kharkiv, yang terus-menerus diserang sejak invasi Moskow dimulai. (Dimitar DILKOFF / AFP)

Liputan6.com, Lviv - Sekretaris Jenderal Antonio Guterres mengaku sangat khawatir atas pertempuran dekat fasilitas nuklir Zaporizhzhia di bagian selatan Ukraina.

Apabila fasilitas tenaga nuklir itu terkena dampak serangan, maka sama saja dengan bunuh diri.

"Adanya potensi kerusakan ke Zaporizhzhia adalah bunuh diri," ujar Guterres, dikutip BBC, Jumat (19/8/2022).

Pandangan itu disampaikan Guterres saat bertemu Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky dan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan di kota Lviv, Ukraina.

Presiden Erdogan menyampaikan pemikiran serupa. Ia bahkan mengkhawatirkan adanya "Chernobyl" lain akibat dampak pertempuran dekat fasilitas nuklir tersebut.

Bencana Chernobyl terjadi pada 1986 di wilayah Ukraina yang dulu bagian dari Uni Soviet. Dampak bencana tersebut masih dirasakan bertahun-tahun usai kejadian. Pada 2006, WHO memperkirakan kematian tidak langsung akibat Chernobyl mencapai 9.000 orang karena kanker yang dipicu kontaminasi nuklir.

Turki yang merupakan anggota NATO memiliki kepentingan yang kuat untuk meredakan perang Rusia-Ukraina. Pasalnya, kedua negara tersebut adalah mitra dagang penting bagi Turki. Pada Juli 2022, Turki terlibat dalam perjanjian fasilitasi pengiriman gandum yang melibatkan PBB dan Rusia-Ukraina.

Sementara, Presiden Zelensky menyalahkan bahwa Rusia sengaja menyerang fasilitas tenaga nuklir tersebut. Rusia dituduh menjadikan fasilitas itu sebagai markas tentara.

Zelensky, Erdogan, dan Guterres meminta agar pihak Rusia melakukan demiliterisasi di zona tersebut secepat mungkin.

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.


Markas Pasukan Rusia Bocor di Media Sosial, Ukraina Kirim Roket

Pertemuan tete-a-tete antara Presiden Jokowi dengan Presiden Zelensky di Istana Maryinsky, Kiev, Ukraina. (Laily Rachev - Biro Pers Sekretariat Presiden)
Perbesar
Pertemuan tete-a-tete antara Presiden Jokowi dengan Presiden Zelensky di Istana Maryinsky, Kiev, Ukraina. (Laily Rachev - Biro Pers Sekretariat Presiden)

Roket Ukraina menghancurkan markas dari pasukan paramiliter Rusia bernama Wagner. Lokasi markas Wagner terkuak secara tidak sengaja di media sosial.

Menurut laporan BBC, Selasa (16/8), Wagner adalah sebuah PMC (private military company) yang bertindak sesuai kepentingan Rusia. Wagner pernah juga dikirim ke Suriah, Libya, dan Mali. Pihak Rusia membantah eksistensi grup tersebut. 

Di tengah perang Ukraina-Rusia, pasukan Wagner di Popasna, Luhansk. Lokasinya tersebar ketika jurnalis pro-Rusia menyebar foto lima tentara di depan markasnya, namun di sisi foto ada alamat yang terlihat.

Lokasi Popasna berada di selatan Severodonetsk di Luhansk. Daerah itu kini diduduki Rusia. Meski foto yang tersebar sudah dihapus, salinannya terlanjur tersebar luas.

Gubernur Luhansk, Serhiy Hayday, berkata lokasi markas Wagner memang terkuak gara-gara foto tersebut. Hayday berkata jumlah korban tewas masih dicari tahu.

Putin's Chef

Jurnalis pro-Rusia bernama Kotenok menulis di Telegram bahwa serangan memang dilancarkan ke lokasi Wagner di Popasna. Ia menduga bahwa Ukraina menggunakan HIMARS (High Mobility Artillery Rocket System) dari Amerika Serikat.

Grup Wagner itu terkait dengan sosok bernama Yevgeny Prigozhin yang dijuluki sebagai "Putin's Chef" sebab ia mendukung Putin dan militer melalui bisnis katering miliknya. Ada kabar ia tewas dalam serangan Ukraina ini, namun belum ada bukti.

Yevgeny Prigozhin juga kena sanksi AS. Pria kelahiran 1961 itu juga sedang dicari-cari oleh FBI karena kasus terkait Federal Election Commission.

Data FBI menyebut Prigozhin punya koneksi ke Indonesia dan Qatar. Ia juga pendiri dari Internet Resesarch Agency (IRA). FBI menyediakan hadiah hingga US$ 250 ribu bagi yang punya informasi tentang Prigozhin.

 

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS


Rusia Pertimbangkan Putus Hubungan dengan Amerika Serikat, Imbas Perang Ukraina

Joe Biden Akhiri Isolasi COVID-19
Perbesar
Presiden Amerika Serikat Joe Biden berbicara di Taman Mawar Gedung Putih, Washington, Amerika Serikat, 27 Juli 2022. Dokter kepresidenan Kevin O'Connor mengatakan meski sudah tak menjalani isolasi, Biden akan mengenakan masker selama 10 hari ketika berada di sekitar orang lain. (AP Photo/Susan Walsh)

Sebelumnya dilaporkan, Kementerian Luar Negeri Rusia mempertimbangkan untuk memutus hubungan bilateral dengan Amerika Serikat jika Negeri Paman Sam terus menetapkan sanksi dan menyita aset-aset Moskow.

Penyitaan aset Rusia oleh Amerika Serikat akan menghancurkan hubungan bilateral Moskow dengan Washington, kantor berita negara Rusia TASS mengutip seorang kepala departemen kementerian luar negeri Rusia mengatakan, dikutip dari MSN News, Minggu (14/8).

Itu terjadi ketika para pejabat tinggi Barat telah menyarankan untuk menyita cadangan Rusia yang dibekukan untuk membantu mendanai rekonstruksi Ukraina di masa depan.

"Kami memperingatkan Amerika tentang konsekuensi merugikan dari tindakan semacam itu yang akan secara permanen merusak hubungan bilateral, yang tidak ada dalam kepentingan mereka - atau untuk kepentingan kami," kata Alexander Darchiev, kepala departemen Kementerian Amerika Utara. Tidak jelas aset mana yang dia maksud.

Sementara itu, Darchiev mengatakan keterlibatan Washington di Ukraina telah meningkat ke tingkat bahwa "orang Amerika semakin menjadi pihak langsung dalam konflik."

Dia juga mengatakan bahwa, jika AS memilih Rusia sebagai "sponsor negara terorisme," hubungan dengan Washington akan melewati titik tidak bisa kembali.

Dua senator AS yang berusaha meloloskan undang-undang yang menunjuk Rusia seperti itu mengunjungi Kyiv bulan lalu untuk membahas RUU itu dengan Presiden Volodymyr Zelensky.


Menhan Inggris Sebut Rusia Semakin Sulit untuk Menduduki Ukraina

Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky dalam kunjungan ke garis depan wilayah Odesa dan Mykolaiv.
Perbesar
Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky dalam kunjungan ke garis depan wilayah Odesa dan Mykolaiv.  Dok: Situs resmi Presiden Ukraina.

Menteri Pertahanan Inggris mengatakan bahwa Rusia sekarang tidak mungkin berhasil menduduki Ukraina.

Menhan Ben Wallace mengatakan bahwa invasi Rusia ke Ukraina telah "goyah" dan "mulai gagal", ketika ia menjanjikan lebih banyak dukungan keuangan dan militer untuk pertahanan negara Eropa timur itu, demikian seperti dikutip dari MSN News, Sabtu (12/8).

Denmark bergabung dengan Inggris dalam menawarkan lebih banyak bantuan ke Ukraina pada sebuah konferensi di Kopenhagen pada hari Kamis, yang diselenggarakan bersama oleh Wallace.

Menteri Pertahanan mengatakan penting untuk memahami bahwa pertempuran dan hilangnya nyawa masih terjadi, tetapi menambahkan Rusia "mulai gagal di banyak bidang".

Dia menambahkan: "Mereka telah gagal sejauh ini dan tidak mungkin pernah berhasil menduduki Ukraina.

"Invasi mereka telah goyah dan terus-menerus dimodifikasi ulang sejauh mereka benar-benar hanya berfokus di bagian selatan dan di timur, sangat jauh dari apa yang disebut operasi khusus tiga hari mereka.

"Tiga hari sekarang lebih dari 150 hari dan hampir enam bulan, dengan kerugian besar yang signifikan dari kedua peralatan dan memang personel Rusia."

Menteri Pertahanan juga mengatakan: "Presiden Putin akan berjudi pada Agustus, datang beberapa bulan, kita semua akan bosan dengan konflik dan komunitas internasional akan pergi ke arah yang berbeda. Nah, hari ini adalah bukti sebaliknya.

"Kami telah keluar dari pertemuan ini dengan lebih banyak janji keuangan, lebih banyak janji pelatihan dan lebih banyak janji bantuan militer, semuanya dirancang untuk membantu Ukraina menang, untuk membantu Ukraina membela kedaulatannya dan memang untuk memastikan bahwa ambisi Presiden Putin gagal di Ukraina sebagaimana mestinya."

Infografis Rencana Kunjungan Jokowi ke Ukraina-Rusia di Tengah Konflik
Perbesar
Infografis Rencana Kunjungan Jokowi ke Ukraina-Rusia di Tengah Konflik (Liputan6.com/Triyasni)
Lanjutkan Membaca ↓

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya